OPINI Kerinduan Umat Katolik Flores kepada Sri Paus Fransikus 17 Jul 2024 18:15
Minimal suara kerinduan mereka didengar dan lebih baik lagi jika berusaha memahami mengapa kerinduan itu muncul.
Oleh: Ignas Iryanto, Dr.Ing.
Pada tahun 1989, Sri Paus Yohanes Paulus II melakukan kunjungan Apostolik ke Indonesia.
Sebagai bagian dari kunjungan itu, pewaris Santo Petrus ini secara khusus mengunjungi pulau Flores.
Waktu itu, tidak ada satu pihak pun yang merasa terganggu mengapa Sri Paus secara khusus mengunjungi Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Katolik (Seminari Tinggi Ledalero dan Ritapiret) di Kabupaten Sikka, pulau Flores.
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan provinsi dengan penduduk Katolik terbesar di negara ini, sampai saat ini karena keberadaan umat katolik di Flores.
Pulau Flores juga memiliki jejak-jejak sejarah Katolik yang sangat kuat; ada jejak Santo Fransiskus Xaverius di teluk Maumere, Misionaris Serikat Jesus serta sahabat pendiri SJ, Santo Ignatius de Loyola.
Gereja Katolik tertua di Flores didirikan oleh para misionaris SJ sekitar tahun 1700-an di wilayah Sikka serta wilayah Flores Timur.
Bahkan ada ritus ibadah pra-Paskah Tri Hari Suci yang disebut Semana Santa, yang didaraskan dalam Bahasa portugis kuno, yang merupakan warisan dari masa di mana umat Katolik Flores secara mandiri mampu mempertahankan iman Katolik selama 200 tahun tanpa kehadiran seorang imam pun.
Konsep gereja sebagai komunitas umat beriman telah dipraktekkan di Flores, jauh sebelum konsep itu diformulasikan scara resmi oleh Vatikan.
Apakah hanya karena alasan-alasan ini, waktu itu Sri Paus menyempatkan diri hadir di Maumere, menginap di Ledalero dan menyapa umat Katolik Flores secara langsung di Stadion Samador, Penulis juga tidak tahu.
Namun adalah fakta, jika menyebut DNA Katolik di Indonesia, tidak bisa tidak, Pulau Flores harus disebut sebagai komponen penting dalam DNA itu.
Kita tahu bahwa Sri Paus Yohanes Paulus II telah dikanonisasi oleh Paus Fransiskus yang menduduki Tahta Santo Petrus saat ini dan yang akan mengunjungi Indonesia di bulan September nanti.
Sri Paus Yohanes Paulus II saat ini telah diberi gelar Orang Kudus (Santo), yang diyakini umat Katolik telah menjadi penghuni surga dan juga menjadi pendoa bagi umat manusia.
Adakah impak dari kunjungan Sri Paus Yohanes Paulus II ke Flores di tahun 1989 itu bagi umat Katolik Indonesia dan Dunia? Juga adakah impaknya bagi Indonesia?
Walaupun belum ada penelitian sosial yang memvalidasi impak yang terjadi, namun adalah fakta bahwa panggilan hidup menjadi imam makin bertumbuh subur di Flores, yang sangat mungkin dipicu oleh kehadiran dan interaksi Sri Paus dengan para pastor dan frater di Ledalero dan Ritapiret selama kunjungan singkat tersebut.
Sebelum itu, memang sudah ada panggilan yang subur di Flores namun sejak tahun 1989 tersebut selain panggilan menjalani hidup membiara semakin subur, para pastor dari Flores yang kemudian juga diikuti oleh para Suster, juga semakin banyak yang membaktikan hidupnya sebagai misionaris dan bekerja di berbagai belahan dunia bagi gereja Katolik Dunia.
Telah terjadi arus balik misionaris di abad ini. Jika sebelumnya para Misionaris dari benua Eropa datang ke wilayah Asia, Afrika dan Amerika Latin dengan misi evangelisasi.
Sejarah dunia juga menjadi saksi bahwa evangelisasi tersebut juga berjalan bersamaan dengan proses kolonialisasi serta pengambilalihan aset. Motto: "God, Gold and Glory" menjadi popular untuk menggambarkan pola evangelisasi masa itu.
Kini, arus itu berbalik. Benua Eropa yang kini mengalami kekeringan panggilan, justru membutuhkan misionaris dari kawasan Asia, Afrika dan Amerika Latin untuk melayani hidup spiritual umat Katolik Eropa.
Namun, prinsip "God, Gold and Glory" tidak lagi menjadi ciri evangelisasi dalam fase arus balik ini.
Dalam konteks Flores dan NTT, daerah itu kini menjadi pusat misionaris Katolik terbesar di dunia.
Di akhir tahun 2023, para pastor dari wilayah NTT yang umumnya dididik di Seminari Tinggi Ledalero telah menjadi misionaris di 60 negara di 5 benua dari beberapa Serikat biara, dengan mayoritas berasal dari Serikat Sabda Allah atau Societas verbi Divini (SVD).
Bahkan di tahun 2024 ini, jumlah imam baru yang ditahbiskan di NTT dari Ledalero yakni 252 orang. Angka ini merupakan jumlah tahbisan imam terbesar sepanjang sejarah Gereja Katolik dunia.
Jika dilihat bahwa kenaikan jumlah misionaris tersebut terjadi setelah kunjungan Sri Paus Johanes Paulus II ke Maumere, Flores, bisa diduga kuat bahwa ini juga merupakan impak dari kunjungan Sri Paus ke Maumere Flores di tahun 1989 itu.
Kerinduan Umat terhadap Kunjungan Paus Fransiskus
Saat ini, banyak suara dari umat di Flores yang juga disuarakan dalam dua kali dialog online dengan sebagian komunitas diaspora NTT di Jakarta, dan juga komunitas misionaris Flores di manca negara, yang mengungkapkan keriduannya agar kali ini dalam kunjungan apostolik ke Indonesia, Sri Paus Fransiskus juga mengunjungi umat Katolik di Flores.
Tentu keputusan ini merupakan kewenangan pemerintah Republik Indonesia karena kunjungan ini juga merupakan kunjungan kenegaraan, atau kewenangan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang merupakan lembaga koordinasi gereja katolik Indonesia yang mewakili gereja Katolik Indonesia, karena kunjungan ini juga merupakan kunjungan apostolik.
Keputusan kedua otoritas ini yang mestinya dilaksanakan oleh panita nasional yang diketuai oleh pak Ignatius Jonan.
Namun menyuarakan kerinduan dari umat kepada pmpinan umat dunia, tidak merupakan langkah pembangkangan sama sekali, dan memang tidak dimaksudkan untuk itu. Minimal suara kerinduan mereka didengar dan lebih baik lagi jika berusaha memahami mengapa kerinduan itu muncul.
Salahkah jika para misionaris asal Flores, NTT yang bekerja untuk melayani umat Katolik dunia hingga ke pelosok-pelosok Afrika, Brasilia juga kota-kota kecil di Eropa dan Asia, mengharapkan Pemimpin Katolik dunia mengnjungi kampungnya, tempat asal mereka sekaligus berharap bahwa semangat hidup membiara dan menjadi misionaris Katolik itu tetap tumbuh subur di kampung mereka sehingga selalu tersedia para calon pengganti mereka nanti.
Bukankah kunjungan Sri Paus di tahun 1989 silam telah berbuah manis bahkan bagi Gereja Katolik dunia?
Salahkah jika ibu-ibu di Flores, NTT yang telah melahirkan dan mendidik putra-putri mereka, bahkan dalam kemiskinan mereka dengan keringat dan air mata, sehingga putra-putri mereka akhirnya menjadi Pastor dan Suster dan bahkan merelakan mereka berangkat ke tanah misi untuk melayani gereja katolik dunia, merindukan untuk bisa memandang wajah pemimpin Katolik dunia secara langsung?
Penulis yakin, siapa pun di negeri ini, baik para Uskup di KWI maupun pemimpin Negara di Istana, tidak dapat menyalahkan ungkapan kerinduan tersebut, bahkan dari fakta-fakta di atas, sangat mungkin Sri Paus juga ingin mengucapkan terima kasih kepada para ibu dan para misionaris tersebut dengan caranya sendiri.
Bukankah Sri Paus Yohanes Paulus II dalam dokumen "Vita Consecrata", yang juga diulangi oleh Paus Fransiskus pada tanggal 2 Februari 2023, telah menyatakan dalam pertemuan seluruh serikat spiritual Katolik sedunia: "jika ingin mencari anggota, panggilan, pergilah ke Indonesia, di sana ada sebuah Pulau, anda akan menemukan anggota baru."
Sangat kuat dugaan bahwa pulau yang dimaksud adalah pulau Flores, dan memang saat ini dari Flores telah hadir berbagai serikat, baik bagi Pastor maupun Suster dari berbagai negara.
Fakta bahwa sampai saat ini, Flores sebagai pulau dan NTT sebagai Provinsi, tetap bertahan sebagai salah satu daerah termiskin di Indonesia, juga merupakan ironi bahwa kontribusi mereka dalam pelayanan umat Katolik dunia, belum memberikan impak ekonomi kepada para orang tua mereka.
Kehadiran Sri Paus di sana, diharapkan juga bisa memberikan hiburan dan penguatan atau mungkin impak jangka panjang dalam bidang kesejahteraan mereka.
Salahkah mereka, jika kerinduan mereka juga didasarkan pada hal hal ini? Jangan sampai yang muncul adalah kesimpulan ngawur seperti "anda menjadi miskin karena anda penganut Katolik."
Lalu apa manfatnya bagi Indonesia sebagai suatu komunitas bangsa?
Sebagai suatu komunitas bangsa, DNA Indonesia adalah sikap toleransi sebuah masyarakat plural.
Prinsip hidup komunitas bangsa ini yang dirumuskan dalam Pancasila dan telah terkenal di seluruh dunia, juga terinspirasi ke dalam otak dan hati Bung Karno, sebagai salah satu Pendiri Bangsa dan negara ketika diasingkan di kota Ende, pulau Flores, NTT.
Dan saat ini, kita bisa melihat beberapa bukti faktual bahwa toleransi yang sejati justru terjadi di pulau Flores ini: Plt Gubernur NTT yang mayoritas penduduknya adalah penganut kristiani adalah umat muslim dan beliau diterima tanpa sedikitpun ada pergolakan atau pertentangan; juga Plt Bupati di Kabupaten Flores Timur, Kabupaten yang menjadi basis Katolik terbesar sehingga kotanya juga disebut kota Reinha, kotanya Bunda Maria, Plt Bupatinya adalah seorang ibu beragama Muslim, berasal dari kota Ende.
Sebagai bangsa, DNA Toleransi itu tampak juga dari fakta bahwa walaupun penduduk negeri kita adalah mayoritas Muslim, namun seluruh agama hidup secara damai hingga saat ini, bahkan Flores sebagai bagian dari Indonesia bisa menjadi pusat misionaris Katolik dunia.
Jadi, Flores dan NTT adalah juga contoh konkrit dari Toleransi sebagai DNA Indonesia sebagai komunitas bangsa, sehingga mestinya sangat layak dikunjungi oleh Sri Paus, yang di berbagai kesempatan menyuarakan perdamaian dan toleransi.
Aspek kedua yang juga bisa dirumuskan sebagai manfaat bagi Indonesia sebagai komunitas bangsa, adalah fakta bahwa kehadiran para misionaris Flores, NTT di berbagai negara dan benua, juga dapat dilihat sebagai duta-duta bangsa Indonesia, dan secara langsung melakukan praktek people to people diplomacy di negara-negara di mana mereka bertugas.
Selain sebagai misionaris Katolik, secara intrinsik di dalam diri mereka ada rasa sebagai manusia Indonesia dengan pandangan hidup Pancasila sebagai pedoman hidup sebagai bangsa. Umat yang dilayaninya akan merasakan bagaimana cara hidup seorang manusia Indonesia, selain hidupnya sebagai seorang Pastor Katolik.
Misi negara kita dalam mukadimah konstitusi kita, salah satunya adalah "ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial," sangat selaras dengan misinya sebagai misionaris Katolik di negara tersebut.
Bahkan agar kedua misi itu lebih terintegrasi, penulis memberanikan diri untuk mengusulkan, jika dimungkinkan, prinsip-prinsip diplomasi dan pergaulan antar bangsa, dapat juga menjadi salah satu kurikulum persiapan sebelum para misionaris itu dikirim ke luar negeri, sehingga hidupnya sebagai misionaris dapat juga memberi benefit buat komunitas bangsa Indonesia.
Tulisan ini dibuat agar para pemimpin Negara, pemimpin Gereja Katolik Indonesia dan juga petinggi Vatikan, terinformasi adanya kerinduan seperti di atas.
Bagaimana kerinduan itu disikapi, merupakan keputusan dari para pemimpin ketiga lembaga tersebut.
Umat katolik Flores, NTT akan taat pada keputusan yang diambil karena mreka sangat menghayati prinsip 100% Katolik dan 100% Indonesia.
* Penulis merupakan warga diaspora Flores, NTT, domisili di Jakarta.
Komentar