Breaking News

TAJUK Bertahan Saja Tidak Cukup? 27 Apr 2026 07:59

Article image
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: Ist)
Stabilitas dijaga, tetapi mesin pertumbuhan tetap dinyalakan, agar ketika tekanan global mereda, Indonesia tidak hanya selamat dari kebobolan tetapi juga siap mencetak gol pertumbuhan berikutnya.

Pemerintah saat ini sedang mengubah pendekatan dalam mengelola ekonomi di tengah tekanan global yang semakin kompleks. Arah kebijakan tidak lagi berjalan seperti biasa (business as usual), melainkan memasuki apa yang disebut sebagai “mode bertahan” (survival mode) untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa strategi tersebut mencerminkan cara pandang pemerintah dalam menghadapi kondisi ekonomi saat ini.
“Di kepala Presiden, kita sekarang berada dalam kondisi survival, bukan business as usual,” ujarnya dalam Simposium PT SMI 2026 di Jakarta baru-baru ini.

Istilah survival mode kemudian memicu perhatian kalangan ekonom. Secara umum, istilah ini dipahami sebagai sinyal kewaspadaan tinggi dalam menjaga indikator ekonomi utama, seperti pertumbuhan, daya beli, penerimaan negara, investasi, hingga penciptaan lapangan kerja.

Namun, penggunaan istilah tersebut juga tidak lepas dari risiko persepsi. Survival mode dapat dimaknai seolah-olah ekonomi sedang berada dalam fase krisis, bukan sekadar penyesuaian kebijakan. Karena itu, stabilitas ekonomi tidak cukup dibangun melalui narasi atau jargon semata, melainkan harus disertai kebijakan yang jelas, konsisten, serta komunikasi publik yang terukur.

Dalam kerangka kebijakan, survival mode mencerminkan pergeseran orientasi dari ekspansi menuju stabilisasi. Pemerintah kini lebih fokus menjaga daya beli, memastikan stabilitas fiskal, dan meredam risiko, dibanding mendorong pertumbuhan yang agresif.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep countercyclical fiscal policy, yaitu kebijakan fiskal yang disesuaikan untuk meredam dampak siklus ekonomi. Dalam situasi global yang tidak pasti, negara umumnya memilih mengutamakan stabilitas terlebih dahulu sebelum kembali mendorong ekspansi.

Meski demikian, strategi ini memiliki konsekuensi. Pertumbuhan ekonomi cenderung lebih moderat, dan perbaikan kesejahteraan dapat berlangsung lebih lambat. Dampaknya tidak selalu berupa krisis, tetapi lebih pada stagnasi di mana ekonomi tidak jatuh, tetapi juga tidak bergerak cepat.

Tekanan ini mulai terasa, terutama bagi kelas menengah. Kenaikan biaya hidup, perlambatan sektor riil, serta terbatasnya penciptaan lapangan kerja menjadi tantangan yang perlu diantisipasi secara serius.

Dalam konteks tersebut, pernyataan “mode bertahan” dapat dipahami sebagai diagnosis awal, tetapi belum cukup sebagai strategi jangka panjang. Tanpa langkah konkret, Indonesia berisiko hanya menjaga stabilitas jangka pendek tanpa memperkuat fondasi ekonomi secara struktural.

Karena itu, diperlukan “upaya nyata” yang lebih terarah pada perbaikan fundamental ekonomi. Beberapa area yang perlu menjadi fokus antara lain:

Pertama, evaluasi program populis versus produktif. Program seperti Makan Bergizi Gratis memiliki tujuan sosial yang kuat, tetapi dalam kondisi fiskal yang ketat perlu diuji efektivitas jangka panjangnya. Apakah benar mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara signifikan, atau justru membebani ruang fiskal tanpa multiplier effect yang jelas?

Prioritas perlu diarahkan pada program yang berdampak langsung pada produktivitas dan penciptaan lapangan kerja, termasuk penguatan intervensi di wilayah tertinggal.

Kedua, reformasi kelembagaan ekonomi rakyat. Inisiatif seperti Koperasi Merah Putih berpotensi menjadi instrumen penting dalam pemerataan ekonomi jika dikelola secara profesional dan transparan. Namun tanpa tata kelola yang kuat, koperasi justru berisiko menjadi sumber inefisiensi baru.

Selain itu, pembiayaannya tidak seharusnya mengorbankan dana desa, mengingat desa merupakan motor utama ekonomi lokal.

Ketiga, rasionalisasi transfer ke daerah. Transfer ke daerah merupakan salah satu komponen terbesar dalam APBN. Reformasi berbasis kinerja menjadi penting agar alokasi anggaran lebih produktif.

Namun, penyesuaian yang terlalu agresif juga perlu dihindari, mengingat banyak daerah masih sangat bergantung pada dana tersebut. Idealnya, transfer dikaitkan dengan capaian nyata seperti pertumbuhan ekonomi daerah, penurunan kemiskinan, dan peningkatan layanan publik.

Keempat, reprioritisasi belanja dan subsidi. Subsidi energi masih menjadi tekanan signifikan dalam APBN. Karena itu, reformasi melalui penajaman sasaran atau pengalihan ke bantuan langsung yang lebih tepat sasaran menjadi penting agar anggaran lebih efisien dan tidak terus terbebani gejolak global.

Pada akhirnya, survival mode seharusnya dipahami sebagai titik awal untuk berbenah, bukan sekadar strategi bertahan. Ketahanan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjaga stabilitas jangka pendek, tetapi juga oleh keberanian melakukan reformasi struktural yang berkelanjutan.

Jika dianalogikan dalam permainan sepak bola, survival mode ini seperti tim yang memilih bertahan total sepanjang 90 menit. Semua pemain ditarik ke lini belakang, garis pertahanan dipadatkan, dan fokus utama adalah tidak kebobolan. Secara jangka pendek, strategi ini memang bisa menyelamatkan skor.

Namun dalam sepak bola modern, bertahan saja tidak pernah cukup untuk memenangkan pertandingan. Tim yang hanya “parkir bus” tanpa pernah keluar menyerang akan terus ditekan, kehilangan momentum, dan pada akhirnya tetap berisiko kebobolan. Bahkan jika tidak kalah, hasil akhirnya sering kali hanya imbang tidak berkembang, tidak naik peringkat, dan tidak memberi prospek jangka panjang.

Ekonomi bekerja dengan logika yang serupa. Menjaga stabilitas memang penting, seperti menjaga gawang tetap aman. Tetapi tanpa transisi menuju fase menyerang yakni reformasi struktural, peningkatan produktivitas, dan penciptaan sumber pertumbuhan baru maka ekonomi hanya akan bertahan di “kotak penalti” tanpa pernah keluar membangun peluang.

Karena itu, survival mode seharusnya dipahami bukan sebagai strategi bertahan total, melainkan sebagai fase “bertahan sambil menyiapkan serangan balik”.

Stabilitas dijaga, tetapi mesin pertumbuhan tetap dinyalakan, agar ketika tekanan global mereda, Indonesia tidak hanya selamat dari kebobolan tetapi juga siap mencetak gol pertumbuhan berikutnya.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar