REFLEKSI Gembira Itu Mudah... 19 Dec 2023 18:14
Kita hanya perlu memiliki "hati yang mudah bersukacita" seperti anak kecil, apalagi di tengah dunia yang kian sarat dengan berbagai hal yang tampak mudah menegangkan jiwa.
Oleh Valens Daki-Soo
Ijinkan saya berkisah tentang pengalaman pertama kali ke Ende tatkala masih kecil. Saat itu Ende merupakan kota paling ramai di Flores.
Rumah orang tua saya terletak di Nangaroro, 40 kilometer dari Kota Ende. Kota Ende adalah tempat Bung Karno diasingkan hampir lima tahun, dan sesuai pengakuan beliau kepada penulis Cindy Adams, di kota itulah BK merenung tentang Pancasila.
Balik ke cerita. Saat pertama kali mau ke Ende, sebagai 'anak kampung' saya sulit membendung rasa gembira. Umur saya sekitar 7 tahun, dan Anda bisa bayangkan saya begitu menantikan momentum itu.
Sepanjang jalan hati saya berbunga-bunga, laut biru tampak teduh di pagi hari, dan ketika panas mulai menyengat, saya tidak peduli setitikpun.
Sesekali truk melintas dan bikin "abu naik" (debu beterbangan karena waktu itu belum semua ruas jalan di-aspal), saya tetap semangat.
Yang saya bayangkan -- dan menjadi kerinduan -- adalah melihat Kota Ende, lalu makan sate di warung "Bangkalan".
Setibanya di Ende, gembira tak terkira. Pesiar di pertokoan, lihat pelabuhan, dan.....makan sate di warung "Bangkalan".
Berjalan kaki ke gereja katedral, "mengintip" kampus SMA Syuradikara dari luar pagar, menatap Gunung Ia dan Gunung Meja (dua gunung yang seolah jadi 'pengawal alam' Kota Ende) -- ini pengalaman yang menimbulkan sensasi alami.
Pulang dari Ende, keesokan harinya saya masuk sekolah penuh gaya seperti "pahlawan pulang perang."
Poin saya: pertama, kalau kita fokus pada tujuan, hati kita akan penuh sukacita, tidak terganggu oleh berbagai hal di jalan.
Kita tidak mudah mengalami distraksi. Cuaca dan medan boleh jadi merupakan rintangan bagi prajurit di medan perang, namun dia tetap berjuang karena fokus pada tujuan.
Kedua, kita bisa gembira kapanpun, di manapun, dan atas alasan apa saja. Kita berhak bahagia, dan kita punya alasan yang tak pernah habis untuk bersukacita.
Kita hanya perlu memiliki "hati yang mudah bersukacita" seperti anak kecil, apalagi di tengah dunia yang kian sarat dengan berbagai hal yang tampak mudah menegangkan jiwa.
Bergembiralah, Sahabat.
"Life is beautiful if you see it as it is, not as it should be." ***
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar