MEGAPOLITAN Diskusi Blak-Blakan Bareng Tenaga Ahli: Cara Merawat Kota, Merawat Percakapan, dan Merawat Masa Depan 23 May 2026 19:10
Momentum menuju 5 abad Jakarta merupakan momentum sejarah yang tidak akan terulang kembali.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Hari ini Jakarta sedang berada di sebuah persimpangan sejarah. Di satu sisi, Jakarta tumbuh menjadi metropolitan modern dengan pembangunan infrastruktur yang masif, integrasi transportasi publik yang semakin maju, serta ambisi besar menembus 20 besar kota global.
Namun di sisi lain, Jakarta juga menghadapi berbagai tantangan urban yang semakin kompleks seperti ketimpangan, tekanan kesehatan mental masyarakat urban, persoalan lingkungan, dan krisis ruang hidup.
Di tengah dinamika tersebut, ruang dialog publik, percakapan gagasan, dan demokratisasi ide menjadi kebutuhan yang semakin penting. Sebab kota yang besar tidak hanya dibangun oleh beton, jalan layang, atau gedung pencakar langit, melainkan juga oleh kualitas percakapan, kesadaran sosial, dan kemampuan warganya untuk merawat harapan bersama.
Berangkat dari semangat itulah, diselenggarakan forum diskusi publik bertajuk: “Blak-Blakan Bareng Tenaga Ahli: Ngomongin Jakarta" oleh Aspirasi Jakarta, ILUNI FH Universitas Atma Jaya, Forum Peduli Literasi Masyarakat, dan Tinta Narrativa yang didukung oleh Perumda Pasar Jaya.
Diskusi ini menjadi ruang bersama untuk membicarakan partisipasi generasi muda dalam menentukan masa depan kota, penguatan budaya dan ruang publik, solusi tentang masalah persampahan, dan visi besar Jakarta kota global.
Diskusi ini menghadirkan sejumlah Tenaga Ahli Stafsus Gubernur DKI Jakarta sebagai narasumber, di antaranya Reinhard Sirait dan Aris Setiawan biadang komunitas sosial, Hikari Erasa bidang pemerintahan, serta Fariz Gamal bidang pembangunan tata kota.
Membuka diskusi, Koordinator Stafsus Gubernur, Profesor Firdaus Ali, menegaskan bahwa momentum menuju 5 abad Jakarta merupakan momentum sejarah yang tidak akan terulang kembali dan harus diisi dengan program-program yang berkesan, progresif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.
“Kita menjadi bagian dari sejarah tidak terlupakan dalam sejarah 5 abad kota Jakarta. Jadilah kita menjadi saksi yang proaktif dan kreatif untuk Jakarta dan Indonesia,” ujar Profesor Firdaus Ali dalam opening speech.
Beliau juga mengingatkan pentingnya kesiapan Jakarta menghadapi tantangan strategis ke depan, termasuk persoalan pengelolaan sampah menjelang penutupan TPA Nasional Bantar Gebang pada Agustus 2026. Menurutnya, persoalan Jakarta harus ditangani secara cepat dan kolaboratif karena wajah Jakarta adalah wajah Indonesia.
“Jakarta memerlukan mereka yang hadir membawa solusi. Jakarta membutuhkan kolaborasi. Saya yakin teman-teman yang ada di ruangan ini maupun luar sana, kita punya platform yang sama dan cita-cita yang sama,” tuturnya.
Lebih lanjut Profesor Firdaus Ali menekankan pentingnya partisipasi kaum muda dan masyarakat dalam penyelesaian masalah di Jakarta.
”Bapak Gubernur Pramono itu menginginkan warga yang bertemu beliau itu bukan datang membawa proposal. Tapi beliau ingin agar warga atau siapa pun yang bertemu beliau itu datang membawa program konkrit bagi penyelesaian masalah yang ada,” tandas Profesor Firdaus Ali.
Sementara Founder Aspirasi Jakarta, Budhi Haryadi, dalam kata sambutannya menjelaskan tentang peran penting ruang-ruang kebudayaan dan menghidupkan harapan masyarakat di kampung kota.
“Aspirasi Jakarta dibangun dari orang-orang muda lintas komunitas yang selama ini konsisten turun langsung menjangkau masyarakat akar rumput. Khususnya warga miskin kota yang sering kali luput dari sorotan pembangunan,” kata Budhi.
Budhi juga menyinggung nobar layar tancap yang telah menjadi budaya sosial di Jakarta dan wahan literasi publik.
“Melalui gerakan nonton layar tancap kami menonton film-film yang edukatif, seperti laskar pelangi, rumah tanpa jendela, dan beberapa film anak edukatif dari luar negeri. Bulan lalu kami melakukan di Manggarai. Nobar layar tancap adalah tempat hiburan yang mendidik bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ketua ILUNI FH UAJ, Arthur Sanger, menegaskan bahwa Jakarta bukan sekadar pusat pembangunan dan ekonomi nasional, tetapi ruang hidup yang menyimpan harapan, budaya, kreativitas, perjuangan, dan mimpi banyak orang.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara komunitas, akademisi, praktisi, sektor swasta dan pemerintah dalam memperkuat ekosistem sosial kota, terutama di tengah transformasi Jakarta menuju kota global.
“Pada prinsipnya kami dari Iluni FH UAJ siap hadir dan berkolaborasi untuk memperkuat jejaring strategis, meningkatkan sinergi, dan berkontribusi untuk kemajuan Jakarta. Kami mendukung program-program penting dari pak Gubernur dan Wakil Gubernur untuk pembangunan Jakarta,” katanya.
Bangun Energi Kolektif
Sementara pembicara pertama, Reinhard Sirait, Tenaga Ahli Stafsus Gubernur Bidang Komunikasi Sosial menekankan bahwa pola pembangunan modern tidak lagi dapat berjalan secara satu arah.
“Di era digital warga memiliki akses informasi, ruang partisipasi, sekaligus kemampuan mengawasi jalannya pemerintahan secara langsung. Jakarta kota global harus dibangun lewat citizen participation, keterlibatan komunitas, dan budaya komunikasi dua arah yang sehat,” tutur Reinhard.
Sedangkan Hikari Ersada, Tenaga Ahli Stafsus Bidang Pemerintahan mengajak masyarakat membayangkan momentum 500 kota Jakarta untuk membangun energi kolektif masyarakat dalam jalannya diskusi.
“Jakarta 500 tahun adalah tentang keberanian membayangkan kota yang lebih adil, lebih sehat, lebih berbudaya, dan lebih membahagiakan bagi semua,” ujarnya.
Sementara Fariz Gamal, Tenaga Ahli Stafsus Bidang Pembangunan dan Tata Kota menyoroti pentingnya pembangunan berkelanjutan dan keterlibatan anak muda dalam menghadapi persoalan lingkungan, termasuk isu persampahan Jakarta yang saat ini mencapai sekitar 8.000 ton per hari.
“Persoalan ini bukan hanya sebagai tantangan teknis pemerintah, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh warga kota,” ujarnya
Adapun Aris Setiawan, Tenaga Ahli Stafsus Gubernur menyajikan data dan laporan penelitian yang berkaitan dukungan masyarakat terhadap Jakarta kota global.
“Data dari Litbang Kompas, 87,9% dari 400 responden warga Jakarta menyatakan mendukung arah pembangunan Jakarta menuju kota global. Artinya ini adalah sinyal penting bahwa Jakarta memiliki modal sosial menuju kota global,” ujar Aris.
Dukungan tersebut menjadi sinyal penting bahwa masyarakat Jakarta memiliki optimisme besar terhadap transformasi kota pasca perpindahan ibu kota negara.
Diskusi berlangsung hangat, kritis, dan reflektif. Para peserta dari berbagai komunitas menyampaikan keresahan sekaligus harapan mereka tentang Jakarta mulai dari isu agraria, penanganan sampah, literasi, kebudayaan, hingga pentingnya ruang kreatif dan ruang dialog sehat.
Turut hadir Kepala Badan BPDSM, Dyan Airlangga dan Kepala Badan Kesbangpol Muhammad Matsani dalam acara diskusi yang dihadiri akademisi, perkumpulan relawan, mahasiswa, pemuda, komunitas literasi, media, dan berbagai elemen masyarakat dalam diskusi yang berlangsung reflektif dan partisipatif itu. *
--- F. Hardiman
Komentar