Breaking News

PENDIDIKAN Lulusan SMK Penyumbang Terbesar Angka Pengangguran, Ada Apa Yang Salah 20 Feb 2023 07:32

Article image
Sejumlah siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) melakukan praktik Program Logic Controller (PLC). (Foto: Republika)si).
Data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia per Agustus 2022 sebesar 5,86% atau 8,42 juta orang dari jumlah angkatan kerja pada Agustus 2022 sebanyak 135,50 juta orang.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Di tengah upaya pemerintah membuka lapangan pekerjaan, kita dikejutkan dengan besarnya angka pengangguran yang sebagian besar disumbangkan oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia per Agustus 2022 sebesar 5,86% atau 8,42 juta orang dari jumlah angkatan kerja pada Agustus 2022 sebanyak 135,50 juta orang.

Dari jumlah itu, sebanyak 59,31% atau 80,24 juta orang bekerja di kegiatan informal. Lulusan SMK menyumbang TPT tertinggi per Agustus 2022 yaitu sebesar 9,42%. Pada kondisi ini, dapat dikatakan bahwa terdapat penawaran tenaga kerja yang tidak terserap terutama pada lulusan pendidikan tingkat menengah.

Sementara mereka yang berpendidikan lebih rendah cenderung mau menerima pekerjaan apa saja. Hal itu terlihat dari TPT pendidikan SD ke bawah paling rendah yaitu hanya sebesar 3,59%.

Komposisi angkatan kerja menurut tingkat pendidikan tidak mengalami perubahan signifikan jika dibandingkan dua periode sebelumnya (Agustus 2021 dan Februari 2022).

Setelah SMK, TPT menurut pendidikan tertinggi selanjutnya ditempati oleh SMA sebesar 8,57%, SMP 5,95%, universitas menyumbang 4,80%, serta Diploma I/II/III menyumbang 4,59%.


Penyebab Banyak Lulusan SMK Menganggur
Dilansir detik.com, pengamat Ketenagakerjaan, Hadi Subhan mengatakan banyaknya lulusan SMK menganggur karena kurikulum yang ada tidak sesuai dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Selama ini sistem pembelajaran disebut hanya berbasis pada teoritik saja.

"Perlunya reaktualisasi kurikulum SMK. Selama ini kurikulum yang dibuat SMK tidak link and match dengan DUDI. Hanya berbasis dalam tanpa kutip tenaga kuli saja dan pada teoritik saja," kata Hadi Minggu (19/2/2023).

Hadi menilai perlunya reaktualisasi kurikulum SMK. Saat ini kurikulum yang ada disebut belum menyesuaikan era revolusi industri 4.0.

"Program Merdeka Belajar yang dicanangkan Mendikbudristek itu sangat baik dan sangat relevan untuk menjawab dan mengatasi mengapa justru lulusan SMK itu banyak yang menganggur," ucapnya.

Senada, pengamat ketenagakerjaan Aloysius Uwiyono juga mengatakan bahwa kurikulum SMK saat ini masih jauh dari perkembangan era revolusi industri 4.0.

"Saya kira belum, masih jauh (kurikulum SMK dari perkembangan era revolusi industri 4.0)," tuturnya.

Tingginya tingkat pengangguran yang salah satu penyumbang terbesarnya adalah lulusan SMK harus segera diatasi. SMK merupakan pendidikan yang seharusnya menyiapkan lulusannya siap kerja dan terserap oleh dunia kerja atau industri. ***

 

--- Simon Leya

Komentar