LINGKUNGAN HIDUP Mengetahui Arti Fenomena 'Bediding' dan Beberapa Wilayah di Indonesia yang Sedang Alami 16 Jul 2024 20:43
Ada beberapa wilayah yang terdampak menurut paparan Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Sebuah fenomena alam unik yang sedang terjadi saat ini yakni suhu udara yang begitu dingin dan terjadi di musim kemarau menjadi pertanyaan bagi semua insan yang merasakan.
Fenomena tersebut disebut fenomena Bediding yang terjadi akibat adanya Angin Monsun Australia bertiup dari Australia menuju benua Asia melewati wilayah Indonesia dan perairan Samudera Hindia yang juga memiliki suhu permukaan laut relatif rendah atau dingin.
Hal itu diungkapan oleh Guswanto yang merupakan Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ketika dihubungi oleh detikcom pada hari ini (16/7).
"Suhu dingin pada musim kemarau atau disebut fenomena 'Bediding' disebabkan adanya Angin Monsun Australia.
Angin Monsun Australia bertiup dari Australia menuju benua Asia melewati wilayah Indonesia dan perairan Samudera Hindia yang juga memiliki suhu permukaan laut relatif rendah atau dingin,"ungkap Guswanto.
Lanjut Guswanto, Angin Monsun Australia diketahui bersifat kering dan sedikit membawa uap air, apalagi terjadi pada malam hari.
"Angin Monsun Australia diketahui bersifat kering dan sedikit membawa uap air, sehingga memengaruhi musim kemarau di Indonesia. Apalagi pada malam hari, di saat suhu mencapai titik minimumnya," ucapnya lagi.
Guswanto menyebutkan fenomena suhu dingin ini akan terus terjadi menjelang musim kemarau.
"Fenomena suhu dingin akan terus terjadi menjelang puncak musim kemarau di bulan Juli-Agustus 2024. Bahkan kemungkinan bakal terjadi sampai September," sebut Guswanto.
Ada beberapa wilayah yang terdampak menurut peparan Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tersebut.
"Suhu dingin yang terjadi belakangan ini terjadi di wilayah bagian selatan khatulistiwa, seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara," papar Guswanto.
Disebutkan bahwa saat ini kondisi suhu lebih dingin tidak berkaitan dengan clear sky atau kondisi langit tanpa awan.
Saat ini, kondisi di wilayah Indonesia berupa angin yang tenang di malam hari menghambat pencampuran udara, sehingga udara dingin terperangkap di permukaan bumi.
Daerah dataran tinggi atau pegunungan cenderung lebih dingin karena tekanan udara dan kelembaban yang lebih rendah. Kondisi dingin ini merupakan fenomena umum yang terjadi di Indonesia saat musim kemarau.*
--- Hendrik Penu
Komentar