Breaking News

OPINI Mari Bersama Mencerahkan: Geothermal untuk Keselamatan dan Kesejahteraan Flores 28 Aug 2026 15:21

Article image
Dr. Ing. Ignas Iryanto. (Foto: Ist)
Ukuran keberhasilan kita bukanlah diterima atau ditolaknya geothermal, melainkan apakah masyarakat Flores dapat mengambil keputusan yang lebih berpengetahuan dan menjalani kehidupan yang lebih sejahtera, aman, dan bermartabat.

Oleh: Dr. Ing. Ignas Iryanto*

 

Perdebatan tentang geothermal seharusnya tidak berakhir dengan kemenangan pendapat, melainkan dengan keputusan yang lebih baik bagi masyarakat Flores. Kita membutuhkan jalan menuju kesejahteraan, tetapi jalan itu harus dibangun di atas pengetahuan yang dapat diuji, perlindungan terhadap lingkungan, dan penghormatan kepada warga yang akan menanggung konsekuensinya.

Saya berterima kasih kepada Pater Felix Baghi SVD yang melalui tulisan “Gempa Flores dan Bahaya Menyederhanakan Kebenaran” memberikan catatan kritis terhadap tulisan saya, “Gempa Bumi dan Geothermal”. Terima kasih juga kepada abang Primus Dorimulu yang ikut memperluas percakapan melalui tulisan “Gempa Flores: Antara Ketakutan, Fakta Ilmiah dan Jalan Menuju Kesejahteraan”. Perbedaan pendekatan dalam diskusi ini merupakan kesempatan untuk saling melengkapi, sekaligus memeriksa kembali batas-batas argumentasi kita sendiri.

Ada dua pokok yang ingin saya tegaskan dari tulisan sebelumnya. Pertama, kasus Daratei atau Mataloko tidak cukup dijadikan satu-satunya dasar untuk menolak seluruh proyek geothermal. Kedua, tuduhan bahwa suatu gempa disebabkan oleh kegiatan geothermal harus didasarkan pada bukti mengenai peristiwa tersebut, bukan semata-mata karena keduanya berada di wilayah yang sama. Dari dua pokok itu, saya mengusulkan dialog dengan bahan pembanding yang lebih luas.

Penegasan tersebut tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa semua kritik terhadap geothermal keliru, ataupun bahwa geothermal pasti aman. Apabila tulisan sebelumnya menimbulkan kesan demikian, saya perlu memperjelasnya. Membantah satu alasan penolakan tidak berarti membantah seluruh keberatan masyarakat. Demikian pula, penjelasan mengenai penyebab suatu gempa tidak dengan sendirinya menjawab seluruh pertanyaan mengenai keamanan sebuah proyek.

Dalam diskusi daring yang diselenggarakan Politeknik Cristo Re, saya merujuk penjelasan Ir. Ali Ashat Dipl. Geothermal, mengenai persoalan prosedur eksplorasi di Daratei. Beliau kemudian mengirimkan kepada saya suatu dokumen: United Nations Framework Classification for Geothermal Energy, pilot application in the Caribbean, Ethiophia and Indonesia, laporan dari International renewable Energy Agency.  Di halaman 24 dokumen ini menyatakan dengan jelas kekeliruan yang dilakukan di proyek Dratei ini. Dan memang kesalahan itu tidak pernah terjadi di proyek lainnya di dunia. 

Pokok argumentasi saya tidak bergantung pada klaim bahwa Daratei merupakan kasus yang sepenuhnya unik. Yang ingin saya tekankan adalah bahwa kondisi dan pengelolaan setiap proyek perlu diperiksa secara khusus. Kegagalan di satu tempat tidak otomatis membuktikan bahwa semua proyek akan gagal. Sebaliknya, keberhasilan di tempat lain juga tidak otomatis membuktikan bahwa proyek di Flores akan berhasil.

Namun, Daratei tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai contoh yang dianggap tidak mewakili keseluruhan teknologi. Bagi warga yang terdampak, persoalannya menyangkut ruang hidup, penghidupan, dan kepercayaan terhadap pihak yang menjalankan pembangunan. Sekalipun kerusakan disebabkan oleh kesalahan prosedur, masyarakat tetap berhak bertanya: bagaimana kesalahan itu bisa terjadi, mengapa tidak dicegah, siapa yang bertanggung jawab, dan apa jaminan perbaikannya?

Karena itu, saya mendukung tuntutan agar persoalan Daratei diselesaikan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan sebelum proyek berikutnya dijalankan. Penyelesaian tersebut perlu mencakup pemeriksaan penyebab, pemulihan kerusakan, penanganan kerugian warga, serta pengawasan atas hasilnya. Ukuran keberhasilan pemulihan tidak boleh hanya ditentukan oleh pihak pelaksana, tetapi perlu melibatkan warga terdampak dan penilaian independen.

Dalam hal ini, kita tidak perlu menduga-duga motif mereka yang menolak geothermal. Keberatan masyarakat harus didengar dan diuji berdasarkan isinya. Demikian pula, dukungan terhadap geothermal perlu dinilai berdasarkan bukti dan manfaat yang ditawarkan. Perbedaan sikap tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa salah satu pihak kurang peduli terhadap keselamatan atau kesejahteraan Flores.

Mengenai gempa yang menjadi pokok perdebatan, posisi saya adalah bahwa penentuan penyebabnya harus merujuk pada data dan penjelasan lembaga berwenang, terutama BMKG, serta kajian ahli yang relevan. Jika bukti menunjukkan bahwa peristiwa tersebut berasal dari aktivitas tektonik dan tidak terkait dengan operasi geothermal, tuduhan sebaliknya memerlukan bukti yang dapat diuji. Kedekatan lokasi saja tidak cukup untuk menetapkan hubungan sebab-akibat. Meman ada fenomena yang disebut induced seismicity dan triggered earthquake seperti dikatakan namun gempa tanggal 15 agustus kemarin tidak termasuk dampak dari dua hal tersebut. 

Pada saat yang sama, penjelasan itu tidak boleh diperluas menjadi jaminan bahwa suatu proyek geothermal bebas risiko. Kita harus membedakan pertanyaan tentang penyebab gempa tertentu dari pertanyaan tentang risiko suatu proyek. Keduanya membutuhkan pemeriksaan yang sesuai, bukan jawaban umum yang menutup semua kemungkinan.

Itulah sebabnya saya mengusulkan agar kita belajar dari pengalaman proyek lain, termasuk Kamojang, Lahendong, dan Ulubelu. Belajar tidak berarti hanya melihat fasilitas atau mendengar cerita keberhasilan. Kita perlu memeriksa bagaimana persoalan lingkungan ditangani, bagaimana keluhan warga diselesaikan, bagaimana pengawasan berlangsung, dan manfaat apa yang benar-benar diterima masyarakat setempat. Kekurangan dan kegagalan mereka pun harus menjadi bagian dari pembelajaran.

Hasil pembelajaran tersebut tidak harus berujung pada persetujuan. Kita mungkin menemukan praktik yang dapat diterapkan dengan persyaratan ketat di Flores. Kita juga mungkin menyimpulkan bahwa suatu lokasi tidak layak dikembangkan karena risikonya tidak dapat diterima. Dialog baru sungguh terbuka apabila kedua kemungkinan itu memperoleh ruang yang sama.

Keterbukaan juga berlaku terhadap perkembangan teknologi. Saya pernah bersama Ir. Natsir Pua Upa, putra Nagekeo yang berpengalaman di bidang migas, berupaya mengusulkan pendekatan eksplorasi lain untuk Flores. Akan tetapi, setiap usulan teknologi tetap harus dijelaskan kemampuan, keterbatasan, bukti penerapan, serta kesesuaiannya dengan kondisi setempat. Harapan bahwa teknologi dapat mengurangi gangguan lingkungan perlu dibuktikan, bukan dijadikan janji sebelum pengujiannya selesai.

Pertanyaan yang mendasari perhatian saya terhadap persoalan ini tetap sama: bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat Flores? Saya percaya bahwa kita perlu memperluas kesempatan ekonomi, meningkatkan nilai tambah hasil pertanian dan perikanan, memperkuat pariwisata, serta membuka pekerjaan yang layak. Kita tidak perlu meninggalkan seluruh warisan kehidupan leluhur untuk mencapai kemajuan, tetapi perlu memastikan bahwa masyarakat memiliki pilihan penghidupan yang lebih baik.

Dalam kerangka itulah kebutuhan energi harus dibahas. Pertanyaannya bukan sekadar apakah kita memerlukan pembangkit, melainkan berapa kebutuhan listrik kita, untuk kegiatan apa, di wilayah mana, dan dengan biaya yang dapat dijangkau siapa. Rencana penyediaan energi harus terhubung dengan kebutuhan rumah tangga, usaha kecil, layanan pendidikan dan kesehatan, serta kegiatan ekonomi produktif.

Geothermal patut dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan, bukan ditempatkan sebagai satu-satunya jalan keluar. Tenaga surya, angin, air, penyimpanan energi, serta kemungkinan kombinasi berbagai sumber perlu dibandingkan secara terbuka. Perbandingan tersebut harus mencakup keandalan pasokan, kestabilan daya dan frekuensi,  biaya keseluruhan, kebutuhan jaringan, penggunaan lahan, dan konsekuensi sosial serta lingkungan. Pilihan energi seharusnya lahir dari pemeriksaan itu, bukan dari anggapan bahwa pendukung satu teknologi lebih menginginkan kemajuan daripada pendukung teknologi lainnya.

Tambahan listrik juga tidak boleh dianggap otomatis menghasilkan kesejahteraan. Kita perlu menjelaskan hubungan antara energi dan kegiatan ekonomi yang hendak dibangun. Apakah listrik akan mendukung pengolahan hasil pertanian, penyimpanan ikan, usaha pariwisata warga, atau layanan dasar? Siapa yang memperoleh kesempatan usaha dan pekerjaan? Tanpa jawaban yang konkret, pembangunan energi berisiko menjadi proyek yang besar secara fisik, tetapi jauh dari kebutuhan masyarakat.

Pengalaman hampir 15 tahun menangani CSR dan hubungan eksternal perusahaan mengajarkan kepada saya pentingnya penerimaan, kepercayaan, dan izin sosial untuk beroperasi. Namun, pengalaman praktis tidak membebaskan siapa pun dari kewajiban menjelaskan dan membuktikan pendapatnya. Praktisi, akademisi, rohaniwan, dan warga memiliki pengetahuan yang berbeda-beda, dan masing-masing dapat memperlihatkan bagian persoalan yang luput dari perhatian pihak lain.

Karena itu, saya tidak ingin mempertentangkan teknik dengan filsafat, ataupun pengalaman lapangan dengan pengetahuan dari buku. Kajian teknis membantu menjelaskan apa yang mungkin dilakukan dan bagaimana risikonya dikelola. Pertimbangan etis membantu kita menilai siapa yang menerima manfaat, siapa yang menanggung beban, dan batas apa yang tidak boleh dilampaui. Pengalaman warga memperlihatkan bagaimana semua itu benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pandangan saya, tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan juga harus melampaui bantuan dan kegiatan seremonial. Komitmen tersebut perlu hadir dalam keputusan operasional, keterbukaan informasi, penanganan keluhan, dan kesediaan memperbaiki kerugian. Penyebutan CSR, ESG, atau standar tertentu belum cukup. Yang menentukan adalah pelaksanaan dan hasil yang dapat diperiksa.

Dialog yang saya harapkan karena itu perlu melibatkan warga terdampak, pemerintah, pengembang, ahli independen, praktisi lingkungan dan sosial, serta tokoh masyarakat dan Gereja. Warga harus mendapat informasi yang dapat dipahami, waktu yang memadai untuk mempertimbangkan, dan kesempatan menyampaikan keberatan tanpa tekanan. Pertemuan tidak boleh sekadar menjadi sarana menyosialisasikan keputusan yang sebenarnya sudah selesai dibuat.

Sebagai seorang Katolik, saya menghormati peran Gereja dalam mendampingi masyarakat dan menjaga martabat manusia serta keutuhan ciptaan. Sikap iman itu mendorong saya untuk mendengarkan dengan rendah hati. Dalam pengambilan keputusan publik, penghormatan tersebut perlu berjalan bersama pemeriksaan bukti, tanggung jawab pemerintah, dan partisipasi seluruh warga yang terdampak. Perbedaan pendapat tidak perlu diubah menjadi penilaian atas kedalaman iman ataupun ketulusan seseorang.

Pada akhirnya, perdebatan ini membawa kita kepada refleksi yang lebih luas. Flores memiliki orang-orang terdidik, pengalaman pengabdian, dan kekayaan pengetahuan yang patut disyukuri. Tantangannya adalah bagaimana semua itu semakin terhubung dengan perbaikan kehidupan masyarakat. Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk merendahkan penulis, filsuf, atau pendidik, melainkan mengajak kita bekerja bersama agar pengetahuan mempunyai jalan menuju tindakan.

Bagaimana sabda menjadi daging? Bagaimana gagasan menjadi pekerjaan yang layak, layanan dasar yang baik, lingkungan yang terjaga, dan penghidupan yang lebih bermartabat? Jawabannya membutuhkan lebih dari satu profesi, satu teknologi, ataupun satu pendapat. Kita membutuhkan kemampuan berpikir sekaligus kesediaan bekerja, keberanian mengambil langkah sekaligus kerendahan hati untuk mengoreksinya.

Mari bersama mencerahkan. Bukan dengan meniadakan kekhawatiran, melainkan dengan menjawabnya secara jujur. Bukan dengan menjanjikan pembangunan tanpa risiko, melainkan dengan memastikan bahwa risiko diperiksa, manfaat dijelaskan, dan tanggung jawab ditegakkan. Ukuran keberhasilan kita bukanlah diterima atau ditolaknya geothermal, melainkan apakah masyarakat Flores dapat mengambil keputusan yang lebih berpengetahuan dan menjalani kehidupan yang lebih sejahtera, aman, dan bermartabat.

 

* Penulis adalah Sekjend Archipelago Solidarity.

--- Guche Montero

Komentar