OPINI Politeknik Cristo Re Merajut Mimpi 16 Sep 2026 15:28
Semoga mimpi ini bukan hanya dirajut namun kita mampu merealisasikannya secara bersama.
Oleh: Ignatius Iryanto*
Ketika pada tanggal 4 September 2026 hari jumat Siang, Bapak Bupati Sikka: Juventus Prima Yoris Kago, memberi motivasi kepada 126 mahasiswa baru Politeknik Cristo Re, saya bersyukur dan mencatat beberapa point penting, yang kembali ditegaskan oleh beliau. Sebagai aktivis organisasi sejak masa muda, forum seperti itu seperti sebuah repetisi atau dejavu baginya. Dinamika yang beliau ciptakan mengena di suasana jiwa para generasi muda tersebut.
Ijasah itu penting, namun lebih penting lagi adalah karakter dan kompetensi kalian. Jaman sekarang perusahaan-perusahaan tidak lagi bertanya apa ijasahmu, berapa IPK-mu, namun apa yang bisa kamu buat, lakukan, kerjakan serta produksi. Setelah itu karaktermu akan diamati untuk menentukan berapa lama kamu bertahan di tempat itu dan apakah kamu layak dikembangkan dan berkembang bersama perusahaan itu. Itu adalah beberapa penegasan yang memotivasi para mahasiswa baru tersebut, agar bangga dididik di Lembaga Pendidikan Politeknik Cristo Re yang memang mengutamakan skill dan karakter.
Pada kesempatan terakhir, beliau mengemukakan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa dari Pemda Sikka lewat program 1 keluarga miskin 1 sarjana. Beliau mengemukakan pandangannya bahwa akan lebih efektif untuk memberikan beasiswa dalam program itu kepada mahasiswa yang segera mendapatkan pekerjaan setelah lulus daripada memberikannya kepada mahasiswa yang setelah lulus sangat lama menjadi pengangguran sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan.
Ekosistem yang dibangun oleh PT Triputra Edukasi Nusantara di mana Politeknik Cristo Re berada di dalamnya, menyediakan kesempatan itu dengan prinsip dan moto: kuliah singkat cepat kerja. Tentu ekosistem itu harus dioptimalkan oleh mahasiswa sendiri dengan bekerja keras, disiplin dan sikap pantang menyerah. Kabag Kesra kabupaten Sikka yang datang bersama bapak Bupati langsung berkordinasi dengan Romo Direktur dan data-data mahasiswa miskin langsung dikirimkan ke tim Kesra. Tentu data mahasiswa yang berasal dari kabupaten Sikka dan tergolong miskin, desil 1 sampai dengan desil 5, menurut standard yang digunakan oleh Badan Pusat Statistik saat ini. Para mahasiswa tentu menunggu dengan deg-degan apakah mereka akan digabungkan dalam penerima program beasiswa 1 KK miskin dan 1 sarjana tersebut?
Tujuannya sebenarnya adalah bahwa: satu KK miskin memiliki 1 anak lulusan perguruan tinggi yang menjadi motor penggerak ekonomi keluarga yang mampu menarik saudara-saudaranya untuk juga mandiri. Lalu tidak perlu lulusan Universitas dengan tingkat sarjana mestinya. Di sana esensinya: pengentasan kemiskinan dan pendorong kesejahteraan rakyat. Itu sebabnya pendekatan oleh Bupati Sikka yang lebih memilih mendukung mahasiswa yang lebih cepat bekerja adalah pilihan strategis dan tepat untuk daerah tertinggal seperti kabupaten-kabupaten di Flores ini. Semoga para bupati lain di Flores juga memiliki komitmen seperti ini.
Sebenarnya pilihan strategis seperti itu juga memiliki kelemahan yang juga bersifat sistemik. Selama Flores tidak memiliki industri yang memadai. Tenaga-tenaga terampil yang dididik, dipersiapkan dan dibantu dengan beasiswa itu, terpaksa mencari pekerjaan di luar Sikka, bahkan di luar Flores hingga ke luar Indonesia. Mereka akan mendapatkan pengalaman, gaji yang cukup, serta peluang untuk berkembang di luar daerah. Benefit buat daerah terbatas pada transferan anak ke orang tuanya. Tentu anak yang berbakti akan menggunakan kekuatan ekonominya untuk pengembangan saudara-saudaranya. Ini jauh lebih berarti dibandingkan dengan situasi tanpa pekerjaan atau pekerjaan lokal dengan gaji sangat rendah, seperti sekarang ini.
Namun tetap kurang optimal untuk pengembangan daerah sendiri.
Tulisan ini ingin mengusulkan pola kerja sama yang bisa dibangun antara pemerintah daerah dengan institusi Pendidikan Vokasi secara umum agar benefit yang diperoleh daerah lebih optimal. Dalam hal ini Politeknik Cristo Re hanya digunakan sebagai contoh Pendidikan vokasi.
Kolaborasi Desa dengan Politeknik Cristo Re
Beasiswa yang diberikan oleh Bupati Sikka akan lebih optimal benefitnya buat daerah jika anak yang dibantu, bukan hanya berbasiskan desil namun juga berbasiskan potensi desanya.
Maksudnya demikian, jika seleksinya dibuat jauh sebelumnya, desa-desa bisa memetakan dulu potensi desanya. Kita di Flores, umumnya tiap desa memiliki komoditas pertahian, destinasi pariwisata, atau di tepi pantai hasil perikanan. Untuk desa di pegunungan maupun di pesisir yang potensinya berupa komoditi perkebunan atau perikanan, anak dari desanya diberi beasiswa ke prodi teknik mesin dan prodi perawatan mesin otomotif. Misinya dari awal adalah untuk menciptakan mesin atau alat untuk pemrosesan hasil komoditi di desanya itu. Untuk biaya kuliahnya dari programnya pak Bupati namun untuk biaya pembuatan tugas akhir; di mana dia ditugaskan untuk memproduksi mesin-mesin yang tergolong Teknologi Tepat Guna buat desanya bisa diambil dari dana desa, bantuan APBN. Jika dia lulus dengan tugas akhir seperti ini, maka dia sudah memberikan nilai tambah bagi komoditi di desanya. Yang belajar di prodi otomotif bertanggung jawab untuk perawatan mesin-mesin itu, khususnya mesin-mesin yang memiliki komponen penggerak.
Untuk desa-desa dengan potensi pariwisata, anak-anak dari desa itu bisa dididik di program studi ekowisata, dan dipersiapkan agar mampu mengembangkan desanya sebagai destinasi wisata, menata pengelolaannya dan menata system guide bagi touris-touris yang ke situ. Semua kompetensi itu dilatih di prodi ekowisata Politeknik Cristo Re. Biaya untuk penelitian tugas akhirnya baik itu terkait dengan pengembangan destinasi baru, manajemen pariwisata desa, penyiapan tenaga lokal sebagai guide, baik untuk wisata alam, wisata budaya, wisata religius dan wisata bahari dapat didanai juga dari dana desa, setelah biaya kuliahnya dari program beasiswa pak Bupati.
Dengan pola seperti ini, benefit buat daerah jauh lebih besar ketimbang anak langsung bekerja di luar Flores dan benefitnya hanya dari pengiriman uang anak ke orang tua mereka atau ke keluarganya.
Bisa terjadi setelah lulus dia memang ingin langsung bekerja di luar Flores. Bisa dibuat perjanjian di depan dengan Desa atau dengan pemerintah daerah, agar anak ini minimal bekerja di desa selama sekian tahun baru boleh berangkat bekerja di luar Flores/NTT. Tentu politeknik Cristo Re Sendiri harus menyediakan fasilitas riset dan produksi serta SDM yang handal untuk kebutuhan kolaborasi ini.
Realisasinya tidak semudah saya menuliskannya, namun kita tidak akan pernah beranjak maju jika kita tidak memulai suatu terobosan, walaupun ada resiko gagal.
Terobosan kedua yang bisa dilakukan adalah menghadirkan industri komoditi dalam skala menengah di bumi Flores ini. Ini PR yang tidak mudah dilakukan karena industri akan masuk jika jelas model bisnisnya, jelas sumber SDM terampil yang ada, jelas ketersediaan energi listrik yang stabil. Tanpa prasyarat-prasayarat itu, Flores hanya punya mimpi tentang hadirnya industri di sini tanpa pernah mampu merealisasikannya.
Langkah ketiga yang bisa diambil, jika langkah pertama dianggap terlalu sulit, langkah kedua juga tidak mungkin karena misalnya tidak ada kejelasan mengenai pilihan sumber energi yang stabil dan memadai, yakni dengan mengirimkan anak-anak kita bekerja di luar negeri.
Menurut data dari AI, Cabo Verde, negara yang mencuri perhatian dunia lewat world cup 2026 kemarin dengan penduduk hanya 530.000 jiwa dan luas pulau 4.033 km2, terdiri dari 10 pulau utama, sumber ekonomi berasal dari pariwisata, perdagangan, transportasi dan terutama adalah remittances dari komunitas diaspora Cabo Verde yang bekerja di luar negeri, karena warga Cabo Verde yang bekerja di luar negeri lebih banyak dari warganya yang tinggal di Cabo Verde.
Negara ini sangat mirip dengan Pulau Flores. Sama-sama merupakan pulau vulkanik, penduduknya mayoritas beragama Katolik, sama-sama memiliki jejak peradaban Portugis, dan penduduknya sama-sama memiliki kecenderungan untuk merantau dan bekerja di luar. Penduduk Flores dua kali lebih banyak dari penduduk Cabo Verde. Luas Pulau Flores sendiri adalah 14.300 Km persegi, belum ditambah dengan pulau-pulau Lembata, Adonara, Solor, Pemana, palue, Ende, dan lain-lain, jauh lebih luas dari Cabo Verde.
Jadi, jika kita menolak ada supply energy yang memadai di sini, menolak fase industri di pulau ini, kita tetap punya pilihan dengan meniru polanya Cabo Verde, tentu sebagai sebuah pulau yang secara bersama mendesain kemajuan bersama. Bukan sebuah provinsi dan tentu bukan sebagai sebuah negara. Salah satunya adalah mendorong sebanyak mungkin warga kita bekerja di luar negeri.
Pilihan seperti itu pun membutuhkan kerja keras bersama. Saat ini kekatolikan kita serta semangat untuk merantau diwujudkan dalam kesediaan untuk menjadi Misionaris Katolik di berbagai negara dan ini jelas membanggakan kita. Namun menurut saya, itu tidak cukup. Kita perlu mendorong keberanian kaum awam untuk menjadi diaspora awam Flores yang bekerja di berbagai negara. Jaringan biara yang memiliki misionaris di berbagai negara dapat sangat berperan dalam mempersiapkan kaum awam untuk itu dengan minimal dua hal bisa dilakukan. Pertama, membuat pusat trainning bahasa asing sesuai negara asal biara yang ada di Flores untuk kaum awam, serta kedua membuka jaringan peluang kerja di negara tersebut. Ini bisa dilakukan dalam kerangka kerja sama antara keuskupan di negara tersebut dengan keuskupan kita di sini. Jika ada potensi pendanaan bisa dibuat kampung-kampung Inggris, Jerman, Jepang, Italia, China di kabupaten-kabupaten di Flores; di mana kampung-kampung ini didesain agar ada suasana budaya negara tersebut sehingga pelajaran bahasanya dilakukan secara intensif.
Di berbagai daerah saat ini sudah ada kampung Inggris yang difungsikan sebagai pusat pembelajaran bahasa Inggris. Flores dengan jaringan misionarisnya mesti bisa lebih dari itu. Terasa sulit? saya yakin tidak, tinggal kita mau jalankan atau tidak. Pasti butuh waktu dan energi, sudah pasti. Anggap saja itu salib kecil yang harus dipikul. Juga letakan ini dalam konteks mengirim misionaris awam ke dunia selain misionarus klerus yang selama ini sudah Flores sumbangkan untuk Gereja Katolik dunia.
Mimpi ini ada dan coba dirajut di Cristo Re, dua langkah yang ada dalam jangkauan Cristo Re adalah mengasah kompetensi serta membina karakter mereka. Ekosistem untuk ke luar Flores dan keluar negeri dipersiapkan oleh Triputra Edukasi Nusantara. Akan lebih kuat jika ada kolaborasi internal Flores, baik jaringan misionaris yang basenya ada di berbagai biara yang masuk ke Flores maupun jaringan Pemerintah Daerah.
Semoga mimpi ini bukan hanya dirajut namun kita mampu merealisasikannya secara bersama.
* Penulis adalah Chief Operational Officer PT Triputra Edukasi Nusantara, Wadir operasional Politeknik Cristo Re – Keuskupan Maumere.
Komentar