Breaking News

EKONOMI Belanja Mulai Normalisasi Pascanataru, Bank Mandiri Perkirakan Konsumsi Tetap Resilien pada Awal 2026 26 Jan 2026 10:51

Article image

JAKARTA, IndonesiaSatu.co — Aktivitas belanja masyarakat mulai mengalami normalisasi setelah periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Per 11 Januari 2026, Mandiri Spending Index (MSI) tercatat berada di level 372,5, terkontraksi 0,1% secara mingguan (week-on-week/wow), menandai perlambatan belanja usai puncak konsumsi libur akhir tahun.

Dalam Daily Economic Review yang dirilis Office of Chief Economist PT Bank Mandiri, disebutkan bahwa puncak belanja Nataru terjadi pada pekan pertama Januari 2026, tepatnya 4 Januari, dengan MSI mencapai 372,8. Seiring berakhirnya masa liburan, belanja masyarakat berangsur kembali ke pola normal.

Meski secara agregat belanja ternormalisasi, sejumlah kelompok belanja masih menunjukkan akselerasi, khususnya belanja esensial. Salah satu yang menonjol adalah belanja pendidikan (education) yang mencatatkan pertumbuhan 19,5% wow, meningkat signifikan dibandingkan pekan sebelumnya sebesar 3,2% wow. Kenaikan ini mengindikasikan adanya pembayaran biaya pendidikan yang dilakukan lebih awal, sejalan dengan perilaku antisipatif masyarakat.

Dari sisi tabungan, Mandiri mencatat adanya perbedaan tren antar kelompok pendapatan. Per 17 Januari 2026, indeks tabungan kelompok bawah meningkat ke level 73,9, naik dari 72,4 pada Desember 2025. Sementara itu, indeks tabungan kelompok atas juga naik ke 93,5 dari 92,0 pada periode yang sama.

Sebaliknya, indeks tabungan kelompok menengah justru menurun ke level 100,5, dari sebelumnya 101,2 pada Desember 2025. Penurunan tersebut sejalan dengan besarnya belanja kelompok menengah selama periode libur Nataru.

Ke depan, Bank Mandiri memprakirakan konsumsi masyarakat tetap resilien pada kuartal I/2026. Peningkatan belanja diperkirakan mulai kembali terjadi pada minggu pertama Februari, seiring persiapan masyarakat menghadapi bulan Ramadan.

Namun demikian, besaran peningkatan konsumsi akan sangat bergantung pada dinamika pendapatan masyarakat, terutama yang dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitas lapangan kerja, khususnya pada kelompok menengah-bawah. Sementara itu, konsumsi kelompok atas akan lebih ditentukan oleh tingkat optimisme terhadap kondisi ekonomi secara keseluruhan. ***

--- Sandy Javia

Komentar