Breaking News

NASIONAL Dubes RI untuk Nairobi: Kaum Muda Diharapkan Jadi Bagian dari Pembentuk Ide dan Jaringan 24 May 2026 18:12

Article image
KBRI Nairobi berkolaborasi dengan Daystar University (Kenya), Universitas Padjajaran dan President University (Indonesia) menyelenggarakan Youth-to-Youth Dialogue Indonesia-Kenya, yang mengambil tema ”Bridging Indonesia and Kenya through Youth Leadershi
Dubes Witjaksono Adji menyampaikan di era digital dan saling terhubung ini, kaum muda telah menjadi bagian dari pembentuk ide, pembangun jaringan, dan turut berkontribusi pada perubahan yang lebih baik.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co  - KBRI Nairobi berkolaborasi dengan Daystar University (Kenya), Universitas Padjajaran dan President University (Indonesia) menyelenggarakan Youth-to-Youth Dialogue Indonesia-Kenya, yang mengambil  tema ”Bridging Indonesia and Kenya through Youth Leadership for Global Impact”, di KBRI Nairobi (22/5/2026).

Acara diskusi panel antar mahasiswa ini diawali dengan sambutan dari Dubes RI Nairobi, Witjaksono Adji, dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Program Pendidikan Peace and International Studies, Daystar University, Prof. Justus Musya, di depan lebih dari 150 peserta kegiatan dari Daystar University, dan berbagai Perguruan Tinggi di Nairobi, serta jurnalis media massa Kenya, yang hadir secara luring (hadir fisik).

Dalam sambutannya, Dubes Witjaksono Adji menyampaikan di era digital dan saling terhubung ini, kaum muda telah menjadi bagian dari pembentuk ide, pembangun jaringan, dan turut berkontribusi pada perubahan yang lebih baik. Karena itu, keterlibatan kaum muda merupakan bentuk nyata, bukan sekadar konsep abstrak.

Dubes Witjaksono berharap, dengan bertemu, bertukar pikiran, dan berdialog dalam kegiatan kali ini, kaum muda dari kedua bangsa ini diharapkan dapat saling menemukan dan belajar hal-hal baru, yang pada akhirnya dapat membentuk saling pengertian, dan semakin mempererat people-to-people contact. Namun, dialog ini bukan merupakan akhir, melainkan awal dari membangun saling pengertian, dan kerja sama praktis di masa mendatang.

The success of this dialogue will be measured by the ideas that continue, the connections that grow, and the commitments that turn into action,” ujar Dubes Witjaksono Adji.

Keterlibatan kaum muda ini juga sangat penting untuk cakupan yang lebih luas, mengingat kekuatan relasi persahabatan dari dua negara itu bukan sekadar dari kesepakatan antar dua Pemerintah, melainkan juga dibangun dari saling pengertian, rasa saling percaya, dan hubungan antar warganya.

Dalam pidatonya, Prof. Justus Musya menyampaikan pentingnya diplomasi dalam relasi antar negara, termasuk antara Indonesia dan Kenya, yang sesuai dengan perkembangan zaman, menjadi lintas batas dan lintas generasi.

Keterlibatan kaum muda di masa ini terwujud melalui berbagai kegiatan di berbagai bidang. Interaksi lintas bidang inilah yang menjadikan dialog penting untuk dilakukan, terutama untuk membentuk saling pengertian.

Indonesia dan Kenya, katanya, telah memiliki beragam bentuk kolaborasi. Kegiatan ini juga diharapkan dapat diarahkan menuju interaksi generasi muda lintas batas untuk membentuk relasi yang inovatif, inventif, saling menghargai, dan damai. 

Dialog antara mahasiswa Indonesia dan Kenya ini diharapkan juga dapat membuka dan menjembatani saling pengertian, serta menjadi awal berbagai kegiatan people-to-people relations kaum muda dari kedua bangsa, termasuk dalam kerangka akademis.

“Forum diskusi ini membahas isu kekinian, dan  mendorong pemikiran yang positif, serta membantu kaum muda untuk mempersiapkan diri, bukan hanya sebagai generasi penerus, tetapi sebagai ‘aktor utama’ untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik bagi Indonesia, Kenya, dan Global,” ungkap Raden Wisnu Lombardwinanto, Minister Counsellor KBRI Nairobi.

 

Hadirkan Pembicara dari Mahasiswa-Mahasiswi

Dialog yang berbentuk diskusi panel yang dimoderatori oleh Endang Septryani Sari, Sekretaris Pertama Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI Nairobi ini, menghadirkan para pembicara dari para mahasiswa/i.

Dari Kenya, panelis berasal dari jurusan Peace and International Studies, Daystar University, yaitu Diana Gesare Makori, dan Dalmas Bukaso Atsowa. Sedangkan dari Indonesia, panelis berasal dari dua mahasiswi magang di KBRI Nairobi, yakni Alisha Nailah Kusnandar dari Universitas Padjajaran, dan Refa Fresy Cinta Betah dari President University.

Keempat panelis ini mengelaborasi diskusi seputar tiga pilar topik, yakni: ‘how youth awareness can become agency; how values can be translated into action; and how young people can build meaningful connections beyond borders’.

Selain pemaparan ide dan gagasan, diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, baik dari para peserta yang hadir secara luring, maupun secara daring.

Para peserta diskusi yang hadir secara luring kemudian menyatakan komitmen mereka untuk menjadi awal perubahan dengan itikad dan tindakan tertentu. Komitmen ini dinyatakan dengan menempelkan pernyataan awal aksi perubahan pada pohon harapan komitmen (Commitment of Hope).

Seluruh peserta kegiatan mengapresiasi penyelenggaraan Youth-to-Youth Dialogue ini, dan berharap untuk dapat terus dilaksanakan secara reguler, serta menjadi insipirasi pelaksanaan kegiatan serupa, baik di Kenya, maupun di Indonesia.

Ajang diskusi antar kaum muda ini bukan hanya menjadi wahana untuk bertemu dan berdialog, melainkan juga menjadi momentum promosi aneka produk Indonesia yang telah menembus pasar Afrika, serta pengenalan seni budaya nusantara, seperti alat musik tradisional Angklung dan Gamelan. Kegiatan dinilai berhasil menjaga dan membuka peluang kerja sama, serta mendorong kolaborasi yang lebih erat kedua bangsa dan negara di masa mendatang.

Kegiatan juga diikuti dengan partisipasi aktif sekitar 200 peserta dari berbagai Universitas di Indonesia dan Kenya secara daring (online). *

 

--- F. Hardiman

Komentar