Breaking News

OPINI Dino Patti Djalal, Diplomat Kawakan yang Perlu Didengarkan Istana 03 Jun 2026 09:37

Article image
Dr. Dino Patti Djalal. (Foto: Dok. Ist)
Kritik itu memberi daya dorong yang lebih kuat bagi kemajuan, dibanding puja-puji.

Oleh Valens Daki-Soo*

 

Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet (Seskab) yang juga orang kepercayaan bahkan terpercaya Presiden Prabowo, bersikap defensif-reaktif terhadap kritik korektif-konstruktif dari Dr. Dino Patti Djalal. Dino melemparkan kritik terbuka di akun medsos-nya terhadap frekuensi kunjungan Prabowo yang terlalu tinggi ke luar negeri.

Untuk mengetahui secara lengkap dan utuh masukan rasional-kritis (dan elegan) dari Dino, silakan hampiri akunnya di Instagram. Namun, intinya dia sarankan 5 hal utama:

* Digital Diplomacy: Mengoptimalkan panggilan video/Zoom untuk pembicaraan bilateral yang hanya berlangsung singkat.

* Efisiensi Anggaran: Mengurangi biaya kunjungan internasional yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah.

* Fokus di Dalam Negeri: Menyarankan Presiden lebih banyak menjamu tamu negara di Indonesia ketimbang pergi ke luar negeri.

* Delegasi Tugas: Melimpahkan misi diplomatik teknis kepada Menteri Luar Negeri (Sugiono) agar lebih hemat biaya.

* Perencanaan Matang: Menghindari perjalanan spontan tanpa tujuan strategis yang jelas.

Saya ingin berbagi sekelumit kesaksian tentang Bang Dino, begitu saya biasa menyapanya dulu. Ketika saya sejak 1994-1999 menjadi staf Dubes Keliling RI dengan Tugas Khusus (Urusan Timor Timur) Pak Lopes da Cruz, Bang Dino adalah diplomat muda cemerlang di Deplu (sekarang Kemlu) RI di Pejambon, Jakarta Pusat.

Kantor Dubes Lopes da Cruz terletak di lantai 3 Gedung Utama Deplu RI, bersebelahan dengan Kantor Dubes Urusan Hukum Laut, Prof. Dr. Hasjim Djalal. Ya, beliau ayah dari Bang Dino. Prof. Hasjim pernah menjadi Dubes RI di Jerman, Kanada dan PBB.

Pak Hasjim pribadi intelektual yang rendah hati, ramah dan suka berdiskusi. Itu sebabnya kalau luang saya sangat sering mampir di kantor beliau yang penuh buku dan tumpukan makalah. Bakat intelektualitasnya turun penuh ke Dino. Saya beruntung pernah saling kenal dekat dengan figur ini.

Dino berpikir kritis, analitis, juga mahir menulis. Saya ingat, sempat hadiri acara bedah bukunya yang pertama di CSIS. Buku itu ditulis dalam bahasa Inggris dan para pembedah pun pakai bahasa Inggris. Entahlah, waktu itu saya paham sepenuhnya atau tidak apa yang mereka omong. 

Dino sendiri menjalani pendidikan di luar negeri, bachelor dan master di Kanada, lalu doktor di Inggris. Semuanya di kampus top.

Karir diplomatik dan politiknya prima. Ringkasnya, dia pernah bertugas di KBRI di London, Direktur Eropa di Kemlu, Dubes RI di Amerika Serikat, Wakil Menlu. 

Sebelum jadi Dubes di AS, dia lama menjadi Juru Bicara Presiden SBY untuk Urusan Luar Negeri. 

Oleh karena pengalamannya yang panjang dalam diplomatik, tentu saja dia paham sepenuhnya soal luar negeri dengan segala kompleksitas dan seluk-beluknya. Mungkin karena dia terdidik di keluarga intelektual dan sangat lama hidup di Barat (Eropa dan AS), cara berpikir dan kritiknya lugas, tajam dan komprehensif. Dia tak hanya pandai kritik, tapi tawarkan juga solusi.

Lalu, mengapa Teddy Indra Wijaya tampil menanggapi dengan cara yang agak "ad hominem", menyerang pribadi Dino? Menyebut Dino menjabat Wakil Menlu hanya tiga bulan, itu sindiran yang tidak elok. Mengapa hanya lihat tiga bulan itu, dan mengabaikan karirnya yang merentang panjang di dunia politik-diplomatik?

Seyogianya pihak Istana -- yang konon dalam banyak hal diatur dan diwakili oleh Teddy -- menerima kritik itu dengan kebesaran hati dan keluasan jiwa. Kritik itu memberi daya dorong yang lebih kuat bagi kemajuan, dibanding puja-puji. 

Istana perlu berbenah diri agar apa yang kami baca dan dengar -- tentang sulitnya akses ke Presiden Prabowo karena semuanya "di-setel" oleh Teddy, bahkan menteri pun "melapor" ke Teddy -- tidak menjauhkan Presiden dari masukan-masukan, baik manis maupun pahit, demi kepentingan Republik tercinta ini.

 

*) Penulis adalah entrepreneur, pernah menjadi staf Dubes Keliling RI Urusan Timor Timur Lopes da Cruz, staf khusus Wakil KSAD Letjen TNI Kiki Syahnakri.

Komentar