Breaking News

TAJUK Kecerdasan Buatan (AI) dan Peringatan Paus Fransiskus 25 Apr 2025 10:50

Article image
Paus Fransiskus (Foto: Ist)
Karena itu, Paus Fransiskus berharap kemajuan AI harus selalu disertai kemajuan etika dalam praksis penggunaannya.

Selama hidupnya, Paus Fransiskus selalu memperhatikan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI.

AI merupakan sistem komputer yang dirancang dengan kecerdasan hampir menyerupai manusia. Dalam AI ada proses simulasi kecerdasan yang diterapkan pada teknologi tertentu, memungkinkan AI untuk berpikir dan bertindak seperti manusia. 

Paus Fransiskus merefleksikan AI dan dampaknya bagi masa depan umat manusia dan alam  semesta. Perhatian tersebut tertuang dalam beberapa kesempatan, yakni pesannya dalam perayaan Hari Perdamaian ke-57 Sedunia pada 1 Januari 2024 dan Hari Komunikasi ke-58 Sedunia, dan di depan pertemuan pemimpin negara maju G-7 di Puglia, Italia pada 13-15 2024.

Paus Fransiskus juga berani dan terbuka berbicara tentang AI di hadapan para peserta konvensi internasional tentang Kecerdasan Buatan Generatif dan Paradigma Teknokratis yang diselenggarakan oleh Centesimus Annus Pro Pontifice Vatikan.

Menurut Paus Fransiskus, kemajuan teknologi AI adalah momentum untuk merefleksikan dan memaknai kembali arti kehadiran manusia, realitas dan alam semesta secara bena, bijaksana dan lebih mendalam.

Paus Fransiskus mengingatkan agar teknologi AI dimanfaatkan untuk mendukung hidup bersama manusia dan alam semesta.

AI harus menjaga dan mendukung martabat manusia, melindungi hak-hak kaum marginal dan tersisihkan, berkontribusi nyata membangun prakondisi tatanan masyarakat sosial yang adil dan setara, serta menciptakan perdamaian serta rekonsiliasi.

Namun, kenyataannya, Paus Fransiskus mencermati kehadiran AI justru memberikan dampak negatif bagi peradaban dan alam semesta. Fransiskus menyinggung bias ancaman algoritmik dalam teknologi AI dan meminta masyarakat mewaspadai agar logika kekerasan dan diskriminasi tidak mengakar dalam teknologi AI.

Kita bisa menambahkan konsekuensi negatif lain dari penyalahgunaan teknologi AI, seperti diskriminasi, intervensi pemilihan umum, kontrol penguasa terhadap masyarakat, pengucilan digital, dan meningkatnya individualisme yang memutus relasi individu dengan masyarakat sosial. Menurut Paus, semua faktor ini berisiko memicu konflik dan menghambat perdamaian.

Bahkan, menurut Paus Franisiskus, kemajuan AI menciptakan senjata-senjata perang otonom mematikan seperti penggunaan teknologi drone war di Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina.

Karena itu, Paus Fransiskus berharap kemajuan AI harus selalu disertai kemajuan etika dalam praksis penggunaannya. Kemajuan AI tidak boleh direduksi atas alasan teknokratis dan profit tetapi harus tetap menempatkan etika martabat manusia.

Teknologi AI tidak merendahkan nilai manusia, tetapi justru harus mempertegas peran manusia untuk menjaga dan melestarikan alam ciptaan.

Komputer dan algoritma tidak bisa menggantikan manusia dalam pengambilan keputusan. AI harus digunakan untuk hal-hal baik, tetapi jangan sampai manusia tergeser kemanusiaannya karena bergantung pada teknologi tersebut. Kehadiran nilai-nilai etis sangat penting untuk mencegah manipulasi AI untuk menciptakan konflik, kekerasan, dan perusakan alam.

Tanggapan Paus Fransiskus terhadap perkembangan teknologi AI harus dimaknai positif sebagai perwujudan nyata dari semangat keterbukaan (aggiarnamento) Gereja sejak Konsili Vatikan II, juga kerendahan hati untuk berdialog dengan dunia ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar