PENDIDIKAN Budaya Pendidikan Jepang yang Patut Ditiru 06 Jan 2019 16:48
Tidak seperti kebanyakan orang yang menilai bahwa sekolah adalah ‘bengkel’ moral dan intelektual, kaum ibu Jepang selalu menjalin kerja sama yang baik dengan pihak guru dan sekolah.
JEPANG adalah negara yang terkenal dengan sumber daya manusianya yang berkualitas. Etos kerja yang tinggi, integritas, kedisiplinan, kerja sama, dan kreativitas adalah sebagian contoh karakter umum penduduk Jepang yang dikagumi dunia. Berikut adalah budaya pendidikan unik ala Jepang seperti dikutip dari buku Gado-Gado dan Sushi, karya Yunitha Fairani.
- Melatih Kemandirian Anak
Jika pada umumnya anak-anak TK di Indonesia berangkat dan pulang sekolah diantar jemput oleh orangtua masing-masing, Jepang memiliki caranya yang sedikit berbeda. Sekolah-sekolah di Jepang akan mengelompokkan sejumlah anak berdasarkan lokasi untuk berangkat dan pulang bersama.
- Melibatkan Orang Tua
Budaya pendidikan ala Jepang yang patut dicontoh adalah melibatkan orangtua dalam pendidikan mereka, terutama kaum ibu. Tidak seperti kebanyakan orang yang menilai bahwa sekolah adalah ‘bengkel’ moral dan intelektual, kaum ibu Jepang selalu menjalin kerja sama yang baik dengan pihak guru dan sekolah.
- Mengenal Alam Sejak Dini (Ensoku)
Anak-anak TK dan SD di Jepang melakukan Ensoku minimal dua kali dalam setahun. Ensoku adalah perjalanan jauh dengan berjalan kaki. Perjalanan yang dilakukan pun bak perjalanan melintasi alam seperti melintasi perbukitan. Melalui kegiatan Ensoku, anak-anak diajarkan untuk tangguh dan mencintai alam.
- Mengapresiasi Orang Lain
Jepang adalah salah satu negara yang tidak pelit untuk mengucapkan terima kasih dan meminta maaf. Anak-anak diajarkan sejak dini untuk memberikan apresiasi dan terima kasih saat diberikan bantuan dan meminta maaf saat berbuat salah.
- Kerja Sama
Rahasia mengapa orang Jepang selalu kompak dan tahan banting dalam keadaan darurat adalah karena mereka bekerja sama dengan baik dan bergotong royong. Begitu pun di dunia sekolah dan pendidikan. Mereka menggunakan sistem komunikasi pesan berantai atau renrakumou untuk mempermudah kerja sama. Satu hingga dua orang wali murid akan bertugas sebagai koordinator. Tugas mereka adalah menyampaikan pesan kepada orang tua murid lain yang posisinya berada di bawahnya, begitu seterusnya.
- Melatih Sportivitas dengan Undokai
Undokai adalah salah satu kegiatan mengisi waktu senggang di sekolah atau class meeting. Bedanya, undokai diadakan selama sehari penuh dan dihadiri oleh orangtua. Kegiatan undokai biasanya diisi dengan kompetisi olahraga. Siswa diajarkan untuk berkompetisi namun dengan tetap sportif dan penuh semangat.
- Perhatian Guru
Di Jepang, para guru akan selalu berusaha untuk tetap dekat dengan murid-muridnya. Salah satunya adalah dengan mengirimkan shochumimai atau kartu ucapan selamat musim panas. Isi dari kartu tersebut pada umumnya berupa pertanyaan-pertanyaan yang isinya menanyakan kabar, curhat, atau mengingatkan. Misalnya, ‘bagaimana dengan liburanmu, sudahkah kamu mengisinya dengan bermain? Atau, ‘sepinya sekolah tanpa kehadiranmu’. Kartu pos tersebut bertujuan untuk menjalin komunikasi yang hangat dengan para siswa dan menumbuhkan semangat untuk siap kembali bersekolah untuk beberapa minggu ke depan. Uniknya, guru-guru kelas terdahulu bahkan terkadang masih mengirimkan kartu pos untuk merawat silaturahmi.
- Cegah Bullyingdengan Sistem Pair Onii chan dan Onee chan
Lagi-lagi, dengan budaya pendidikannya, Jepang memiliki cara unik untuk mencegah bullying. Caranya adalah dengan membentuk pasangan kakak kelas. Misalnya saja murid-murid kelas 5 SD yang membuat aneka macam permainan seru untuk dimainkan bersama anak-anak TK besar. Jadi, saat anak-anak TK besar akan memasuki dunia SD, mereka tak perlu takut dan khawatir. Anak-anak kelas 5 SD yang akan naik kelas 6 SD akan menjadi supercaptain. Mereka akan melindungi, menjaga, dan mengayomi adik-adik mereka.
--- Elisabeth Sylvie
Komentar