Breaking News

KEUANGAN Indonesia Tolak Pinjaman hingga Rp 514 Triliun dari IMF-Bank Dunia, Menkeu Purbaya: Kondisi Fiskal Cukup 23 Apr 2026 13:14

Article image
Menkeu RI, Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: Ist)
Pemerintah memilih mengandalkan kekuatan domestik terlebih dahulu, seiring dengan kondisi fiskal yang dinilai masih terjaga.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Pemerintah Indonesia memutuskan menolak tawaran pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia senilai 25 miliar hingga 30 miliar Dollar AS, di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik.

Angka tersebut setara sekitar Rp 428,5 triliun hingga Rp 514,2 triliun.

Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai kondisi fiskal Indonesia saat ini masih cukup kuat, sehingga tambahan utang dari lembaga internasional tersebut belum diperlukan.

“25 sampai 30 miliar Dollar AS kalau mau pakai boleh, itu dipakai untuk beberapa negara yang butuh. Saya bilang, sekarang saya belum butuh karena kita punya cadangan sendiri,” kata Menkeu Purbaya kepada awak media di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (21/4/2026). 

Purbaya menjelaskan, pemerintah masih memiliki bantalan fiskal berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang mencapai sekitar Rp 420 triliun atau setara hampir 25 miliar Dollar AS.

Cadangan tersebut dinilai cukup untuk menjaga stabilitas keuangan negara tanpa harus menambah utang baru. 

Menurut Purbaya, keputusan ini diambil sebagai bagian dari strategi menjaga kemandirian fiskal, sekaligus memastikan pengelolaan utang tetap dalam batas aman di tengah tekanan global.

“Kita punya ruang, jadi kita pakai yang ada dulu. Kalau kurang baru kita cari, tetapi sekarang masih cukup,” katanya. 

Purbaya menegaskan, setiap kebijakan fiskal dirancang secara terukur dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang, bukan sekadar respons jangka pendek terhadap situasi global.

“Pokoknya kita desain kebijakan dengan baik, kita hitung dampaknya, bukan kira-kira,” ungkapnya.

Purbaya juga mengungkapkan respons unik dari pihak IMF dan Bank Dunia saat Indonesia menolak tawaran tersebut. 

Menurut dia, penolakan itu membuat pihak pemberi pinjaman kehilangan potensi pendapatan dari bunga. 

“Ya, mukanya asem karena tidak jadi pinjam, tidak dapat bunga,” ucapnya. 

Tawaran pinjaman tersebut terjadi saat kunjungan Purbaya ke Washington DC, Amerika Serikat, pada 13 sampai 17 April 2026. 

Purbaya menyebut, dalam pertemuan itu, IMF dan Bank Dunia menawarkan fasilitas pembiayaan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak konflik global, termasuk perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. 

Meski demikian, pemerintah memilih mengandalkan kekuatan domestik terlebih dahulu, seiring dengan kondisi fiskal yang dinilai masih terjaga. 

Langkah itu sekaligus mencerminkan upaya pemerintah menjaga disiplin fiskal di tengah ketidakpastian global, tanpa bergantung pada pembiayaan eksternal yang berpotensi menambah beban bunga di masa depan.

--- Guche Montero

Komentar