Breaking News

SELEBRITI Keluarga Matthew Perry Bongkar Kelakuan Palsu sang Asisten di Pemakaman Bintang 'Friends' 21 May 2026 21:33

Article image
Menjelang sidang vonis 27 Mei mendatang, surat kesaksian dampak korban (victim impact statements) dari ibu dan saudari Matthew Perry mengungkap skenario kebohongan Kenneth Iwamasa

JAKARTA IndonesiaSatu.co – Keluarga mendiang aktor legendaris serial Friends, Matthew Perry, tidak lagi menahan rasa sakit hati dan kemarahan mereka atas pengkhianatan yang dilakukan oleh Kenneth Iwamasa, mantan asisten pribadi sekaligus sosok yang telah dianggap teman dekat selama 25 tahun oleh sang aktor.

Menjelang sidang pembacaan vonis hukum terhadap Iwamasa yang dijadwalkan pada 27 Mei 2026, ibu kandung Perry, Suzanne Morrison, bersama dua saudara perempuannya, Caitlin dan Madeline, resmi menyerahkan surat kesaksian dampak korban (victim impact statements) kepada hakim. Dokumen tersebut melukiskan gambaran yang sangat mengerikan mengenai perilaku manipulatif Iwamasa pasca-kematian tragis Perry akibat overdosis ketamin pada tahun 2023 lalu.

Sebagai informasi teknis hukum, Kenneth Iwamasa telah menyatakan mengaku bersalah pada tahun 2024 atas satu tuduhan konspirasi untuk mendistribusikan ketamin yang menyebabkan kematian. Pihak jaksa penuntut umum saat ini mengajukan tuntutan hukuman 41 bulan (hampir 3,5 tahun) penjara.

Sikap Manik di Rumah Duka dan "Pidato Palsu" di Pemakaman

Dalam dokumen pengadilan, adik perempuan Perry, Madeline, mengenang momen paling memilukan saat dirinya harus datang ke rumah sang kakak untuk memilih baju pemakaman. Di sana, ia mulai menangkap gelagat aneh dari Iwamasa:

  • Gelagat Tidak Tenang: Iwamasa tampak sangat manik, gelisah, dan terus-menerus menceritakan kronologi kejadian versi dirinya sendiri tanpa diminta oleh keluarga, seolah-olah ia sedang diwawancarai oleh media massa dan bukan sedang berduka.
  • Manipulasi Narasi: "Saat itu saya mengira dia hanya syok karena berduka. Realitasnya, dia sedang mencoba mengalihkan perhatian kami dari kebenaran: bahwa dialah yang telah menyuntikkan ketamin dosis mematikan ke tubuh kakak saya dan meninggalkannya di dalam bak mandi air panas (hot tub) hingga tewas," tulis Madeline.

Kemarahan keluarga memuncak saat prosesi pemakaman berlangsung. Ibu Perry, Suzanne Morrison (istri dari koresponden terkenal Dateline NBC, Keith Morrison), mengungkapkan bahwa Iwamasa bersikeras untuk maju dan memberikan pidato penghormatan di hadapan para pelayat.

"Orang yang bertanggung jawab atas kematian saudara laki-laki saya berdiri dan berpidato di depan orang-orang yang paling mencintai Matthew. Itu adalah lelucon kejam yang masih sulit saya terima hingga hari ini. Dia tidak hanya merenggut nyawa kakak saya, tapi juga menodai memori terakhir kami untuk mengucapkan selamat tinggal," tulis Madeline dalam suratnya.

Mengincar Uang Warisan Hingga Ancaman Hukum

Suzanne Morrison juga membeberkan bahwa pasca-pemakaman, Iwamasa terus mencoba menempel pada pihak keluarga dengan berpura-pura menjadi "orang baik". Ia kerap mengirimkan lagu, menggambar peta pemakaman untuk membantu Suzanne, hingga menelepon setiap kali melihat pelangi—salah satu hal yang paling disukai Matthew Perry.

Namun, kedok tersebut runtuh ketika Iwamasa menyadari bahwa dirinya tidak akan mendapatkan bagian atau santunan finansial dari harta warisan aset peninggalan (estate) Matthew Perry.

  • Pembalikan Sikap: Begitu mengetahui tidak ada keuntungan finansial dari kematian Perry, Iwamasa mendadak berbalik arah dan mengancam akan mengambil tindakan hukum melalui kompensasi pekerja (workmen's comp) demi memeras uang penyelesaian (settlement).
  • Pernyataan Ibu: "Kami telah memercayai seorang pria yang tidak memiliki hati nurani, dan putra saya harus membayar harga tersebut dengan nyawanya," tegas Suzanne.

Saudari Perry lainnya, Caitlin Morrison, yang kini memimpin yayasan nirlaba Matthew Perry House, menyatakan secara tegas bahwa dirinya tidak memiliki rasa simpati sedikit pun terhadap Kenneth Iwamasa setelah melihat bagaimana pria tersebut terus mengusik ketenangan keluarga yang sedang berduka.

--- Stella Josephine

Komentar