Breaking News

TAJUK Paskah: Harapan Baru di Tengah Ketidakpastian 06 Apr 2026 10:47

Article image
Selamat merayakan Paskah. (Foto: Ist)
Paskah bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi dorongan untuk membangun perubahan nyata: membela kaum miskin, memperjuangkan perdamaian, dan merawat bumi sebagai rumah bersama.

Umat Katolik dan berbagai denominasi Kristen baru saja merayakan Paskah 2026. Di Indonesia, perayaan ini berlangsung di tengah dunia yang rapuh: konflik di Iran yang memicu lonjakan harga energi global dan menekan perekonomian nasional. Kondisi tersebut tercermin dari inflasi Iran yang masih berada di kisaran 40–48% dengan pertumbuhan ekonomi yang nyaris stagnan, hanya sekitar 0,3–0,6%.

Dampak perang Iran mulai terasa hingga ke dalam negeri melalui tekanan fiskal dan potensi membengkaknya subsidi energi, terlebih bagi daerah-daerah yang baru saja mengalami pemotongan anggaran hingga sekitar Rp300 triliun. Dalam situasi ini, Paskah tidak hanya menjadi perayaan iman, tetapi juga momen refleksi bahwa harapan dan ketahanan justru diuji dalam krisis yang nyata.

Karena itu, Paskah tidak cukup dipahami sebagai penghayatan personal atau ritual keagamaan semata. Paskah adalah refleksi kritis terhadap ketidakadilan sosial, politik, dan ekonomi. Kisah sengsara hingga penyaliban Yesus mencerminkan kritik terhadap kekuasaan yang menindas dan memanggil solidaritas terhadap kaum miskin serta tertindas.

Johann Baptist Metz menyebut Paskah sebagai “memori berbahaya” (dangerous memory), karena ingatan akan perlawanan Yesus terhadap otoritarianisme dan kemunafikan religius mampu membangkitkan kesadaran kritis dan tindakan melawan ketidakadilan struktural.

Dengan demikian, Paskah menjadi ungkapan “iman yang bertindak”, yang menempatkan pengalaman korban sebagai pusat refleksi, serta memberi ruang bagi mereka yang tersingkir dari narasi sejarah untuk dipulihkan martabatnya.

Sejak 1960-an, semangat ini menemukan bentuknya dalam gerakan Teologi Pembebasan di Amerika Latin, yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Gustavo Gutiérrez, Leonardo Boff, Óscar Romero, Jon Sobrino, dan Hélder Câmara. Gerakan ini lahir sebagai respons terhadap kemiskinan ekstrem dan ketidakadilan struktural, dengan pertanyaan mendasar: bagaimana agama mewartakan Allah yang membebaskan di tengah realitas penindasan, perang, eksploitasi sumber daya alam, dan perdagangan manusia?

Dalam terang di atas, Paskah dipahami sebagai puncak pembebasan melalui pengorbanan Kristus, yang memanggil umat untuk terlibat dalam praksis nyata. Namun, agama tidak boleh disalahgunakan sebagai alat legitimasi penindasan, hiburan yang melupakan penderitaan, kendaraan politik populistik, atau pembenar kesenjangan sosial. Iman harus menjadi kekuatan transformatif yang berpihak pada martabat manusia.

Secara filosofis, makna Paskah juga dapat dipahami melalui pemikiran Søren Kierkegaard tentang lompatan iman (leap of faith), yaitu keberanian eksistensial untuk tetap percaya di tengah ketidakpastian, penderitaan, dan absurditas hidup.

Artinya, kebangkitan Kristus bukan sekadar peristiwa teologis, tetapi juga panggilan personal untuk melampaui keputusasaan menuju harapan melalui keputusan iman yang radikal. Dalam dunia yang dipenuhi krisis ekonomi dan konflik, iman seperti ini bukan pelarian, melainkan keberanian untuk tetap berharap dan bertindak.

Seperti diingatkan oleh Óscar Romero, dosa sosial tidak hanya hidup dalam struktur, tetapi juga berakar dalam hati setiap manusia: kita semua berkontribusi pada ketidakadilan yang meluas. Karena itu, Paskah adalah momentum pertobatan sosial—panggilan untuk menolak ketidakadilan, kemiskinan, dan perusakan alam, sekaligus merefleksikan sikap hidup kita.

Paskah bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi dorongan untuk membangun perubahan nyata: membela kaum miskin, memperjuangkan perdamaian, dan merawat bumi sebagai rumah bersama.

Akhirnya, Paskah mengajak kita menjadi pelaku pembebasan. Tidak cukup berhenti pada refleksi, tetapi berani bertindak untuk keadilan: mendukung dan melindungi yang tertindas, menolak diskriminasi, serta mempraktikkan kasih dan solidaritas dalam kehidupan sehari-hari.

Memberi tanpa pamrih, mengampuni, dan melayani sesama adalah wujud konkret iman yang hidup. Momentum ini menjadi titik awal transformasi pribadi dan sosial—menggerakkan keluarga, komunitas, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun dunia yang lebih adil dan penuh kasih. Sebab, refleksi sejati selalu berujung pada tindakan nyata.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar