POLITIK Diberikan Mandat Memperbaiki PKB, K.H. Yahya Cholil Staquf: Kalau Perlu Kita Undang Pak Muhaimin Iskandar 14 Aug 2024 11:17
Gus Yahya menegaskan NU bukannya mau mencampuri keputusan politik atau operasi politik atau apa pun yang dilakukan PKB karena NU tidak lagi campur tangan dalam politik praktis.
SURABAYA, IndonesiaSatu.co-- Rais Aam PBNU K.H. Miftachul Ahyar meberikan mandat kepada Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama K.H. Yahya Cholil Staquf untuk melakukan perbaikan-perbaikan di dalam Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Dikutip dari media Antara, K.H. Yahya Cholil Staquf ketika ditemui wartawan di kediaman Rais Aam K.H. Miftachul Ahyar di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Selasa, (13/8) mengatakan akan mengundang Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar untuk membahas tentang PKB kedepannya.
"Ya nanti kalau perlu kita undang Pak Muhaimin Iskandar," kata Gus Yahya.
Gus Yahya menjelaskan PBNU mengundang Muhaimin Iskandar untuk berbicara dengan K.H. Anwar Iskandar dan K.H. Amin Said Husni (tim panitia khusus bentukan PBNU) mengenai adanya mandat Rais Aam PBNU untuk memperbaiki PKB.
"Segera, ini kan berkeputusan sebetulnya. Ini kan sebetulnya kemarin ada jeda sedikit karena kiai-kiai mengundang untuk pertemuan di Jombang," ujarnya.
Gus Yahya menegaskan NU bukannya mau mencampuri keputusan politik atau operasi politik atau apa pun yang dilakukan PKB karena NU tidak lagi campur tangan dalam politik praktis.
Akan tetapi, NU ingin mengupayakan agar ada perbaikan-perbaikan di dalam PKB sehingga kembali pada desain awal sebagaimana dulu yang dijanjikan oleh ormas tersebut.
"Ya sekarang Dewan Syuro ndak ada kewenangan sama sekali. Nah, ini kan sudah sama sekali berbeda dari desain awal ketika NU mendirikan," ujarnya.
Menurut Gus Yahya, upaya yang dilakukan ini sebagai langkah untuk mengartikulasikan kepentingan-kepentingan dari para kiai dan warga NU yang menjadi konstituen PKB.
"Kalau mereka menolak ya tanggung sendiri risiko politiknya. Ini kan soal begitu saja. Ini mekanisme normal, kalau sampean belajar ilmu politik itu normal saja begitu," tutur Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu.*
--- Hendrik Penu
Komentar