Breaking News

KOLOM Frans Lebu Raya: Sosok Pemimpin Serentak Pemimpi (Sebuah Refleksi) 20 Dec 2021 09:22

Article image
Mantan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya.
Semasa menjadi Gubernur NTT, Frans selalu mengajak bahkan tiada hentinya memotivasi warga NTT untuk berjuang dan bekerja keras demi perubahan di Provinsi kepulauan ini.

Oleh Yosman Seran

 

Hari Minggu siang, 19 Desember 2021, semua warga NTT dikejutkan dengan berita duka atas meninggalnya mantan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Semua halaman media (media massa/media sosial) dipenuhi ungkapan berbela sungkawa atas kepergian tokoh marhaenis NTT ini. Tak hanya itu, sebagian media di luar NTT pun memberitakan kepergian mantan Gubernur Frans Lebu Raya.

 

Dari Pulau Jagung Titie Menuju Pulau Batu Karang

Anak kampung dari Watoone, pulau Adonara, kabupaten Flores Timur ini memang nekad. Masa pendidikannya dibuahi tekad dan komitmen tinggi. Frans Lebu Raya mulai beranjak dari pulau jagung titie - Adonara, berlayar menuju batu karang Pulau Timor. Perjuangannya tidak bisa dilihat dan dinilai dengan kasat mata atau sebatas melirik sambil lalu.

Dari ujung Timur Pulau Flores, ia berlayar ke arah Barat Pulau Timor. Bisa dibayangkan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada masa tahun 1970-an. Tentunya transportasi tidak selancar tahun 2020-an. Namun anak kampung ini sungguh berjuang dan nekad pergi ke Pulau yang ditumbuhi beribu batu karang itu, demi meraih segudang ilmu. Di kota beribu batu karang inilah, Frans L. Raya mulai tanam kakinya lebih dalam dan berpikir keras untuk membangun NTT.

Batu Karang memang keras, tetapi Frans L. Raya berjuang dan bertekad dengan memberdayakan segala potensi diri yang ia punya. Butiran keringat terus ia panen dari hari ke hari sejak masa kuliahnya di Undana hingga keterlibatan-aktif pada organisasi-organisasi di kampus maupun di luar kampus. Di daerah batu karang waktu itu, jarak tempat tinggalnya ke kampus lumayan jauh. Beratus-ratus meter perjalanan, diurungkan di telapak kakinya yang tegar polos demi ilmu yang ia petik di kampus ternama, di NTT itu.

Frans Lebu Raya akhirnya dipercayakan warga NTT untuk menjadi gubernur dua periode hingga akhir tahun 2018. Frans Lebu Raya adalah sosok rendah hati dan bergaul tanpa sekat.

Suatu hari, sebagai seorang jurnalis, saya (penulis) pernah melontarkan pertanyaan terkait apa yang handak dibuat Frans setelah menanggalkan masa jabatannya sebagai Gubernur NTT waktu itu. Atas pertanyaan itu, beliau mengatakan, setelah melepaskan jabatannya sebagai Gubernur NTT, ia ingin membangun NTT dari luar NTT.

Pernyataan yang dilontarkan Frans Ini merupakan mimpi kuatnya. Frans memang ingin NTT ini tidak biasa-biasa saja. Perjuangan demi kesejahteraan masyarakat NTT terus diperjuangkan Frans Lebu Raya, walaupun ia harus menuai kegagalan pada perhelatan politik legislatif (merebut kursi DPR Pusat) tahun 2019 kemarin.

 

Belajar Dari Frans Lebu Raya

Mantan Gubernur NTT 2 periode, Frans Lebu Raya, dalam setiap kesempatan sering mengungkapkan ajakan bagi warga NTT agar lebih bersemangat kerja demi perubahan di Provinsi NTT. Ada tiga poin yang sering Frans sampaikan pada setiap kesempatan dalam sambutannya.

Pertama, Kerja Keras. Frans Lebu Raya merupakan sosok pekerja keras. Ia memiliki tekad dan kemampuan yang kuat untuk membangun NTT. Dalam catatan Julius Pour tentang Frans Lebu Raya - yang tercoret dalam 'Majalah Anggur Merah dari Watoone', ia mendeskripsikan masa kecil Frans dengan 'licin' dan mengalir indah. Tekad dan kerja keras Frans sungguh tercurah selama masa kepemimpinannya sebagai Gubernur NTT selama 10 tahun (dua periode).

Semasa menjadi Gubernur NTT, Frans selalu mengajak bahkan tiada hentinya memotivasi warga NTT untuk berjuang dan bekerja keras demi perubahan di Provinsi kepulauan ini. Kerja keras harus menjadi "lonceng" bagi orang NTT agar terus berbunyi dan dibunyikan.

Kedua, Kerja Cerdas. Masyarakat NTT tidak hanya menjadi pekerja keras, namun harus bekerja secara cerdas - yang artinya keterlibatan logika-argumentasi menjadi label penting dan harus diutamakan. Pekerjaan atau usaha yang dilakukan tanpa melibatkan kecerdasan akal budi tentunya berujung pada inkonsistensi, diskriminatif, dan disorientasi. Kerja cerdas juga menuntut setiap orang agar bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang didapatnya. Disiplin ilmu itu harus diimplementasikan secara tepat dan benar.

Ketiga, Harus Tuntas. Kerja keras dan kerja cerdas tentunya akan menuai hasil. Kerja keras, kerja cerdas harus dibarengi dengan tanggung jawab. Pekerjaan meskipun sekecil apa pun harus dikerjakan sampai tuntas. Artinya, membangun NTT tidak sekedar kerja, atau kerja asal-asalan, namun harus dilakukan dengan penuh kesadaran dan sungguh mengabdi sesuai bidang disiplin ilmu masing-masing. NTT harus serius dibangun dengan tiga item penting yang dipesan Mantan Gubernur Frans Lebu Raya semasa ia masih berziarah di dunia.

Dengan kerja keras, kerja cerdas dan harus tuntas, Frans Lebu Raya seyogyanya mengajak warga NTT untuk sadar, dan mulai bangkit menuju NTT sejahtera seperti yang dimimpikan Viktor Bungtilu Laiskodat dan Yos Nae Soi. Frans Lebu Raya seorang pekerja keras; salah satu tokoh NTT yang rendah hati, politisi NTT yang marhaenis.

Frans sosok pemimpin yang terus bermimpi demi Masyarakat NTT. Semoga Pemimpin-pemimpin di NTT juga tidak malas bermimpi dan mampu menerjemahkan tiga poin dari Frans Lebu Raya tersebut demi kesejahteraan masyarakat NTT.  Selamat jalan Sang Marhaenis NTT. Doakan Warga NTT. Doakan bumi NTT, provinsi kepulauan ini.

 

Penulis adalah alumnus STFK Ledalero

Komentar