OPINI Mahakarya Fiksi: Mafia Versi Steph yang Tak Pernah Terbukti 11 Dec 2025 18:53
Tulisan Stef Tupen Witin tentang "Mafia Waduk Lambo" dianggap sebagai karya fiksi karena ia menciptakan isu sensasional, membangun sosok pelaku secara sembarangan, dan bertindak sebagai penyidik, jaksa, dan hakim sekaligus—menuduh tokoh Nagekeo tanpa buk
TULISAN Steph Tupeng Witin tentang “Mafia Waduk Lambo” layak disebut sebagai sebuah karya fiksi. Ia bukan hanya menciptakan isu sensasional tentang keberadaan mafia, tetapi juga membangun sendiri sosok-sosok yang ia anggap sebagai pelaku, seolah sedang menulis skenario film dan bebas menentukan siapa tokoh jahatnya.
Dalam narasinya, ia tampil sebagai penyidik, jaksa, dan hakim sekaligus—memberikan label ‘pelaku’ kepada sejumlah tokoh Nagekeo tanpa dasar yang jelas, sambil menggambarkan masyarakat suku Isa, Gaja, dan Rendu seolah-olah sebagai korban yang sepenuhnya tak berdaya.
Lucunya, ketika orang yang ia jadikan pelaku itu muncul untuk memberikan klarifikasi, Steph menghindar untuk menunjukkan bukti apapun. Ia malah mengubah klarifikasi dengan berkata 'mafia sudah keluar dari persembunyian!'
Logika apa ini? Membuat pelaku sendiri, lalu ketika pelaku itu mau membela diri, tindakan itu justru dijadikan bukti kesalahannya? Ini bukan analisis objektif, ini adalah permainan kata yang berbahaya.
Pola yang dimainkan Steph ini sudah lama dikenal dalam teori komunikasi. Disebut sebagai Kafka Trap: tuduh dulu, lalu jadikan pembelaan diri sebagai bukti kesalahan. Ia menciptakan isu ‘mafia Waduk Lambo’, menentukan sendiri siapa pelakunya, dan ketika orang yang ia tuduh itu muncul memberikan klarifikasi, ia menghindar dari kewajiban menunjukkan bukti apa pun.
Dunia pernah melihat pola serupa dalam McCarthyism dan propaganda klasik: musuh diciptakan lebih dulu, fakta menyusul belakangan. Ini bukan analisis objektif, tetapi permainan retorika yang berbahaya karena mengubah bantahan menjadi alat pembenaran.”
Narasi Steph yang lemah ini selain membangun realitas fiktif, tetapi juga terasa seperti drama murahan dengan tokoh buatan. Tuduhan-tuduhan yang ia lontarkan bukan berdiri di atas data, tetapi di atas anggapan dan cerita yang ia dengar dan merakitnya sendiri.
Steph menyebut adanya “mafia”, menyebut nama orang-orang yang tidak pernah terbukti bersalah, AKBP Yudha Pranata, AKP Serfolus Tegu, Jenderal (Purn.) Gories Mere dan tokoh lainnya, terakhir adalah Valens Daki Soo.
Ia menggambarkan seolah-olah ada operasi gelap yang menguasai Nagekeo. Padahal, tidak ada satu pun bukti yang ia tampilkan. Tidak ada dokumen, tidak ada temuan lapangan, tidak ada laporan resmi. Tuduhannya berdiri karena dia sendiri yang menuliskannya.
Masalah menjadi semakin serius ketika orang-orang yang ia tuduh, VDS misalnya, memberi klarifikasi. Bukannya mengakui bahwa Steph mungkin keliru, ia malah menyebut bahwa klarifikasi itu adalah tanda bahwa “Mereka (Mafia) sudah keluar dari persembunyian”.
Logika semacam ini membuatnya selalu merasa benar. Jika diam, dianggap takut. Jika bicara, dianggap keluar dari sarang. Ini bukan pola pikir yang sehat, apalagi untuk opini publik yang menyangkut nama baik orang banyak. Ini pola orang Stres, Depresi Berat atau lebih positif, boleh dikatakan Preman berjubah.
Sementara itu, masyarakat yang benar-benar berada di sekitar lokasi waduk justru memberikan gambaran yang sangat berbeda. Penulis bersama Tobbias Ndiwa, melakukan wawancara terhadap beberapa masyarakat di lokasi Waduk Lambo. Mereka bekerja seperti biasa, baik sebagai petani, ibu rumah tangga dan aktivitas produksi di kantor.
Poses verifikasi lahan berjalan sesuai prosedur. Ya, ada masalah administratif. Ya, ada selisih pendapat soal lahan. Tetapi itu normal dalam proyek besar. Tidak ada situasi kelam, tidak ada ketegangan seperti yang Steph dorong ke ruang publik. Kenyataan di lapangan tidak mendukung narasi yang ia bangun. Justru warga sendiri yang menyebut bahwa situasi kondusif, damai, dan bisa diselesaikan dengan cara adat bila ada masalah yang tersisa.
Steph menggunakan istilah “mafia” dengan sangat mudah, bahkan sembrono. Padahal, menyebut seseorang sebagai mafia tanpa bukti sama saja dengan merusak hidup orang tersebut. Dan di sini persoalan utamanya: Steph bukan sedang membongkar kebenaran. Ia sedang menciptakan tokoh jahat untuk menguatkan opininya sendiri. Ia mengatur panggungnya: ADA KORBAN, ADA PENJAHAT, ADA DIRINYA sebagai imam dan pembela. Semua tokoh sudah ia tentukan, meski faktanya tidak sesuai.
Masyarakat Nagekeo tidak membutuhkan cerita yang dibesarkan tanpa dasar. Mereka butuh ketenangan, kejelasan administratif, dan proses hukum yang berjalan semestinya.
Warga berdampak tahu cara menyelesaikan persoalan mereka. Mereka punya adat, kearifan lokal, dan jalur komunikasi dengan pemerintah. Mereka tidak butuh cerita buatan yang memecah belah ala Steph Tupeng Witin.
Untuk kepentingan siapa sebenarnya Steph Tupeng menulis? Apakah ada pihak lain yang bersembunyi di balik layarnya?
Jika tulisannya tak sesuai fakta, mengapa kita percaya?" ***
--- Anyo Subiasy
Komentar