Breaking News

SENI BUDAYA Awais Sheikh, James Donovan, dan Yap Thiam Hien: Pilihan Seorang Pengacara 18 Oct 2016 06:22

Article image
Tom Hanks memerankan James B. Donovan (inset) dalam “Bridge of Spies”. (Foto: ist)
Tiga tokoh di bawah ini ini sangat jelas dan tegas memberikan pesan bagi para pengacara untuk membela klien bukan karena mengejar kemenangan namun karena ingin membela kemanusiaan.

Oleh Hendro Meze Doa

Sarbjit adalah sebuah film India berlatar belakang sejarah. Sejarah konflik yang terus terjadi antara India dan Pakistan. Sebuah konflik yang terkadang dikaitkan dengan persoalan keagamaan. Pakistan dengan agama Islamnya, India dengan agama Hindunya. Sebuah film yang diangkat dari sebuah kisah nyata tentang perjuangan seorang wanita bernama Dalbir Kaur (Aishwarya Rai Bachchan) yang terus berusaha mencari keberadaan saudaranya “Sarbjit” yang tertangkap di daerah Pakistan. Sarbjit yang sedang mabuk, setengah sadar, menerobos batas wilayah Pakistan yang saat itu hanya dibatasi tiang-tiang batu tanpa adanya kawat. Saudara laki-lakinya ini dipaksa untuk mengiakan bahwa dirinya adalah seorang pelaku bom yang telah menewaskan banyak warga Pakistan.

Selama 22 tahun lebih, perempuan ini berjuang untuk mengembalikan saudaranya. Berbagai cara sudah diupayakan namun karena situasi politik, keamanan, ketegangan antar dua negara, pergantian pemimpin semuanya terasa menjadi sia sia. Perjuangan tanpa kenal lelah berbuah pada pertemuan mereka di penjara Pakistan.

Inti dari film ini adalah perjuangan sang perempuan untuk mengembalikan saudaranya ke India. Namun pada kesempatan ini, saya hendak mencoba mengajak kita untuk melihat salah satu tokoh pendukung bernama Awais Sheik yang merupakan seorang pengacara berkebangsaan Pakistan. Ketika banyak pengacara setengah hati atau tidak mau membantu Dalbir untuk membebaskan Sarbjit, Awais Sheik mengajukan dirinya untuk membantu Dalbir yang berasal dari India, seorang Hindu. Ini adalah sebuah tindakan yang berani. Tindakan yang berani? Ya, sebuah tindakan yang berani. Karena pada saat itu, situasi India dan Pakistan sedang bergejolak. Bila ada tindakan mendukung negara tetangganya maka itu akan dianggap sebagai sebuah tindakan penghianatan. Sebuah tindakan yang kontra nasionalisme.

Ujung dari tindakan ini adalah kematian. Dan benarlah, selepas keterlibatannya dalam membantu Dalbir, Awais Sheik mendapatkan tindakan penganiayaan. Tak hanya itu saja, ia juga mendapatkan surat kematian dari Taliban Pakistan. Apakah ini sebuah kepeduliaan kemanusiaan yang bablas, tanpa pertimbangan? Apakah ini sebuah tindakan mencari sensani dan popularitas? Rupanya semuanya itu tidak termasuk dalam radar pemikiran Awais Sheik. Setidaknya berdasarkan karakter yang muncul selama film ini. Baginya, Dalbir, terutama Sarbjit perlu dan berhak untuk dibela. Kebenaran harus ditegakkan dan diperjuangkan. Bila nyawa taruhannya, maka ia sanggup menyabutnya.

Di daratan lainnya, pada waktu yang lain, tampillah seorang pria bernama James Donovan (Tom Hanks). Dalam film Bridge of Spies berlatar sejarah perang dingin Amerika Serikat-Uni Soviet, James Donovan muncul menjadi seorang pengacara bagi Abel. Abel, seorang pria yang dituduh sebagai mata-mata Uni Soviet. Awalnya Donovan menolak untuk menjadi pengacara Abel. Ia sangat paham bahwa risiko yang akan diterima jauh lebih berbahaya ketimbang kasus yang berhasil ditanganinya selama ini. Abel dianggap berbahaya bagi AS, dan Donovan harus membela kliennya dengan tentangan dan ancaman dari masyarakat Amerika. Apa yang ditakutkan terjadi. Ia mendapatkan tentangan dan ancaman dari masyarakat Amerika. keluarganya diteror, keluarganya dicibir dan dijauhi. Meski demikian, ia tetap pada pilihannya untuk membela Abel. Sampai akhirnya, Donovan berhasil meyakinkan hakim untuk tidak menjatuhkan vonis mati kepada Abel.

Awais Sheik dan James Donovan, dua figur pengacara yang memberikan sebuah penegasan penting dalam pilihan sikapnya mendukung orang yang dianggap musuh oleh negaranya. Tindakan membela musuh adalah sebuah tindakan tercela maka harus dihindari. Tindakan ini dapat berdampak negatif bagi sang pengacara dan keluarganya. Dampak negatif ini sempat terlintas dalam pikiran mereka. Namun ketegasan bahwa setiap manusia mempunyai hak yang sama di hadapan hukum maka mereka pantas mendapatkan pembelaan. Pembelaan yang didasarkan pada upaya menemukan kebenaran dan keadilan di hadapan hukum.

Dua tindakan pengacara ini mengingatkan penulis pada sosok Yap Thiam Hien. Siapa yang tidak kenal dengan tokoh Indonesia? Ia adalah seorang advokat pembela Hak Asasi Manusia (HAM). Yap Thiam Hien biasa disapa dengan panggilan Yap. Yap merupakan seorang advokat keturunan Tionghoa yang selalu siap menyediakan dirinya untuk membela siapa pun yang hak-haknya dicabik-cabik, dari rakyat kecil yang rumahnya tergusur sampai tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Yap Thiam Hien memulai karirnya sebagai pengacara pada tahun 1949. Ia tidak pernah memandang bulu dalam membela siapapun yang datang kepadanya. Karena kiprahnya ini maka dia dijuluki sebagai “Pembela Segala Umat”. Dalam sebuah buku berjudul Yap Thiam Hien 100 Tahun Sang Pendekar Keadilan, terdapat beberapa ungkapan yang menarik dari beliau:

“Jika Saudara hendak menang perkara, jangan pilih saya sebagai pengacara Anda, karena kita pasti akan kalah, tetapi jika Saudara merasa cukup dan puas mengemukakan kebenaran saudara, saya mau menjadi pembela Saudara”

Tiga tokoh ini sangat jelas dan tegas memberikan pesan bagi para pengacara untuk membela klien bukan karena mengejar kemenangan namun karena ingin membela kemanusiaan. Namun di tengah kehidupan dunia yang semakin complicated ini, para pengacara tentu dihadapkan pada pilihan membela demi uang dan kemenangan. Kemenangan akan semakin memuluskan bendera kepengacaraannya. Kemenangan menandakan kehebatannya sebagai seorang pengacara. Bila demikian atmosfir yang tercipta maka bisa saja terjadi sikap pilah-pilih klien, dilihat dari kantongnya. Hal ini tidak bisa disalahkan.

Hidup butuh uang bukan meski uang bukan segala galanya. Harapannya hal ini tidak terjadi secara massif. Harapannya masih ada sebagian pengacara yang mau mengikuti jejak Yap yang membela bukan karena mengejar kemenangan tapi hendak menyeimbangkan timbangan Dewi Themis. Membela bukan karena mengejar popularitas melainkan hendak menjaga tutup mata Dewi Themis tetap mengikat kuat di kedua matanya. Membela bukan karena mengejar gedenya fulus melainkan karena tetap menjaga agar kedua mata pedang Dewi Themis tetap terjaga ketajamannya, “ Jika ya, maka ya, jika tidak maka tidak”. Dunia berada dalam pilahan benar atau salah. buka abu-abu.

Berjuanglah para pengacara demi kebenaran dan kemanusiaan serta tidak semata mata demi kemenangan. Jayalah para pengacara. Jadilah sebuah jalan yang membawa semua orang pada kebenaran dan hidup.

 

Penulis adalah alumnus STFK Ledalero, pendidik dan penikmat film.

Komentar