REGIONAL Gawi Sebagai Tarian Persekutuan Ende-Lio 23 Aug 2017 17:10
Sebagai warisan tradisi di wilayah Ende dan Lio, tarian gawi merupakan tarias khas yang menegaskan persekutuan antara perangkat adat (mosalaki) dengan para penggarap (fai walu ana kalo).
DALAM tradisi budaya Ende-Lio, tarian Gawi (tandak) yang berbentuk lingkaran berlapis merupakan salah satu tarian khas daerah yang selalu dibawakan pada saat seremoni adat.
Sebagaimana diutarakan salah seorang pegiat seni Gawi, Siprianus Se'a, Rabu (23/8/17), tarian Gawi mengandung makna persekutuan selain cerminan keindahan, kekompakan, persatuan dan kesetaraan.
"Sebagai warisan tradisi di wilayah Ende dan Lio, tarian Gawi merupakan tarias khas yang menegaskan persekutuan antara perangkat adat (mosalaki) dengan para penggarap (fai walu ana kalo). Nilai persekutuan (persatuan) juga terbangun dengan para leluhur yang ditandai dengan keberadaan batu nisan (musu mase/tubu musu) di tengah-tengah lingkaran Gawi. Itulah alasan mengapa tarian Gawi diyakini memiliki daya sakral," ungkapnya.
Menurutnya, pagelaran seni maupun festival budaya yang menampilkan tarian Gawi sama sekali tidak menghilangkan makna dan esensi Gawi. Namun pada hakikatnya justru 'mengabaikan' kesakralan nilai dari Gawi tersebut.
"Meskipun mengandung kesamaan makna namun cara dan ritualnya yang berbeda. Dalam suatu ritual adat resmi, tidak semua orang bisa terlibat dalam tarian Gawi. Di daerah Tenda, kecamatan Wolojita, para peserta tarian Gawi harus wajib mengenakan pakaian adat berupa kain sarung-baju adat (lawo-lambu nua ) khusus bagi perempuan dan kain-baju (ragi-lambu) bagi kaum laki-laki. Sementara bagi para mosalaki dilengkapi dengan selendang dan desta (luka/semba dan lesu. Jika ada peserta yang mengganggu jalannya Gawi, maka akan dikenakan sanksi adat yang dalam bahasa setempat disebut poi," bebernya.
Sipri yang juga produktif menciptakan lagu-lagu daerah Ende-Lio ini menekankan pentingnya pemaknaan terhadap unsur dan nilai-nilai budaya sehingga tidak dianggap sebagai seremoni atau ritual semata.
"Apa yang diwarisi dan dipertahankan sebagai tradisi termasuk tarian Gawi, tentu memiliki makna mendalam agar dihayati dan dijiwai oleh setiap generasi pewaris. Jika unsur adat sudah kehilangan makna dan nilai, maka cepat atau lambat unsur tersebut akan hilang bahkan ditinggalkan. Beberapa daerah di pantau utara Ende, misalnya, tradisi Gawi perlahan-lahan mulai pudar karena kesulitan mengorbitkan seorang penyanyi/penyair adat (sodha) dalam mengiringi tarian Gawi," kesannya.
Harmoni gawi
Tarian Gawi merupakan perpaduan beberapa unsur penting sehingga membentuk sebuah harmoni.
"Selain peserta Gawi yang membentuk lingkaran berlapis, kehadiran seorang sodha sangat menentukan harmoni gerakan; ritme/irama hentakan kaki, kekompakan ayunan tangan, alur gerakan lingkaran serta cepat-lambatnya Gawi berlangsung. Jika suasana Gawi semakin hidup dan bersemangat, beberapa perempuan mulai menari (wanda) di tengah-tengah lingkaran Gawi. Semua peserta Gawi tetap menjaga irama dan suasana sehingga Gawi menjadi sangat hikmad bahkan berlangsung hingga 2-3 jam lamanya," ungkap Yakobus Ari, seorang budayawan Ende-Lio.
Yakobus menilai, selain makna persekutuan, tarian Gawi juga memiliki pesan kesetaraan.
"Kehadiran perempuan di antara lingkaran Gawi selalu membawa suasana yang beda. Ada nilai persatuan, kebersamaan, keseragaman juga kesetaraan sangat nampak. Pada intinya, tarian Gawi adalah cerminan persekutuan yang tak terceraikan seperti simbol lingkaran berlapis. Selain pesan historis-kultural, tarian Gawi juga memberi pesan sosial agar setiap orang harus menjaga tali persatuan, merawat persekutuan hidup dan menjuniung tinggi nilai-nilai kesetaraan," simpulnya.
--- Guche Montero
Komentar