Breaking News

EKONOMI Bereskan 'Noise' Ekonomi, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa: APBN Aman, Fundamental Rupiah Kuat 27 Apr 2026 11:55

Article image
Purbaya mengungkapkan, banyak pihak, baik dari luar maupun dalam Kementerian Keuangan sendiri, sempat menyebarkan narasi yang seolah-olah menggambarkan ekonomi Indonesia sedang menuju keterpurukan dalam beberapa bulan ke depan.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmen pemerintah untuk mengendalikan narasi ekonomi nasional di tengah tekanan global. Dalam serangkaian langkah tegas, Purbaya tidak hanya membersihkan "suara pengganggu" (noise) yang menciptakan ekspektasi negatif terhadap perekonomian, tetapi juga melakukan perombakan internal di Kementerian Keuangan guna memastikan efektivitas kebijakan fiskal.

Purbaya mengungkapkan, banyak pihak, baik dari luar maupun dalam Kementerian Keuangan sendiri, sempat menyebarkan narasi yang seolah-olah menggambarkan ekonomi Indonesia sedang menuju keterpurukan dalam beberapa bulan ke depan.

"Kan juga terjadi noise yang seolah menggambarkan ekonomi kita sedang menuju keterpurukan dalam beberapa bulan ke depan. Mereka bilang kan tiga bulan, berarti dua bulan lagi, Juni atau Juli. Tapi keadaan tidak seperti itu," tegas Purbaya dalam media briefing di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Bersih-Bersih Internal dan Penegasan Fiskal

Sebagai bentuk ketegasan, Purbaya tidak segan melakukan mutasi terhadap anak buahnya yang dinilai menimbulkan sentimen negatif. Baru-baru ini, ia mencopot Dirjen Anggaran Luky Alfirman dan Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Febrio Nathan Kacaribu.

"Sentimen negatif yang disebutkan tadi seharusnya tidak ada di sistem. Sekarang sudah dirapikan. Jadi banyak noise yang menimbulkan sentimen negatif di mana-mana. Saya hilangkan noise," tambahnya.

Dalam hal kebijakan pajak, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menerapkan kebijakan yang memberatkan masyarakat atau memicu kegaduhan baru, seperti isu pajak orang kaya atau pajak jalan tol. Fokusnya saat ini adalah merapikan aturan yang ada dan menutup celah kebocoran pajak.

Menepis Hoaks Kas Negara

Di sisi lain, Purbaya membantah isu yang beredar di media sosial bahwa kas negara hanya tersisa Rp120 triliun. Ia menjelaskan bahwa angka tersebut hanyalah bagian kecil dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah yang tersimpan di Bank Indonesia (BI).

Secara total, pemerintah masih memiliki posisi kas yang sangat kuat:

Indikator Kas Negara Nilai (Triliun Rupiah) Keterangan
Total SAL Rp420 Belum digunakan sama sekali
Deposito On Call Rp300 Ditempatkan di perbankan, cair kapan saja
Isu Kas Tersisa Rp120 Bagian dari SAL, bukan sisa akhir

Fundamental Ekonomi Tetap Solid

Menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah, Purbaya menilai pergerakannya masih dalam batas wajar dan bukan merupakan sinyal memburuknya fundamental ekonomi domestik. Optimisme ini didukung oleh berbagai indikator makroekonomi yang terjaga:

  1. Surplus Perdagangan: Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan selama 70 bulan berturut-turut hingga awal 2026.

  2. Target Pertumbuhan: Pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,7% pada kuartal II/2026, dengan target tahunan sebesar 6%.

  3. Kondisi Domestik: Konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, inflasi terkendali, serta pengelolaan fiskal yang disiplin.

  4. Respon Investor: Purbaya menyebut investor internasional, IMF, dan Bank Dunia justru kagum dengan kondisi APBN Indonesia yang dinilai sehat dan transparan.

Selain itu, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) baru saja menyetorkan dana sebesar Rp11,42 triliun ke kas negara, yang menjadi bukti nyata transparansi dan keberhasilan pemerintah dalam penyelamatan keuangan negara.

"Ekspektasi negatif terbentuk karena banyak yang bilang kita akan jatuh. Tapi saya bilang, kalau fundamentalnya kuat seperti ini, untuk membalikkannya tidak terlalu rumit," pungkas Purbaya, menegaskan bahwa pemerintah memegang kendali penuh atas stabilitas ekonomi nasional. ***

--- Sandy Javia

Komentar