Breaking News

TAJUK Indonesia Berdaulat, Trisakti, dan Bung Karno yang Visioner 06 Mar 2025 06:59

Article image
Negarawan, orator, konseptor dan proklamator kemerdekaan Indonesia Bung Karno. (Foto: Ist)
Mengambil inspirasi dan pemikiran Bung Karno yang visioner, Indonesia harus segera berbenah diri untuk mewujudkan politik, ekonomi, dan budaya yang berdaulat.

Pada 17 Agustus 1964, dalam sebuah pidato yang berjudul Tahun ViVere Pericoloso, Bung Karno menekankan tiga paradigma besar yang bisa menjadi pendorong bagi bangsa Indonesia untuk tumbuh menjadi bangsa yang besar dan berdaulat.

Tiga paradigma itu disebut Trisakti. Yaitu, tiga daulat: berdaulat dalam politik, berdaulat dan berdikari dalam ekonomi, serta berdaulat dan berkepribadian dalam kebudayaan. 

Ringkasnya, bagi Bung Karno, negara Indonesia yang berdaulat adalah negara yang mampu berdiri di atas kaki sendiri, tidak bergantung dari negara lainnya dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya.

Paling kontroversial dan populer adalah ketika Soekarno mengucapkan kalimat: "Go to hell with your aid!" atau "Persetan dengan bantuanmu!".

Kalimat tersebut dilontarkan Soekarno kepada Amerika Serikat bukan tanpa alasan. Pada awal kemerdekaan, Soekarno murka dengan sikap Amerika Serikat yang memberikan bantuan kepada Indonesia dengan mengharap imbalan.

Bung Karno tidak membenci Amerika Serikat tetapi negara lain, tetapi ia ingin menempatkan Indonesia sebagai mitra yang sejajar dan berdaulat dengan negara lainnya. Bila perlu Indonesia menginternasional, menjadi rujukan dalam persahabatan bangsa-bangsa.

Itulah sebabnya Bung Karno, pada 15 Mei 1956, Bung Karno mengambil langkah berani dengan memperkenalkan Pancasila ketika berpidato di hadapan Kongres Amerika Serikat.

Bisa dibayangkan Bung Karno mempromosikan Pancasila di tengah upaya Amerika Serikat menginternasionalisasi paham liberalisme-kapitalisme.

Seruan negara berdaulat relevan dengan persoalan saat ini. Di tengah multilateralisme global, negara-negara miskin dan berkembang semakin tidak berdaya berhadapan dengan negara-negara maju.

Ambil contoh kasus Ukraina. Beberapa hari lalu, Presiden Donald Trump dan Presiden Volodymyr Zelenskiy berdebat di Gedung Putih, karena Amerika Serikat menginginkan mineral Ukraina sebagai ganti rugi atas bantuan mereka. Di satu pihak, Amerika Serikat menginginkan perdamaian, yang tentunya berpeluang membuka aneksasi 20 persen wilayah Ukraina masuk wilayah Rusia.

Ukraina sangat membutuhkan bantuan militer dan kemanusiaan dari Amerika. Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022 lalu, Kongres AS setuju untuk memberikan bantuan senilai 175 miliar USD (sekitar Rp. 2.884 triliun) kepada Kyiv. Pada Desember, sebelum eks Presiden AS Joe Biden turun tahta, AS mengumumkan tambahan bantuan sebesar 5,9 miliar USD (sekitar Rp.97 triliun).

Bantuan AS untuk Ukraina sendiri beragam, mulai dari bantuan militer hingga dana. Menurut The Guardian, sebagian dana yang dikirim AS ke Ukraina membantu negara itu membiayai gaji guru dan dokter, serta menjaga jalannya pemerintahan sehingga Ukraina bisa fokus memerangi invasi Rusia.

Kini, di era Trump, bantuan Amerika Serikat kepada Ukraina sementara ditunda, yang bisa melemahkan angkatan tempur Ukraina. 

Ketergantungan kepada negara lain akan sangat berbahaya, karena jika negara maju tersebut mengalami perubahan di ranah domestik, maka akan mempengaruhi negara tersebut.

Mengambil inspirasi dan pemikiran Bung Karno yang visioner, Indonesia harus segera berbenah diri untuk mewujudkan politik, ekonomi, dan budaya yang berdaulat.

Dalam konteks ekonomi, misalnya, politik pangan kita seharusnya adalah mencapai kedaulatan dan kemandirian pangan. Karena itu, ketergantungan kepada impor harusnya segera dibatasi, bukan sebaliknya setiap tahun impor komoditi pangan semakin diperluas.

Bersama kita bisa!

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar