Breaking News

REFLEKSI Harga Dirimu: Anda Sendiri yang Tentukan 20 Oct 2026 17:26

Article image
Valens Daki-Soo, pengusaha, Pendiri & CEO VDS Group (Foto: Ist)
Orang yang merdeka tidak menyerahkan kunci kebahagiaannya ke tangan orang lain. Jika kita hidup hanya untuk disukai, kita menjadi budak dari penilaian orang.

Oleh: Valens Daki-Soo*

 

Banyak orang berpikir harga dirinya ditentukan oleh orang lain. Dikira harga dirinya tergantung pada seberapa banyak orang yang menerimanya, menyukainya, atau memberinya tepuk tangan.

Padahal, tidak. Sama sekali tidak.

Harga diri Anda tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang yang menyukai Anda.

Tidak ada manusia di dunia ini yang bisa menyenangkan semua orang. Dan memang tidak perlu.

Jadi, kalau Anda terlalu sibuk berusaha menyenangkan semua orang, menghindari penolakan dengan cara apapun, dan terus-menerus menyesuaikan diri dengan harapan orang lain, Anda sedang kehilangan arah.

Bukan hanya kehilanhan arah. Malah, perlahan, Anda sedang kehilangan diri Anda sendiri.

Anda jadi hidup berdasarkan standar dari luar, bukan berdasarkan nilai yang Anda yakini di dalam.

Berhenti Hidup Berdasarkan Penilaian Luar

Kita hidup di zaman di mana penilaian datang begitu cepat. Satu unggahan di medsos bisa mendapat ratusan bahkan ribuan "like" atau justru dicibir. Pujian dan hinaan hanya berjarak satu jempol. 

Jika harga diri kita ditentukan oleh tangan dan ucapan orang lain, maka hidup kita akan naik-turun seperti harga saham -- tidak pernah tenang.

Filsuf Stoik, Epictetus, sudah mengingatkan 2000 tahun lalu, "Ada hal-hal yang berada dalam kendali kita, dan ada yang tidak. Opini orang lain tentang kita termasuk yang tidak berada dalam kendali kita." 

Bagi Stoik, orang yang merdeka adalah orang yang tidak menyerahkan kunci kebahagiaannya ke tangan orang lain. Jika kita hidup hanya untuk disukai, kita menjadi budak dari penilaian orang.

Senada dengan itu, Marcus Aurelius menulis dalam "Meditations", "Betapa banyak waktu yang terbuang karena orang terlalu memperhatikan apa yang dikatakan, dilakukan, atau dipikirkan tetangganya." 

Dia mengajak kita kembali ke dalam -- hidup selaras dengan prinsip dan akal sehat kita sendiri, bukan kebisingan di luar.

Tidak Disukai Bukan Bencana

Mari sadari bahwa tidak disukai bukan bencana. Justru di sanalah Anda belajar menjadi versi diri Anda yang lebih otentik.

Psikolog Abraham Maslow menyebut kebutuhan untuk selalu disukai dan diterima sebagai bagian dari kebutuhan akan rasa aman yang belum dewasa. Manusia yang sehat secara psikologis akan bergerak menuju aktualisasi diri -- berani menjadi dirinya sendiri, meski tidak semua orang setuju.

Psikolog Austria, Alfred Adler, bahkan lebih tajam. Dalam bukunya "The Courage to Be Disliked", Adler berkata bahwa semua masalah manusia adalah masalah relasi, dan kebebasan sejati dimulai ketika kita memiliki "keberanian untuk tidak disukai". 

Jika Anda ingin bebas, Anda harus berani mengecewakan ekspektasi orang lain yang tidak sejalan dengan nilai hidup Anda.

Psikolog modern, Brené Brown, juga menegaskan, otentisitas bukanlah tentang apa yang kita katakan, melainkan tentang konsistensi antara apa yang kita yakini dan bagaimana kita hidup. 

Pribadi yang otentik mungkin tidak disukai semua orang, tapi dia disegani karena dia jujur dan utuh.

Nilai Diri vs Penilaian Orang

Anda hebat karena nilai diri Anda, bukan karena penilaian siapapun.

Penilaian orang lain itu fluktuatif. Hari ini mereka memuji, besok mereka mencela. Hari ini mereka dekat, besok mereka menjauh. Jika hidup Anda didasarkan pada itu, Anda akan hidup dengan lelah.

Nilai diri adalah jangkar. Dia adalah kompas internal: prinsip, integritas, kerja keras, kejujuran, iman yang Anda pegang.

Sekali lagi, harga dirimu bukan ditentukan oleh berapa banyak orang yang menyukaimu, tapi oleh seberapa jujur Anda hidup sesuai prinsip sendiri.

Jadi, jangan takut tidak disukai. Takutlah jika Anda harus mengkhianati hati nurani sendiri hanya agar disukai.

Itulah pribadi yang otentik alias sejati -- pribadi yang tidak sibuk mencari panggung, tetapi setia menjaga nilai di dalam dirinya. 

Dunia lebih menghormati orang yang otentik, punya karakter kuat dan prinsip sendiri, daripada orang yang hanya pandai menyenangkan semua orang.

 

*) Penulis adalah entrepreneur; peminat filsafat dan psikologi; Pendiri & CEO VDS Group (PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa, Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus"/VDS Law Firm)

Komentar