Breaking News

SENI BUDAYA Kisah Masjid Wapauwe dan Kenangan Toleransi di Negeri Leihitu 11 Sep 2016 13:33

Article image
Masjid Wapauwe. (Foto: Simon Leya)
Masjid Wapauwe diperkirakan dibangun bersamaan waktu dengan masuknya agama Islam di tanah Maluku pada 1414.

Oleh Simon Leya

Kapendam XVI Pattimura Kolonel (Arh) M Hasyim Lalhakim menepati janjinya untuk menemani saya dan seorang rekan wartawan dari Jakarta untuk mengunjungi Benteng Amsterdam dan Masjid Wapauwe, masjid tertua kedua di Indonesia yang  terletak di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Hari itu, 26 Juni 2016 adalah hari terakhir kunjungan jurnalistik kami di Maluku atas undangan khusus dari Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XVI/Pattimura, Mayor Jenderal TNI Doni Monardo.

Lokasi yang pertama kami kunjungi adalah Benteng Amsterdam. Nama ini mengesankan seolah-olah benteng tersebut dibangun oleh kolonial Belanda. Padahal benteng tersebut mulai dibangun oleh bangsa Portugis yang dipimpin Fransisco Serrao tahun 1512.  Ketika Belanda mulai menguasai Maluku tahun 1605, benteng tersebut diambil alih untuk dijadikan kubu pertahanan.

Berhubung tidak ada petugas yang bisa dimintai informasi, kami bergeser ke Masjid Wapauwe. Dari luar masjid tampak sepi. Di beranda masjid duduk empat orang laki-laki tua berumur di atas 60 tahun. Kolonel Hasyim langsung menghampiri mereka dan mulai memperkenalkan diri. Kolonel Hasyim tampak membisikkan sesuatu kepada pria tua yang mengenakan jubah putih dan berpeci hitam. Saya tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan Kolonel Hasyim kepada orang tua itu. Orang tua itu tiba-tiba menjawab dengan suara tegas. “Oh, tidak apa-apa, silakan masuk, siapa saja boleh masuk.” “Kita boleh ngobrol di dalam?” tanya kami serempak. “Ya, silakan, kita ngobrol di dalam saja, biar bisa lihat semuanya,” jawab orang tua itu.

Dalam perjalanan pulang, Kolonel Hasyim menceritakan kembali bahwa yang dibisikkan kepada orang tua berjubah putih tadi adalah permintaan wawancara. Dan karena salah satu wartawan beragama non Muslim,  apakah bincang-bincang boleh dilakukan di dalam masjid atau di beranda.

Orang tua itu mengajak kami masuk dan memperbolehkan kami untuk melihat semua perlengkapan ibadah yang ada di dalam masjid. Ketika kami sudah duduk bersilah di bagian dalam masjid, dia memperkenalkan dirinya bernama Haji Jafar Lain. Haji Jafar adalah imam Masjid Wapauwe. Dia memberi penjelasan dan mengisahkan sejarah Masjid Wapaue dan hal ikhwal masyarakat di wilayahnya dengan sangat runtun.

Haji Jafar dengan bangga memperlihatkan peralatan ibadah dan bagian-bagian bangunan masjid yang sebagian besar terbuat dari kayu dan beratap rumbai. Masjid Wapauwe diperkirakan dibangun bersamaan waktu dengan masuknya agama Islam di tanah Maluku pada 1414. Menurut Haji Jafar, Islam masuk Maluku lewat jalur sutera Tiongkok. Dari Maluku, Islam menyebar ke kawasan Nusa Tenggara. Untuk menjaga keasliannya, atap masjid tersebut tetap menggunakan daun pohon sagu.

Model atap bertumpuk adalah ciri khas arsitektur Tiongkok. Kecuali atap yang selalu diganti, bagian lain dari banguna masjid merupakan bahan yang dipertahankan keasliannya sejak awal masjid dibangun. Bagian dari bangunan yang dipastikan masih asli adalah empat tiang utama yang terbuat dari kayu ulin.

Tidak hanya tentang hal ikhwal Islam, Haji Jafar sempat bernostalgia tentang kerukunan antara Islam dan Kristen di wilayahnya. Sayangnya, kerukunan antar umat beragama hancur akibat konflik yang pecah pada tahun 1999. Sebagai pemimpin dari kelompok mayoritas di wilayahnya, Haji Jafar mengaku sedih bila mengingat peristiwa kerusuhan. Haji Jafar masih ingat dengan jelas, ketika pecah konflik berdarah di Ambon dan sekitarnya, dia sendiri mengamankan 115 keluarga Kristen dan menuntun mereka ke arah gunung sampai semua tiba dengan selamat. “Kami hidup berdampingan. Masjid ini kalau diperbaiki atapnya, mereka bawa mereka punya bagian. Kami bekerja bersama-sama. Gereja juga begitu. Kalau mau menggantikan atap gereja, pemerintah desa sebagai kepala adat harus yang pertama melepaskan atap lama, baru diikuti oleh seluruh masyarakat,” tutur Haji Jafar.

Demikian juga ketika akan dilakukan pemasangan atap masjid atau gereja. Kepala adat yang paling pertama melakukan pemasangan. “Pada saat terjadi kerusuhan, kami yang menyelamatkan dan mengantar mereka ke hutan sampai ke tempat yang aman. Mereka tidak bisa lewat sini (jalan utama sepanjang pantai) lagi. Di sini sudah tertutup,” jelasnya. Yang membuat Haji Jafar sedih adalah karena sampai sekarang semua keluarga Kristen tidak kembali lagi. “Mungkin karena masih trauma,” katanya.

Berpindah sendiri

Masjid Wapauwe saat ini terletak hanya beberapa ratus meter dari bibir pantai. Awalnya, Masjid Wapauwe dibangun di atas gunung. Ada kepercayaan bahwa masjid pindah dengan sendirinya, bukan karena dipindahkan dari gunung ke dekat pantai. Sebelum Islam masuk, penduduk asli Wawane menganut animisme. Wawane atau matawana berarti begadang. Konon, suatu waktu, mereka tidak tidur sepanjang malam untuk menantikan datangnya fajar Islam.

Ketika Belanda datang dan mulai mengganggu ketenangan masyarakat dalam menjalankan ibadat, pimpinan umat dan masyarakat Wawane memutuskan untuk pindah sejauh 6 km ke arah timur. Beberapa peralatan ibadah yang memiliki nilai sejarah yang tinggi antara lain timbangan zakat, al-quran, dan mimbar. Al-quran ditulis pada tahun 1550 oleh imam masjid pertama, Pernada Jamilu.

Masjid Wapauwe terletak di tengah pemukiman penduduk dan masih digunakan sebagai tempat ibadah sehari-hari dan bahkan tempat untuk acara kesenian dan budaya umat Muslim yang tinggal di Desa Kaitetu.

Pada mulanya masjid ini bernama Masjid Wawane karena dibangun di lereng gunung Wawane sekitar tahun 1400-an oleh Pernada Jamilu, seorang keturunan Kesultanan Jailolo dari Moloku Kie Raha (Maluku Utara). Pernada Jamilu adalah seorang da’i (pendakwah) yang melaksanakan misi menyebarkan agama Islam di negeri di sekitar gunung Wawane, yaitu Negeri Assen, Atetu, Tehala, dan Nukuhaly.

Masjid ini kemudian berpindah tempat ketika Belanda mulai menginjakkan kaki di tanah Hitu pada tahun 1580 selepas kepergian Portugis yang tiba lebih dulu 58 tahun sebelumnya. Belanda dianggap telah melakukan banyak tindakan yang mengganggu  kedamaian penduduk Wawane yang saat itu merupakan mayoritas pemeluk Islam.  Karena merasa tidak aman dengan keberadaan Belanda, maka pada tahun 1614, penduduk Wawane yang dipimpin Imam Rijalli akhirnya memutuskan  untuk memindahkan Masjid Wawane ke Kampung Tehala yang berjarak 6 km sebelah timur Wawane.

Konon masjid ini dipindahkan ke tempat di mana terdapat banyak pohon mangga hutan atau mangga berabu yang dalam bahasa Kaitetu disebut Wapa. Kemudian masjid ini berubah nama menjadi Masjid Wapauwe atau masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu.

Pada 1664, masjid turun ke Negeri Atetu lengkap dengan perlatan ibadahnya. Ciri khas bangunan masjid ini adalah tidak menggunakan paku logam maupun pasak kayu pada setiap sambungan kayu. Pada 26 April 1982, masjid ini ditetapkan menjadi salah satu cagar budaya yang ditandatangani oleh Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Dr Ir H. TB Bahtiar Rifai.

Masjid berukuran 10x10 meter ini merupakan masjid tertua kedua di Indonesia. Masjid tertua pertama adalah Masjid Saka Tunggal (1288) terletak sekitar 30 km dari kota Purwokerto. Masjid tertua lain yang dibangun setelah Masjid Wapauwe , yakni Masjid Ampel (1421), Masjid Agung Demak (1474), Masjid Sultan Suriansyah (1526), Masjid Menara Kudus (1549), Masjid Agung Banten (1552), Masjid Mantingan (1559), Masjid Al-Hilal Katanga (1603),dan Masjid Tua Palopo (1604).

 Penulis adalah Redaktur Pelaksana IndonesiaSatu.co

Komentar