AGAMA Beatifikasi Floribert Bwana Chui: Teladan Persaudaraan dan Pengorbanan 01 Aug 2025 16:00
“Floribert mengajarkan bahwa kebaikan bersama masih mungkin diwujudkan melalui persaudaraan dan hidup bersama, mengatasi keputusasaan dan budaya individualisme...,”
JAKARTA, IndonesiaSatu.co – Beatifikasi Beato Floribert Bwana Chui binti Kositi, seorang martir muda dari Goma, Republik Demokratik Kongo, menjadi momen bersejarah bagi Komunitas Sant’Egidio. Upacara beatifikasi yang dilakukan oleh Bapa Suci Leo XIV pada 15 Juni 2025 di Goma menjadi titik tolak perayaan yang berlanjut di Jakarta pada 26-27 Juli 2025. Dalam Pertemuan Persaudaraan Komunitas Sant’Egidio bertema “Mimpi Beato Floribert: Menghimpun Semua Bangsa di Meja Yang Sama,” semangat pengorbanan dan kasih tanpa pamrih Floribert digaungkan sebagai teladan bagi dunia yang tengah dilanda konflik, korupsi, dan individualisme.
Pertemuan yang diadakan di Jakarta ini dihadiri perwakilan dari Bandung, Semarang, Yogyakarta, Padang, dan Malaka. Dr. Valeria Martano, penanggung jawab Sant’Egidio Asia, menegaskan bahwa di tengah “dunia gelap” yang dipenuhi kompetisi, konsumerisme, dan perlombaan senjata—seperti terlihat dalam konflik di Ukraina dan Gaza—kehidupan Beato Floribert menjadi cahaya penuntun. “Floribert mengajarkan bahwa kebaikan bersama masih mungkin diwujudkan melalui persaudaraan dan hidup bersama, mengatasi keputusasaan dan budaya individualisme,” ujarnya.
Beato Floribert, anggota Sant’Egidio yang dibunuh secara kejam pada 2007 karena menolak suap untuk mengizinkan masuknya pasokan makanan rusak melalui bea cukai, menjadi simbol integritas dan iman kristiani yang nyata dalam tindakan sosial. Ia pernah berkata kepada rekan-rekannya, “Sebagai seorang Kristiani, saya tidak bisa membiarkan nyawa orang dikorbankan. Lebih baik mati daripada menerima uang itu.” Kecintaannya pada anak jalanan di Goma tercermin dalam pengabdiannya untuk melindungi masyarakat dari bahaya, meski harus mengorbankan nyawanya sendiri.
Pesan Persatuan
Dalam Misa Syukur atas beatifikasi Floribert pada 26 Juli 2025, Nunsius Apostolik Mgr. Piero Pioppo menyerukan pentingnya persatuan sebagai anak-anak satu Bapa. “Persatuan tidak cukup hanya dengan doa atau pelayanan sekali-sekali. Seperti Floribert, kita harus melayani dan mencintai tanpa henti,” katanya. Ia mengajak Komunitas Sant’Egidio untuk menjadi benih perubahan dan pemersatu, baik di Indonesia maupun dunia, dengan memohon perantaraan Beato Floribert yang kini “berbicara langsung dengan Allah.”
Perayaan berlanjut pada 27 Juli 2025 di Mensa Sant’Egidio, yang dikenal sebagai “Rumah Persahabatan.” Kardinal Ignatius Suharyo, yang turut melayani dalam acara tersebut, mengajak umat Kristiani untuk “mengecap” Sabda Allah—membaca, merenungkan, dan mewujudkannya dalam tindakan nyata sebagai pembawa damai dan kasih. Berbagi pengalaman pribadinya, Kardinal Suharyo mengungkapkan keterlibatannya dengan Sant’Egidio sejak masa studinya di Roma. Ia berharap pelayanan komunitas ini terus berkembang di berbagai kota di Indonesia.
Penghormatan dan Warisan Floribert
Dalam suasana penuh syukur, Komunitas Sant’Egidio juga merayakan ulang tahun ke-75 Kardinal Suharyo dengan mempersembahkan dua hadiah istimewa: sebuah buku tentang Beato Floribert dan sebuah lukisan berjudul The Gospel of Gratuitousness – Floribert Bwana Chui, A Young African Martyr for the 21st Century. Lukisan ini menggambarkan semangat pengorbanan dan kasih tanpa pamrih Floribert. Selain itu, sebuah lukisan lain yang terinspirasi dari pesan Paskah 2025 Keuskupan Agung Jakarta diberikan, mengisahkan perjuangan seorang pemulung yang berhasil mewujudkan impian pendidikan anaknya melalui persahabatan dengan Sant’Egidio.
Diakon Erlip, mewakili komunitas, menyampaikan terima kasih kepada Keuskupan Agung Jakarta dan para donatur atas dukungan terhadap pelayanan di Mensa. Ia menegaskan bahwa semangat kasih, persaudaraan, dan kesetiaan Beato Floribert akan terus menginspirasi komunitas untuk melayani masyarakat, khususnya mereka yang terpinggirkan.
Beato Floribert Bwana Chui, dengan mimpinya untuk “mengumpulkan semua bangsa di meja yang sama,” telah menjadi teladan bahwa iman dan tindakan sosial dapat berjalan seiring, menerangi dunia di tengah kegelapan. ***
--- Sandy Javia
Komentar