OPINI Flores Antara Gempa Besar Alami dan Proyek Geotermal 17 Aug 2026 17:49
Yang paling penting adalah mengadopsi pendekatan risiko-berbasis yang mengutamakan pemantauan berkelanjutan, pemodelan terintegrasi, dan protokol respons yang jelas agar operasional bisa berjalan dengan aman meskipun wilayahnya sangat seismik.
Oleh Dr. Felix Baghi, SVD*
Gempa besar alami di Flores tanggal 15 Agustus baru baru telah memancing kita untuk berpikir secara lebih serius dan lebih ilmiah tentang hubungan antara “gempa alami” dan “pemboran panas bumi” di Pulau Flores dan Lembata. Hubungan ini dapat dipahami melalui kerangka fisik geologi dan dinamika reservoir yang saling terkait.
Narasi ini berangkat dari realitas bahwa Flores terletak di zona tektonik yang sangat aktif, di sepanjang busur subduksi Sunda-Banda, sehingga gempa besar alami adalah variasi alami dari keseimbangan energi kerak bumi di wilayah Flores yang terjadi setiap tahun.
Perlu diingat bahwa pulau Flores selalu mengalami gempa setiap tahun dan pulau ini berada pada zona cincin api dengan deretan gunung api yang panjang dari barat sampai ke timur.
Di sisi lain, pemboran panas bumi adalah proses rekayasa manusia (rekayasa geologis) yang membuat fluida bertekanan tinggi masuk ke akuifer panas, mendorong jaringan retak, dan mengubah sifat mekanik serta aliran fluida di dalam batuan.
Meskipun keduanya beroperasi pada level yang berbeda,” alami versus rekayasa”, kedua fenomena ini dapat saling memengaruhi melalui mekanisme fisik yang sama: perubahan tegangan (stress) dan tekanan pori (pore pressure) di bawah permukaan.
Kerangka Sosial
Kerangka konseptual dapat dipertimbangkan dari beberapa argumen berikut ini. Pertama, tegangan batuan dan tekanan pori adalah kunci bagi kedua fenomena.
Gempa besar alami seperti yang terjadi di Flores pada tanggal 15 Agustus 2026 dapat mengubah tegangan regional melalui transfer gaya tektonik, sedangkan pemboran panas bumi di Flores (Ulumbu, Mataloko, Sokoria dan Atadei dan rencana di beberapa titik lain) mengubah tekanan fluida dan tegangan efektif pada retakan batuan di sepanjang jaringan saluran panas bumi.
Ketika keduanya (gempa besar alami dan pemboran panas bumi) hadir di wilayah yang berdekatan secara spasial, tentu dinamika pascagempa dan respons reservoir pasti dapat saling berinteraksi.
Kedua, efek dari gempa besar alami tidak selalu mengarah pada peningkatan risiko gempa induksi akibat pemboran. Namun, perubahan tegangan interior di perut bumi akibat gempa dapat mengubah sifat retak batuan dan jalur aliran fluida.
Hal ini bisa meningkatkan atau menurunkan permeabilitas lokal, yang pada gilirannya mempengaruhi stabilitas operasional pemboran panas bumi.
Ketiga, hubungan ini bersifat probabilistik dan kontekstual: besar gempa, jarak relatif ke fasilitas panas bumi, orientasi retakan, sifat batuan serta pola injeksi dan produksi yang berjalan pada saat gempa.
Mekanisme Utama yang Relevan di Flores
Mekanisme utama yang relevan dapat dilihat dari beberapa kemungkinan berikut. Pertama, transfer tegangan statis pasca-gempa. Gempa besar alami dapat menggeser beban pada kerak bumi sehingga zona injeksi/produksi di fasilitas panas bumi mengalami perubahan tegangan efektif.
Perubahan ini bisa memicu redistribusi tekanan hingga ke jaringan retak yang berperan sebagai jalur fluida. Awas, ini bisa terjadi tanpa dideteksi manusia karena hal ini terjadi di dalam perut bumi.
Pengetahuan dan teknologi manusia dapat keliru dan bahkan salah. Buktinya pada kegagalan teknis dan pengetahuan yang diterapkan pada proyek pemboran panas bumi di Mataloko termin pertama.
Kedua, efek dinamik gempa. Gelombang seismik dari gempa besar dapat menimbulkan gangguan seismik singkat pada area reservoir, yang berpotensi menstimulasi slip terhenti atau memicu slip pada celah-celah yang sudah rapuh. Ini dapat memodulasi aliran fluida bersifat sementara dan memengaruhi kinerja reservoir.
Ketiga, poroekologi (poroelastic coupling): perubahan tekanan fluida akibat injeksi/produksi bisa memodulasi respons mekanik batuan terhadap getaran gempa.
Sebaliknya, getaran gempa bisa mengubah permeability secara temporer, sehingga laju injeksi dan distribusi tekanan bisa berubah secara tidak terduga pascagempa. Oleh karena itu, apa yang sudah direncanakan secara teknis seperti di welpad pemboran dapat saja berubah dan terganggu pada bagian bawah tanah.
Keempat, resiko gempa induksi pasca-gempa besar. Meskipun gempa besar adalah kejadian alami, respons sistem panas bumi terhadap gempa besar bisa meningkatkan probabilitas terjadinya gempa induksi mikro jika injeksi terlalu tinggi atau jika stimulasi reservoir memicu fraktur baru pada retakan yang terpapar perubahan tegangan besar.
Konteks Flores dan Implikasi Kebijakan
Pertama, harus diingat dan bahkan diperhatikan dengan serius baik oleh pemerintah terlebih oleh PLN, Sinar Mas, SGI maupun pihak pengembang proyek panas bumi, bahwa pulau Flores berada dalam kerangka tektonik yang kompleks dan dekat dengan zona subduksi aktif.
Karena itu, gempa besar alami bukan hanya peristiwa yang perlu dimitigasi secara operasional, tetapi juga harus memperhatikan faktor perubahan lingkungan yang dapat mengubah risiko geoteknis di fasilitas panas bumi.
Kedua, karena sifat berbahaya dari kombinasi tegangan batuan, gangguan aliran fluida, dan potensi gempa induksi, perencanaan dan operasional pemboran panas bumi di Flores sebaiknya didasarkan pada evaluasi risiko yang sensitif terhadap gempa besar yang sedang terjadi di wilayah sekitarnya.
Hal ini seharusnya menjadi dasar untuk tidak memaksakan proyek pemboran panas bumi di publik yang rawan gempa tektonik seperti Flores dan Lembata.
Ketiga, praktik terbaik global menunjukkan pentingnya pemantauan seismik mikro secara kontinu, model reservoir berbasis data, dan prosedur penghentian operasional (stop-work) yang jelas jika terjadi gempa besar atau gejala perubahan tegangan yang signifikan.
Pendekatan serupa perlu diintegrasikan ke dalam kerangka perizinan, keselamatan kerja, dan komunikasi dengan regulator serta komunitas lokal di Flores. Ini tampaknya tidak dibuat secara baik oleh pemerintah dan pihak pengembang geothermal melalui prinsip FPIC.
Oleh karena itu, arah pemantauan yang harus direkomendasikan. Pertama, pemantauan seismik dan deformasi: pasang jaringan seismik mikro dan alat GNSS/InSAR untuk memetakan respons wilayah terhadap gempa besar dan investigasi bagaimana perubahan tegangan mempengaruhi jalur retak serta aliran fluida di zona panas bumi.
Kedua, pemodelan poroekologi terintegrasi: gunakan model poroelektrik untuk mensimulasikan bagaimana injeksi/produksi berinteraksi dengan tekanan mekanik pascagempa sehingga dapat memprediksi perubahan permeabilitas dan potensi gempa induksi.
Ketiga, studi kasus regional: pelajari rekam jejak gempa besar di wilayah Banda dan sekitarnya serta respons fasilitas panas bumi yang relev, untuk menilai apakah ada tren umum antara kejadian gempa besar dan perubahan kinerja atau risiko di proyek-proyek geotermal di Flores.
Keempat, kebijakan keselamatan berbasis risiko: kembangkan kriteria penghentian operasional yang menggabungkan magnitudo gempa, jarak, intensitas getaran di fasilitas, integritas infrastruktur, serta data model risiko reservoir pascagempa.
Hubungan antara “gempa besar alami” dan “pemboran panas bumi di Flores” adalah contoh kompleks dari interaksi antara fenomena geofisik alami dan intervensi manusia pada sistem reservoir panas bumi.
Yang paling penting adalah mengadopsi pendekatan risiko-berbasis yang mengutamakan pemantauan berkelanjutan, pemodelan terintegrasi, dan protokol respons yang jelas agar operasional bisa berjalan dengan aman meskipun wilayahnya sangat seismik.
Dengan penelitian yang terarah dan implementasi kebijakan yang tepat, proyek panas bumi di Flores harus dipertimbangkan kembali, dan sebaiknya dihentikan sama sekali untuk menjaga keamanan para pekerja, keselamatan lingkungan, keamanan komunitas, kenyaman psikologis warga sekitar dan seluruh masyarakat di Flores dan Lembata.
* Penulis adalah Dosen Filsafat IFTK Ledalero, Maumere dan Doktor Filsafat Sosial Politik lulusan Universitas Santo Tomas Manila, Filipina.
Komentar