OPINI Gempa Flores dan Bahaya Menyederhanakan Kebenaran (Catatan untuk Dr. Ing. Ignasius Iryanto Djou) 24 Aug 2026 00:37
Gempa bukan milik kelompok pro-geothermal. Gempa juga bukan milik kelompok anti-geothermal. Ia adalah tragedi kemanusiaan.
Oleh Pater Dr. Felix Baghi, SVD
Artikel Investortrust yang membantah klaim bahwa gempa Flores 15 Agustus 2026 disebabkan oleh proyek geothermal memiliki satu kekuatan utama yang tidak bisa diabaikan: kesimpulan ilmiahnya sejalan dengan data BMKG. Gempa Mw 7,7 itu memang gempa tektonik. Episenternya sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, kedalaman sekitar 15 kilometer, mekanisme sesar naik pada Flores Back-Arc Thrust.
Analisis rupture yang dilakukan BMKG konsisten dengan sistem sesar tersebut. Setelah hampir tiga puluh tahun sejak gempa besar 1992, energi yang tersimpan di busur belakang Flores kembali dilepaskan. Itu fakta seismologis yang kuat.
Namun, kekuatan fakta itu justru menjadi kelemahan terbesar artikel tersebut. Dari kesimpulan yang benar, teks dengan cepat melompat ke klaim yang jauh lebih luas: bahwa kritik terhadap geothermal di Flores secara keseluruhan keliru, bahkan bahwa geothermal di Flores tidak relevan dengan risiko seismik. Di sinilah sikap kritis kita harus diperlihatkan lebih jelas.
Pertanyaan ilmiah yang tepat bukan “apakah geothermal pernah menyebabkan gempa?” Jawabannya jelas: pernah. Kasus Pohang dan Strasbourg menunjukkan bahwa stimulasi dan injeksi fluida dalam sistem Enhanced Geothermal System (EGS) dapat memicu seismicity.
Pertanyaan yang benar adalah: apakah terdapat bukti kausal bahwa operasi geothermal tertentu di Flores menyebabkan gempa Mw 7,7 pada 15 Agustus 2026?
Sejauh data yang tersedia hingga kini, jawabannya tidak. Tidak ada hubungan spasial, temporal, maupun mekanis yang memadai untuk menautkan keduanya.
Namun Artikel Investortrust terlalu cepat menggunakan formula absolut: “tidak benar sama sekali”. Bahasa seperti itu menutup ruang nuansa. Dalam geofisika, hubungan antara aktivitas manusia dan gempa lebih kompleks daripada oposisi hitam-putih. Ada gempa alami, ada induced seismicity, dan ada triggered earthquake, di mana gangguan kecil dari aktivitas manusia dapat memicu pelepasan energi tektonik yang sudah berada di kondisi kritis.
Menggunakan Pohang secara sederhana sebagai bukti bahwa “geothermal menyebabkan gempa” sama kelirunya dengan menyatakan bahwa karena gempa Flores tektonik, maka geothermal sama sekali tidak relevan.
Kesalahan paling fundamental terletak di sini: “gempa bukan karena geothermal” tidak sama dengan “geothermal Flores aman”.
Dua proposisi itu harus dipisahkan. Seseorang dapat menerima sepenuhnya penjelasan BMKG tentang sumber gempa 15 Agustus, tetapi tetap mengajukan pertanyaan yang sah: bagaimana karakteristik reservoir di setiap lokasi? Bagaimana pengelolaan fluida dan reinjeksi? Bagaimana monitoring seismicity lokal? Bagaimana risiko H?S, penggunaan air, dampak terhadap mata air dan tanah masyarakat? Bagaimana hak atas tanah, mekanisme persetujuan, dan distribusi manfaat? Siapa yang menanggung risiko jika prediksi salah?
Argumentasi bahwa Flores memiliki rekahan alami sehingga EGS tidak diperlukan, atau bahwa keberhasilan di Lahendong, Kamojang, Ulubelu, Italia, Amerika, atau Selandia Baru membuktikan keamanan proyek di Flores, sama-sama mengandung hasty generalization.
Unit analisis yang benar adalah proyek per proyek, reservoir per reservoir, lokasi per lokasi. Begitu pula perbandingan dengan Hawaii atau Tenerife: ukuran pulau bukan variabel utama. Struktur geologi, kepadatan penduduk, sistem sesar, daya dukung ekologis, dan budaya kepemilikan tanah berbeda. Itu false analogy.
Lebih problematis lagi ketika teks mengubah perdebatan ilmiah menjadi penilaian moral.
Menyebut masyarakat Flores “hanya mau belajar dari Daratei dan menolak belajar dari tempat lain” adalah generalisasi yang mereduksi kompleksitas penolakan. Penolakan bisa lahir dari pengalaman konkret, ketidakpercayaan terhadap institusi, persoalan tanah, ketidakjelasan informasi, atau kekhawatiran ekologis yang sah. Menilai penolak sebagai “tidak mau belajar” justru mempersempit ruang dialog.
Dalam konteks pascagempa, prioritas etis harus berubah. Hingga 20 Agustus saja BMKG telah mencatat ribuan aftershock. Korban meninggal, rumah hancur, fasilitas kesehatan rusak, masyarakat mengungsi. Dalam situasi seperti itu, perdebatan ekspansi geothermal tidak boleh menjadi prioritas pertama. Urutannya adalah: korban, keselamatan, pemulihan, transparansi, evaluasi, dialog, baru keputusan pembangunan. Bukan gempa, lalu rebutan narasi, lalu pembenaran proyek atau penolakan.
Ada dua ekstrem yang sama-sama berbahaya. Ekstrem pertama: instrumentalisasi gempa untuk menyerang geothermal—“ada gempa, ada geothermal, berarti geothermal penyebabnya”. Ekstrem kedua: instrumentalisasi gempa untuk membela geothermal—“gempa terbukti tektonik, berarti geothermal Flores aman”. Keduanya melakukan kesalahan yang sama: mengubah satu fakta menjadi kesimpulan yang lebih luas daripada yang dapat ditanggung oleh fakta tersebut.
Pejuang kemanusiaan harus menjadi pihak yang paling disiplin terhadap kebenaran. Mereka tidak boleh mengatakan “apa pun yang merugikan proyek adalah benar”, dan tidak boleh mengatakan “apa pun yang menguntungkan pembangunan adalah benar”. Ukuran moralnya adalah: apakah klaim itu benar? Apakah bukti cukup? Siapa yang menanggung risiko? Siapa yang memperoleh manfaat? Siapa yang suaranya didengar? Apa yang terjadi jika prediksi kita salah?
Burden of proof harus berlaku dua arah. Bagi yang menuduh geothermal menyebabkan gempa 15 Agustus, beban pembuktian ada pada mereka: harus menunjukkan proyek mana, lokasi sumur, volume dan tekanan injeksi, hubungan spasial-temporal, migrasi seismicity, dan model kausal yang masuk akal. Tanpa itu, klaim tersebut hanyalah hipotesis. Bagi yang menyatakan geothermal Flores aman, beban pembuktian juga ada: AMDAL yang kredibel, independent risk assessment, seismic hazard assessment, sistem monitoring, protokol darurat, pengelolaan reinjeksi dan H?S, hak atas tanah, community consent, dan mekanisme penghentian jika risiko meningkat.
Mataloko tidak boleh dijadikan bukti deduktif bahwa semua geothermal pasti gagal. Tetapi Mataloko juga tidak boleh diabaikan sebagai “kegagalan masa lalu yang tidak relevan”. Ia harus dibedah secara independen: apa yang sebenarnya salah—eksplorasi, teknologi, pengelolaan fluida, tata kelola, atau kombinasi semuanya? Tanpa bedah yang jujur, baik pihak pro maupun kontra sama-sama berargumentasi dari posisi ideologis.
Gereja tidak harus menjadi pro-geothermal atau anti-geothermal. Gereja seharusnya menjadi penjaga martabat manusia, keutuhan ciptaan, kebenaran, dan ruang deliberasi publik. Artinya, Gereja wajib mengatakan: jangan menjadikan korban sebagai alat pembenaran bagi agenda politik, ekonomi, maupun ideologi energi.
Jangan menjadikan ketakutan masyarakat sebagai alasan untuk menghentikan dialog ilmiah. Dan jangan menjadikan kebutuhan energi sebagai alasan untuk mengorbankan masyarakat yang menanggung risikonya.
Posisi yang paling rasional adalah ini: Gempa Flores 15 Agustus 2026 jangan dipakai sebagai bukti untuk menuduh geothermal sebagai penyebab gempa. Tetapi gempa tersebut juga tidak boleh dipakai sebagai bukti bahwa geothermal Flores pasti aman. Itulah garis demarkasi antara ilmu pengetahuan dan propaganda.
Dan dalam konteks kemanusiaan, ada prinsip yang bahkan lebih mendasar: korban tidak boleh dijadikan amunisi dalam perang narasi. Gempa bukan milik kelompok pro-geothermal. Gempa juga bukan milik kelompok anti-geothermal. Ia adalah tragedi kemanusiaan.
Karena itu, tugas pertama Gereja dan para pejuang kemanusiaan bukan memenangkan perdebatan tentang geothermal, melainkan menyelamatkan manusia, mendampingi korban, memulihkan kehidupan, menjaga martabat masyarakat, dan memastikan bahwa setiap keputusan pembangunan setelah bencana dibuat berdasarkan kebenaran, bukti, kehati-hatian, dan keadilan.
Baru setelah itu kita bertanya dengan tenang: geothermal seperti apa yang layak bagi Flores—di mana, untuk siapa, dengan risiko apa, dengan teknologi apa, dengan persetujuan siapa, dan dengan siapa yang menanggung akibat jika ia gagal? Itulah pertanyaan yang jauh lebih sulit, dan jauh lebih penting, daripada sekadar “pro atau kontra geothermal”.
Komentar