Breaking News

TAJUK Mulutmu, Harimaumu 18 May 2026 07:27

Article image
Presiden Prabowo Subianto sedang memberikan arahan. (Foto: Ist)
Seorang pemimpin tentu boleh menggunakan humor politik untuk mendekatkan diri kepada rakyat. Namun dalam situasi ekonomi yang sensitif, publik lebih membutuhkan rasa aman daripada kelakar.

Pada Sabtu, 16 Mei 2026, Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Dalam agenda tersebut, Prabowo meresmikan Museum Ibu Marsinah dan operasional 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Dalam pidatonya di sela peresmian koperasi desa, Prabowo menyatakan, “mau dolar AS berapa ribu kek, di desa nggak pakai dolar,” saat menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp17.600 per dolar AS. Pernyataan ini menuai diskusi dan kritik dari publik.

Pernyataan Prabowo mungkin dimaksudkan sebagai upaya pemimpin untuk menenangkan publik dan menegaskan ketahanan ekonomi rakyat kecil. Namun dalam sistem ekonomi modern yang bergerak cepat oleh persepsi dan sentimen, ucapan seorang kepala negara tidak pernah berhenti sebagai candaan politik semata.

Seorang presiden bukan hanya pemegang kekuasaan administratif, melainkan juga simbol psikologi negara. Setiap kata yang keluar dapat menjadi penenang, tetapi juga dapat berubah menjadi pemicu keresahan. Dalam ekonomi global yang saling terhubung, komunikasi politik mampu memengaruhi kepercayaan publik, perilaku pasar, hingga arah investasi.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui Agenda Setting Theory yang diperkenalkan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw dalam buku Setting the Agenda: The Mass Media and Public Opinion (1997). Keduanya menjelaskan bahwa tokoh publik dan media memiliki kemampuan menentukan isu mana yang dianggap penting oleh masyarakat.

Ketika Prabowo memilih menyoroti bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar dalam kehidupan sehari-hari, pemerintah sebenarnya sedang membangun narasi bahwa ekonomi rakyat kecil tetap aman dan terkendali.

Masalahnya, publik modern tidak hanya menangkap isi pesan, tetapi juga membaca nada, sensitivitas, dan keseriusan pemimpin dalam menghadapi situasi. Saat Rupiah melemah tajam, masyarakat berharap mendengar langkah konkret pemerintah untuk menjaga stabilitas harga dan pasar.

Karena itu, gaya komunikasi Prabowo yang terlalu santai berpotensi ditafsirkan sebagai bentuk pengabaian terhadap keresahan ekonomi yang nyata di lapangan.

Dalam teori ekonomi, hubungan antara komunikasi dan perilaku pasar dijelaskan melalui konsep Animal Spirits dari John Maynard Keynes dalam buku The General Theory of Employment, Interest and Money (1936).

Keynes menegaskan bahwa ekonomi tidak hanya bergerak oleh data dan kebijakan, tetapi juga oleh psikologi manusia: rasa percaya, optimisme, ketakutan, dan harapan. Investor membeli saham karena yakin kondisi akan membaik. Pelaku usaha menahan produksi karena takut rugi. Konsumen mengurangi belanja karena khawatir harga terus naik.

Konsep tersebut kemudian diperkuat oleh George Akerlof dan Robert Shiller dalam buku Animal Spirits: How Human Psychology Drives the Economy, and Why It Matters for Global Capitalism (2009). Mereka menjelaskan bahwa komunikasi elite politik dapat membentuk sentimen ekonomi secara langsung. Pernyataan pejabat negara bukan sekadar retorika, melainkan variabel yang ikut menggerakkan pasar.

Karena itu, kritik publik terhadap ucapan Presiden Prabowo bukan hanya soal etika komunikasi, melainkan juga soal dampak ekonomi yang mungkin ditimbulkan. Memang benar masyarakat desa tidak bertransaksi menggunakan Dolar Amerika Serikat secara langsung. Namun harga kedelai impor untuk tahu dan tempe, bahan baku industri, alat kesehatan, hingga energi tetap bergantung pada kurs Dolar. Ketika Rupiah melemah, biaya produksi meningkat dan harga kebutuhan pokok ikut naik. Dampaknya tetap bermuara kepada rakyat kecil.

Pasar saham dan dunia usaha juga sangat sensitif terhadap komunikasi pemerintah. Dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, investor membutuhkan sinyal ketenangan yang berbasis strategi dan kepastian kebijakan.

Pernyataan yang dianggap meremehkan pelemahan Rupiah dapat memunculkan persepsi negatif tambahan terhadap kondisi ekonomi nasional dan memengaruhi sentimen pasar. Di situlah pepatah lama “mulutmu, harimaumu” menemukan maknanya.

Pepatah “mulutmu, harimaumu” mengingatkan bahwa kata-kata dapat menjadi kekuatan sekaligus ancaman bagi pengucapnya. Dalam konteks kepemimpinan nasional, ucapan seorang presiden bukan hanya didengar rakyat, tetapi juga dicermati pelaku pasar, investor, dan dunia internasional. Karena itu, komunikasi publik membutuhkan kehati-hatian, empati, dan ketepatan membaca situasi.

Seorang pemimpin tentu boleh menggunakan humor politik untuk mendekatkan diri kepada rakyat. Namun dalam situasi ekonomi yang sensitif, publik lebih membutuhkan rasa aman daripada kelakar. Sebab dalam dunia modern, pidato politik bukan sekadar konsumsi media, melainkan juga sinyal ekonomi. Dan sering kali, stabilitas negara tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh kata-kata.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar