REFLEKSI Jangan Menilai Orang/Sesuatu dari Kulit Luar 23 Jan 2024 08:14
Banyak kali kita memprasangkai sesama tanpa memahami sepenuhnya siapa dia dan apa kondisi yang melatarinya.
Oleh Valens Daki-Soo
Kerap kita dengar ungkapan populer ini, "Don't judge a book by its cover!" Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya.
Ungkapan bahasa Inggris yang sudah mendunia ini diambil dari novel karya George Eliot berjudul "The Mill on the Floss (1860).
Dari namanya, orang mengira, sang penulis adalah pria. Tapi sejatinya penulis kelahiran Warwickshire ini adalah seorang perempuan. Penulis sengaja mencantumkan nama pena seorang pria, karena pada masa itu, penulis pria lebih mendapat tempat di masyarakat Inggris.
Suatu ketika, tahun 2008, saya ditelepon seseorang yang mengaku bernama Adrijanto, dari kantor Pak James Riady, bos Lippo Group.
Agak terkejut saya menerima telepon tersebut meski memang waktu itu saya sering ber-SMS-an dengan Pak James. Pendek cerita, bertemulah saya dengan Pak Adri di lobi hotel Aryadutta, milik Lippo Group juga.
Pertama kali jumpa saya sempat mengira Pak Adrijanto ini 'messenger', semacam petugas kurir dari Lippo Group, sebuah grup usaha besar di negeri ini.
Kami ngobrol tidak terlalu lama, dan saya masih mengira beliau karyawan biasa. Tentu kita tidak memandang orang dari pangkat dan jabatan, namun penampilan luar itu bisa mengecoh.
Saat mau pamitan dan pulang, baru kami bertukaran kartu nama. Ternyata Pak Adrijanto adalah salah seorang Direktur di grup Lippo.
Pada suatu waktu saya akhirnya bertemu langsung Pak James (yang didampingi Pak Adrijanto, orang kepercayaannya itu), dan sikapnya yang rendah hati bikin saya risi.
Tak ada kesan "bikin diri inti" (ini ungkapan 'gaul' anak muda Flores, yang artinya "sok penting"). Konglomerat yang punya jet pribadi dan pergi rapat dari tempat ke tempat pakai helikopter pribadi itu justru menunjukkan respek yang tinggi kepada orang lain.
Cerita lain. Suatu ketika seusai operasi penyergapan pentolan teroris Dr. Azahari, saya ikut keluar dari ruang pertemuan di suatu tempat.
Dua kru TV swasta menunggu di lobi. Kami keluar, sejumlah perwira Densus 88 melangkah di depan bersama Pak Gories Mere, 'arsitek' operasi itu.
Bukannya mendekati Pak Gories Mere dan wawancarai beliau, kedua wartawan "salah" mendekati saya dan meminta komentar tentang operasi penindakan teroris.
Kaget karena saya yang ditanya, saya balik bertanya, "Teman-teman mencari siapa?"
"Bapak ini Pak Gories ya?"
"Lho, bukan. Saya cuma staf beliau."
"Pak Gories yang mana? Tadi diberi petunjuk sama pimpinan di kantor, beliau orang Flores kan?"
"Oh (saya manggut-manggut), kalian salah sangka, teman-teman. Muka saya memang Flores, tapi yang lebih bermuka Flores itu Pak Gories, beliau yang di depan itu."
Dari gaya bicara dan penampilannya, orang mungkin tidak menyangka sang jenderal yang bereputasi internasional itu ternyata tidak 'gagah-gagahan', santun dan cenderung menghindari publikasi, tidak butuh popularitas.
Sahabat, kadang kita salah menilai orang lain hanya karena penampilan, ucapan atau kesan sekilas yang kita petik secara indrawi. "Persepsi indrawi" bisa keliru atau salah.
Makanya mahasiswa filsafat belajar bahwa pencerapan indrawi bisa menyesatkan jika tidak disertai penalaran logis yang memadai.
Wajah yang kadang 'judes' mungkin justru menyimpan kehangatan dan ketulusan. Pria bertampang galak boleh jadi memendam rindu yang membara. Pribadi yang tampak lemah secara fisik mungkin tangguh jiwanya.
Ada orang yang cacat tubuhnya namun intelektualitasnya bersinar benderang. Orang yang selalu bermanis-ria di wajahnya barangkali sedang memakai topeng untuk menutup kepedihan.
Jangan pernah melecehkan orang yang berstatus 'tidak jelas' baik ekonomi maupun sosial. Sering itu terjadi karena kita tidak tahu siapa dia sesungguhnya.
Banyak kali kita memprasangkai sesama tanpa memahami sepenuhnya siapa dia dan apa kondisi yang melatarinya. ***
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar