RESENSI KELUARGA WOLO ITU, Dari Wolo Sasa ke Wolo Alpen 22 Oct 2022 10:26
Autobiografi ini, dengan sangat sederhana, meyakinkan bahwa hanya keluarga yang dapat mengubah cuaca dingin atau sedingin salju pun menjadi hangat.
(Catatan dari autobiografi Stefanus Wolo Itu, Misionaris Fidei Donum di Basel Swiss)
Oleh Maria Matildis Banda
Dari Nusa Bunga ke Negeri Alpen (2022) autobiografi yang ditulis Romo Stefanus Wolo Itu (Romo Stef), dengan tujuan utama: ‘memaknai dasa warsa emas kehidupan dan tahun perak imamat’; serta ucapan terima kasih sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan terhadap semua orang yang berperan dalam perjalanan hidupnya.
Terima kasih dan Persahabatan Sejati
Menulis autobiografi sama halnya dengan menulis tentang diri sendiri. Dimulai dengan meneliti diri sendiri, jalan hidup, dilengkapi dengan waktu, tempat, ruang, peristiwa, dan tokoh-tokoh sebagai bagian dari jalan hidup. Romo Stef menulisnya dengan mengalir saja sejak dari “Pengantar Penulis” (hlm.v) sampai pada akhir tulisannya tentang “Misionaris Fidei Donum: Membawa Berkat dan Menyalurkan Kebaikan” (hlm.216).
Sepanjang buku ini tampaknya Romo Stef sedang bercerita secara lisan. Retorika kelisanan tampak pada pengulangan berkali-kali “saya berterima kasih kepada…dalam Pengantar Penulis dan ditutup dengan menulis kutipan dari Markus Tullius Cicero, intelektual multidimensi Romawi Kuno tentang rasa terima kasih: Rasa terima kasih adalah prasyarat untuk sebuah persahabatan sejati. Hanya manusia yang tahu berterima kasih yang bisa melestarikan persabahatan dan menjalani hidup bersama. Hal ini diamini oleh Simon Leya dalam prolog bahwa motif orang menulis memoar atau autobiografi yang paling umum adalah agar apa yang ditulis menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang; motif yang paling umum lainnya adalah agar apa yang ditulis membantu kita mengambil tempat dalam sejarah dan memungkinkan penulisnya mengklaim tempat yang layak dalam sejarah (hlm.xi-xiii).
Ayah dan Keluarga
Pembaca disiapkan untuk masuk ke dalam refleksi penulis dan selanjutnya menjadi refleksi bagi pembaca. Dari banyak hal ada satu hal yang paling penting dan mendasar yaitu keluarga. Keluarga yang dinarasikan dalam autobiografi ini seperti tangan yang menuntun orang hilang, yang tercabut dari akar, untuk kembali pada akar, yang mengembara untuk kembali dari pengembaraan, dan yang tidak tahu jalan pulang untuk pulang, sebelum pergi lagi dalam tugas dan tanggung jawab pelayanan masing-masing.
Romo Stef menulis kisah Bapak Albertus ayahnya si pekerja keras yang menjalani tanggung jawab sebagai petani, guru agama, dan mandor jalan. Petani ditekuni sepanjang hidup. Guru agama sejak 1940 dengan tugas utama membantu pastor mengajarkan doa-doa pokok: Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria, Doa Tobat, Sepuluh Perintah Allah, Lima Perintah Gereja. Mado zala (mandor jalan) selama 24 tahun sampai pensiun (1972). Menerima gaji pensiun sebagai PNS setelah bekerja sebagai honorer sepanjang kariernya sebagai mado zala.
Autobiografi ini bercerita dalam struktur bahasa sederhana serta pilihan kata yang mudah dimengerti tentang berbagai tempat yang menetap di seputar masa kecil Romo Stef. Demikian pula asal usul keluarga baik dari sisi bapa Albertus Sabu Dhoni (ayah) maupun dari sisi mama Pulcheria Mare (ibu) disampaikan dengan ringan dan mengalir. Demikian pula asal-usul leluhur laki-laki orang Sara dari So’a dan leluhur perempuan dari Naru. Penjelasan tentang opa Kaki Itu dan Oma Dhoni Suka yang melahirkan Sabu Dhoni yang selanjutnya dibabtis menjadi Albertus Sabu Dhoni ayah Romo Stef. Asal usul, hubungan perkawinan, keluarga baik dari pihak ayah maupun ibu dijelaskan dengan sabar dan sadarpada sejumlah halaman yang mengesankan. Cukup sulit menemukan ketekunan ‘mengingat dan menulis’ seperti ini pada zaman sekarang ketika individualisme merayap perlahan dan pasti membangun tembok-tembok pemisah antaranggota keluarga baik dekat apalagi jauh. Romo Stef menjangkau dan berusaha merangkul semua. Pembaca ikut hanyut di dalamnya dan bertanya pada diri sendiri…tentang asal-usul, keluarga, serta kekuatan yang lahir dari dalamnya.
Lautan Lepas Menampung Duka Lara
Menulis sosok Pulcheria Mare, ibu yang melahirkannya, Romo Stef juga sabar dan sadar bahwa “nama menunjukkan jati diri seseorang” (hlm.10). Pulcheria Mare (Pulcheria = keindahan dari bahasa Latin pulcher yang artinya indah; Mare dalam bahasa Latin artinya laut. Pulcheria Mare bisa diartikan keindahan laut). Dengan teknik penulisan yang berpusat pada tokoh, Romo Stef menjelaskan asal usul ibunya secara lengkap; serta menempatkan ibunya secara istimewa: “Mama Pulcheria Mare ibarat lautan lepas yang menampung duka lara sungai kehidupan kami. Kedalaman dan keindahan cintanya ibarat laut yang dalam dan indah. Dia mengajarkan kami bertahan di tengah arus gelombang kehidupan (hlm.10). Mengharukan! Apa yang ditulis Romo Stef tentang ibunya mengingatkan atau membuka kenangan dalam penggalan puisi “Surat dari Ibu” (Asrul Sani): “Pergi ke laut lepas anakku sayang… pergi ke hidup bebas…Kembali pulang anakku sayang. Kembali ke balik malam! Jika kapalmu telah rapat ke tepi. Kita akan bercerita: tentang cinta dan hidupmu pagi hari.”
Asal-usul leluhur dan keluarga besar dari pihak ayah dan ibu ditulis dalam satu lingkaran utuh. Romo Stef menjadikan setiap anggota keluarganya hadir dalam kehadirannya sendiri sebagai Romo Stefanus Wolo Itu dalam keyakinan bahwa “Imam Lahir dan Bertumbuh dalam Keluarga” (bab 1), yang juga disemai dalam “Boamuzi/Hedhamo – Rowa: Betlehemku” (bab 2), “Nasaretku: Wolorowa” (bab 3); dan bagaimana “Merawat Cita-Cita Imamat,” (bab 4); selanjutnya menjalani “Masa Pembinaan dan Jawaban Ya Menuju Imamat,” (bab 5), menuju “Hari Tahbisan, Misa Perdana dan Pluit Pertandingan Hidup Imamat,” (bab 6).
Mutiara Tiada Tara
Melalui autobiografi ini Romo Stef menyampaikan betapa berartinya keluarga. Bagai lagu indah dan kaya makna, “Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga” (ilustrasi dalam sinetron dan film Keluarga Cemara karya Arswendo Atmowiloto). Keluarga adalah akar yang kuat sehingga tumbuh menjadi pohon yang subur, berbunga, dan berbuah.
Pelajaran tentang betapa berartinya keluarga. Meskipun kadang-kadang ada hal-hal yang terasa sulit dalam hubungan keluarga, tetapi tetap berjalan dalam dukungan keluarga itu menjadi satu kekuatan dahsyat. Mungkin saja Romo Stef tidak bermaksud memberi pelajaran tentang penting dan berartinya silsilah, asal-usul, sejarah keluarga, serta makna apa yang dapat ditemukan di sana. Akan tetapi pembaca dapat merasakannya. Pelajaran bagi individu-individu dalam keluarga yang menjauh dengan jalan hidup masing-masing dan tersebar ke banyak tempat. Bahkan, saudara bersaudara yang ada dalam satu desa, satu kampung, satu kota, bertetangga dalam satu KUB (Komunitas Umat Basis), menjauh satu sama lain karena persoalan tanah, rumah adat (sa’o), leluhur (ngadhu bhaga), serta berbagai persoalan lainnya yang tidak terselesaikan dengan baik.Ternyata autobiografi ini tidak sedang menarasikan kehidupan diri sendiri, keluarga, kakek nenek dan leluhur yang lebih awal lagi, dalam satu perjalanan waktu dan meninggalkan jejak yang tidak dapat dihapuskan; tetapi menarasikan bangunan keluarga siapa dan di mana pun tempat seseorang lahir, tumbuh, berkembang, dan terus berjalan menuju masa depan.
Pijakan pada akar yang kuat di dalam keluarga adalah bagian dasar dari perjalanan penulis autobiografi ini. Detail penjelasannya tentang masa sekolah baik SD, SMP, SPG, dan memasuki Kelas Persiapan Atas Seminari Mataloko ditulis dalam konteks relasinya dengan berbagai pihak. Teman-teman, para pembina, dan persiapan perutusan, sampai tahbisan dirangkai dalam masing-masing satu refleksi (hlm. 28, 43, 63, 88, 107,140, 163, dan 164). Mulai dari pentingnya memahami sejarah pergumulan keluarga, kejujuran tentang masa lalu dalam kesederhanaan kampung tempat lahir dan tumbuh, sekolah tempat merawat cita-cita imamat, diterima secara resmi dalam kalangan klerus, sampai ditahbiskan sebagai diakon dan imam, selanjutnya menjalani pelayanan di Paroki Maria Imaculata Jopu, Paroki Vincentius A. Paulo Ratesuba, dan Fransiskus Xaverius Wolotopo. Setelah melewati ujian demi ujian dengan hati gembira, selanjutnya mengembara lebih jauh lagi menuju negeri Alpen. Pembaca dapat mengerti makna masa lalu dalam keluarga yang tidak terpisahkan dari masa kini menuju masa depan sebagai misionaris fideo donum untuk membawa berkat dan menyalurkan kebaikan bagi keluarga di Basil Swiss .
Berkat dan Kehangatan
Terima kasih Romo Stefanus Wolo Itu, saya diberi kesempatan mendapat berkat dari buku ini. Saya tidak menemukan Wolo Sasa secara tersurat sepanjang membacanya. Wolo Sasa yang dingin dalam banyak hal seperti identik dengan Mataloko. Bagian dari perjalanan menuju imamat tersirat dalam perjalanan panjang sejak dari Wolo Rowa Paroki Mataloko puluhan tahun lalu sebelum sampai ke Wolo Alpen yang juga dingin. Bedanya dinginnya Wolo Sasa tanpa salju sedangkan dinginnya Wolo Alpen dalam salju. Autobiografi ini, dengan sangat sederhana, meyakinkan bahwa hanya keluarga yang dapat mengubah cuaca dingin atau sedingin salju pun menjadi hangat. Kehangatan itu sampai dan menetap dalam keluarga umat di Jopu, Ratesuba, Wolotopo, dan dibawa sampai juga di Wolo Alpen Swiss. ***
Denpasar Bali, Oktober 2022
Komentar