Breaking News

AGAMA Maknai Bulan Suci Maria, Segenap Umat Stasi Kobaleba Larut dalam Perarakan Patung Bunda Maria 20 May 2024 19:56

Article image
Suasana perarakan Patung Bunda Maria dari KUB Santa Lusia ke KUB Santo Fransiskus, Stasi Santo Yohanes Kobaleba. (Foto: Raymond W.Wolo)
"Semoga suasana seperti ini terus terjalin ke depan, saling mengisi dan melengkapi. Kita tetap bersaudara dalam Tuhan," kata Hilar Bendi.

ENDE, IndonesiaSatu.co-- Dalam tradisi Gereja Katolik, bulan Mei diperingati sebagai Bulan Suci Maria.

Segenap umat Kristiani di hampir setiap Keuskupan, menghormati Bunda Maria dengan aneka cara, baik melalui Doa Bersama dalam Komunitas Umat Basis (KUB), Devosi, perarakan, maupun melakukan ziarah ke gua-gua Maria.

Di Keuskupan Agung Ende, sebagaimana disaksikan media ini, selama bulan Mei 2024 sebagian besar umat di hampir setiap Paroki, mengadakan perarakan Patung Bunda Maria dan Devosi bersama, sebagai tanda penghayatan iman penghormatan khusus kepada Bunda Maria.

Penghormatan Bercorak Budaya Lio

Sebagaimana disaksikan media ini, segenap umat di Stasi Santo Yohanes Kobaleba, Paroki Kristus Raja Mukusaki, Keuskupan Agung Ende, sejak awal Bulan Mei 2024 telah melakukan perarakan dan Devosi secara bergilir di setiap KUB dalam tiga wilayah Lingkungan yakni Lingkungan Bintang Timur Kobaleba, Lingkungan Santo Benediktus Ratewegu dan Lingkungan Santo Mikhael Anarepi.

Dalam suatu moment perarakan dari KUB Santa Lusia ke KUB Santo Fransiskus di Lingkungan Santo Benediktus Ratewegu, Sabtu (18/5/2024), segenap umat larut dalam suasana perarakan Patung Bunda Maria diiringi nyanyian dan Doa Rosario bersama.

Terdapat satu moment unik yakni pada saat penyerahan dan penerimaan Patung Bunda Maria.

Dalam suasana hening, perwakilan dari KUB Santa Lusia, Maria Wuga mendaraskan Doa Penyerahan dalam bahasa daerah Lio.

"Ine Maria-Ine Du'a Ngga'e, ma'e peke longgo no'o kami, tipo pama sai kami sa kunu rana, Ine eo dhome sawe leka KUB Santa Lusia, kobe na kami ate dhoa tu ine leka KUB Santo Fransiskus. Ine Maria eo sangga ja ngere wula ndala, ngaji rina pati kami kobe no leja, we'e tebo lo kami ma'e ro-baja, kema gena tau tambu, muri bheni no'o imu sama. Ine ola mete, ngaji rina laka kami leka Yesus Ana eo so'i dunia, jaga kami sa kunu rana du limba leta. (Bunda Maria, Bunda Tuhan, jangan palingkan wajahmu dari kami, pandanglah kami segenap umatmu, Bunda yang telah mengunjungi kami di KUB Santa Lusia, malam ini dengan haru dan harap kami menghantar Bunda ke KUB Santo Fransiskus. Bunda Maria yang mahkotamu melebihi terang bulan dan bintang, doakanlah kami selalu agar jiwa raga kami aman dan damai, dijauhkan dari sakit penyakit, diberkati dalam usaha, hidup bersaudara dengan sesama. Bunda tempat kami berharap, doakanlah kami melalui Yesus Putera Sang Juruselamat dunia, lindungilah kami kini dan selama-lamanya, " daras Mecin dalam suasana hening dan penuh penghayatan.

Selanjutnya, perwakilan dari KUB Santo Fransiskus, Yohanes Nyamin menyambut dengan penerimaan khas daerah Lio diwarnai dengan seremoni pengalungan Patung Bunda Maria.

"Tabe Ine Maria, Ine eo benu no'o ngawu dhau Du'a Ngga'E. Ine, Kau eo mai sawe se'a dowa, ine eo alo tei mbelo gena. Kami gha aji ana sa kunu rana, muri mera kami gha so tari ara.

Ine, dosa kami no'o lape kapa, dosa pu'u wiwi dola lema langga leka imu sama kami. Kami rina ampo, rina kapo gao.

O Ine Maria, Ine Santa eo so'o langga, kami rina oso masa, tipo kami ngere tipo nio, pama kami ngere pama naka. Medu sai berka leka nua ola, uma rema, pati kami muri keta ngere keli ngga ngere ae.

O Ine Maria eo dosa iwa, kami rina kola beu-beu rago bewa-bewa angi menga, leka nua, leka ole kema mbana peni wesi kami.

Kami mo'o simo kau Ine, gha menga kote tanggo no'o sepu lawo, kami mo'o tau hando nago, Ine mo'o tau nai sa'o.

Mai Ine Maria, no'o miu aji ana lei sawe, buka sai pere lesu sai usu, miu mo dhome one pama kasa, nai sa'o tika tenda, Ine mo'o dari duri mera padi no'o kami gha KUB Santo Fransiskus.

(Selamat datang Bunda Maria, Bunda yang penuh dengan Mahkota Sorgawi. Engkau sudah datang, pandanglah kami dengan segenap umatmu dengan segala lika-liku hidup kami, dengan kekurangan dan dosa kami dalam perkataan dan tindakan terhadap sesama kami. Kami mohon ampun, belas kasih dan kerahimanmu.

Bunda Maria, Bunda pilihan Allah, kami mohon perlindunganmu, rangkullah dan berkatilah kami agar selalu dipenuhi damai dan sukacita, jauhkanlah segala bala bencana, malapetaka dan penyakit serta keberhasilan dalam setiap usaha kami.

Kini, saatnya kami mau menyambutmu. Dengan rendah hati dalam wujud pengalungan sederhana ini, datanglah dan tinggallah bersama kami, ya Bunda Maria bersama segenap umat Santa Lusia yang menghantarmu. Dengan tulus ikhlas kami membuka hati dan keluarga kami menyambutmu, datanglah dan tinggallah bersama kami di KUB Santo Fransiskus)," daras Nyamin dengan tenang diikuti oleh segenap umat dengan penuh penghayatan.

Selanjutnya, segenap umat dari dua KUB membuat perarakan singkat menuju tempat pentahtaan, diiringi Lagu "O Maria Ine Du'a Ngga'e" dan Doa bersama.

Memaknai Iman dalam Nuansa Persaudaraan, Kekeluargaan dan Kasih

Usai Doa bersama di depan Patung Bunda Maria, mewakili umat KUB Santa Lusia, Hilarius Bendi mengatakan bahwa selama Bulan Suci Maria, selain doa dan devosi, umat sungguh mengalami nuansa persaudaraan, kekeluargaan dan cinta kasih.

"Atas nama segenap umat, kami mengucapkan terima kasih kepada pengurus dan segenap umat KUB Santo Fransiskus. Bunda Maria menyatukan kita sebagai satu keluarga Kristiani. Semoga suasana seperti ini terus terjalin ke depan, saling mengisi dan melengkapi. Kita tetap bersaudara dalam Tuhan," kata Hilar Bendi.

Ungkapan senada disampaikan Ketua KUB Santo Fransiskus, Maximus Mane, mewakili seluruh umat.

"Terima kasih untuk suasana malam ini yang penuh dengan nuansa kekeluargaan, persaudaraan dan kasih. Ini semua berkat kerinduan, kekompakan dan kerjasama kita. Hal yang utama yakni bagaimana hati dan niat kita bersama untuk menghormati secara khusus Bunda Maria selama buln Mei ini," ungkap Max.

Max berharap agar suasana yang tercipta selama bulan suci Maria, terus terjaga dan ditingkatkan untuk hari-hari selanjutnya.

"Mari kita tetap bergandengan tangan, menjaga kebersamaan dan terus hidup sebagai satu keluarga Kristiani yang dijiwai oleh kasih," ajak Max.

Selanjutnya, Patung Bunda Maria akan diarak menuju Lingkungan Santo Mikhael Anarepi, untuk kemudian ditahktakan di KUB Santo Mikhael dan KUB Santo Ignaius hingga akhir bulan Mei 2024, lalu perarakan Patung Bunda Maria menuju Kapela Stasi Santo Yohanes Kobaleba.

--- Guche Montero

Komentar