Namun, sebenarnya alih-alih disebut “takut”, orang dengan trypophobia cenderung hanya merasa jijik dan tidak nyaman, tetapi masih bisa menjalani aktivitas secara normal. Oleh karena itu, trypophobia belum terdaftar secara resmi sebagai gangguan mental, dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder.
Temui Psikiater
Mengutip Hallodoc.com (24/08/2023), disebutkan bahwa orang dengan trypophobia umumnya merasa jijik ketika melihat sarang lebah, mengkudu, spons, coral, stroberi, delima, gelembung, biji teratai, mata yang banyak pada serangga, hewan yang berkulit atau berbulu tutul, dan lainnya. Gejala dapat muncul ketika melihat sekelompok lubang kecil dalam bentuk apapun.
Beberapa gejala yang dapat dialami umumnya adalah perasaan jijik, merinding, dan tidak nyaman. Namun, jika kamu mengalami berbagai gejala yang cukup parah seperti serangan panik, berkeringat, mual dan muntah, tubuh bergetar, sesak napas, detak jantung cepat, dan gatal-gatal, sebaiknya segera temui psikiater.
Gunakan aplikasi seperti Halodoc untuk membuat janji dengan psikiater di rumah sakit, guna menjalani pengobatan yang dibutuhkan. Psikiater umumnya dapat melakukan terapi, memberi resep obat-obatan, atau mengajarkan teknik pernapasan dan rileksasi yang dapat dilakukan ketika serangan gejala trypophobia terjadi.
Cara Mengatasi Trypophobia
Agar kondisi tidak semakin memburuk, trypophobia perlu diatasi. Berikut ini beberapa cara untuk mengobati trypophobia:
-
Terapi paparan. Tujuan dari terapi ini adalah untuk mengubah respons terhadap situasi atau objek yang membuat takut, dengan cara menghadapkan pengidap trypophobia pada hal yang ditakutinya.
-
Terapi perilaku kognitif. Tujuan dari terapi ini adalah untuk membantu mengelola kecemasan dan menjaga pikiran agar tidak berlebihan.
Tentunya, berbagai terapi tersebut baru bisa dilakukan jika kamu berkonsultasi pada psikiater atau psikolog. Selain itu, ada beberapa pengobatan lain yang juga dapat dilakukan untuk mengelola fobia, yaitu:
-
Terapi wicara dengan psikiater.
-
Obat-obatan untuk membantu mengurangi kecemasan.
-
Teknik relaksasi.
-
Melakukan olahraga untuk mengelola kecemasan.
-
Istirahat yang cukup.
-
Mengonsumsi makanan sehat.
-
Menghindari kafein.
-
Bercerita pada keluarga atau orang terdekat untuk mendapat dukungan.
Penyebab Trypophobia
Penyebab pasti dari trypophobia belum diketahui. Terlebih, penelitian tentang fobia jenis ini juga masih terbatas. Namun, pada penelitian 2013, trypophobia disebut sebagai perpanjangan dari ketakutan biologis terhadap hal berbahaya.
Pengidapnya dianggap secara tidak sadar mengaitkan benda-benda berlubang yang tidak berbahaya dengan hewan tertentu yang memiliki pola berlubang di tubuhnya.
Namun, sebuah studi pada 2017 membantah pernyataan tersebut. Studi tersebut dilakukan dengan melakukan survei, untuk melihat apakah ketakutan didasarkan pada hewan berbahaya atau menjadi respons terhadap visual atau penampilan hewan tersebut.
Hasilnya, orang dengan trypophobia bukan memiliki rasa takut terhadap hewan berbahaya. Melainkan, rasa takut yang dialami dipicu oleh penampilan hewan tersebut. Jadi, orang dengan trypophobia memang mengalami ketidaknyamanan ketika dihadapkan dengan hal yang menyebabkan fobia.
Para peneliti meyakini ketidaknyamanan itu tidak terkait dengan alam bawah sadar mereka. Meski begitu, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan mengapa trypophobia bisa terjadi.
Umumnya, trypophobia tidak mengganggu aktivitas, dan pengidapnya masih bisa mengendalikan kondisi dengan cara menghindari objek-objek yang memicu ketakutan. Namun, jika trypophobia yang kamu alami sudah sangat mengganggu, tidak ada salahnya untuk menemui psikiater. ***
Komentar