TAJUK Jelajahi Bulan, Temukan Makna Iman dan Kehidupan 13 Apr 2026 12:57
Di tengah luasnya alam semesta, manusia hanyalah setitik kecil. Namun, justru dalam keterbatasan itu, manusia tetap berharga. Hidup bukan sesuatu yang remeh melainkan anugerah yang layak disyukuri.
Misi Artemis II NASA baru saja menyelesaikan misi 10 hari mengorbit Bulan pada April 2026, menandai penerbangan berawak pertama ke Bulan dalam lebih dari 50 tahun.
Empat astronaut berhasil melakukan perjalanan ke Bulan, menguji kapsul Orion dan roket SLS sebelum pendaratan manusia di masa depan, lalu mendarat dengan selamat di Samudra Pasifik.
Misi Artemis II NASA, yang diluncurkan pada April 2026, telah berhasil mengirimkan foto-foto menakjubkan yang menampilkan keindahan Bumi, Bulan, dan kedalaman luar angkasa. Foto-foto ini memberikan perspektif baru tentang “kebesaran Tuhan” melalui pemandangan alam semesta yang luas dan menakjubkan.
Astronot menangkap pemandangan bumi sebagai bola biru kecil yang kontras di tengah kegelapan ruang hampa, memberikan perspektif tentang posisi Bumi di alam semesta.
Victor Glover, salah satu astronaut NASA yang menuntaskan misi Artemis II yakni perjalanan mendekatkan pada jarak terdekat dari bulan itu memberi kesaksian tentang kekuasaan Tuhan.
Usai menyelesaikan misi yang belum pernah dicapai manusia terhadap Bulan dalam lebih dari 50 tahun, Glover bersaksi: “Saya ingin mengucap syukur kepada Tuhan di hadapan publik. Saya ingin mengucap syukur kepada Tuhan sekali lagi, karena rasa syukur atas apa yang kami lihat, apa yang kami lakukan, dan bersama siapa saya berada... itu terlalu besar untuk hanya dirasakan oleh satu tubuh.”
Dari peristiwa ini, kita dapat menarik beberapa refleksi penting. Pertama, misi ke Bulan sebagai perjalanan iman. Perjalanan ke Bulan bukan hanya pencapaian ilmiah, tetapi juga perjalanan iman untuk mengenal Tuhan dari perspektif yang baru. Semakin jauh manusia menjelajah alam semesta, semakin tampak kebesaran yang melampaui dirinya.
Iman dan ilmu tidak perlu dipertentangkan; justru keduanya dapat saling melengkapi. Seperti diajarkan oleh Thomas Aquinas, akal budi (ilmu) dan iman berasal dari sumber yang sama, sehingga kebenaran ilmiah tidak akan bertentangan dengan kebenaran ilahi.
Kedua, belajar bersyukur dan hidup bermakna. Pengalaman para astronaut mengingatkan kita untuk bersyukur kepada Tuhan. Dalam pandangan filsuf Martin Heidegger, manusia “terlempar” begitu saja ke dalam dunia tanpa memilih untuk lahir. Namun, manusia tetap memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana ia menjalani hidupnya.
Kita “terlempar ke dunia” untuk pasrah pada takdir secara pasif, melainkan untuk memilih menjalani hidup dengan penuh makna, kesadaran, dan rasa syukur.
Ketiga, kesadaran akan keterbatasan dan nilai hidup. Filsuf dan teolog Thomas Aquinas melalui lima argumennya tentang keberadaan Tuhan menegaskan bahwa segala sesuatu yang ada memiliki sebab, dan pada akhirnya mengarah pada Sebab Pertama, yaitu Tuhan.
Di tengah luasnya alam semesta, manusia hanyalah setitik kecil. Namun, justru dalam keterbatasan itu, manusia tetap berharga. Hidup bukan sesuatu yang remeh melainkan anugerah yang layak disyukuri.
Misi Artemis II tidak hanya membuka jalan bagi eksplorasi luar angkasa, tetapi juga membuka ruang refleksi batin manusia. Dari kejauhan kosmos, manusia justru diajak untuk melihat lebih dekat makna hidupnya: bahwa di tengah keluasan alam semesta, kita kecil namun tidak sia-sia, karena berharga di mata Tuhan.
Salam Redaksi IndonesiaSatu.co
Komentar