REGIONAL NTT Triwulan II-2025 : Menjaga Pertumbuhan di Tengah Tantangan Struktural 24 Sep 2025 12:04
Catatan ekonomi NTT pada tengah tahun 2025 adalah tentang pertumbuhan yang tangguh di tengah tekanan fiskal, inflasi yang terkendali meski penuh risiko, serta stabilitas keuangan yang terjaga dengan basis intermediasi kuat.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co — Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan geliat ekonomi yang semakin kuat pada 2025. Pertumbuhan yang solid, inflasi yang relatif rendah, dan perbaikan kesejahteraan masyarakat menandai perjalanan ekonomi provinsi kepulauan ini.
Berdasarkan Laporan Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur Agustus 2025 yang dirilis melalui situs resmi Bank Indonesia (BI), kinerja ekonomi NTT pada triwulan II 2025 tumbuh 5,44% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,73% (yoy). Capaian tersebut menempatkan NTT sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di wilayah Bali dan Nusa Tenggara, setelah Bali yang mencatat 5,95% (yoy), sekaligus melampaui rata-rata nasional di angka 5,12% (yoy).
Pertumbuhan ini tidak terlepas dari dorongan sektor pertanian, khususnya produksi padi dan peternakan yang menopang pasokan pangan serta menjaga inventori. Net Ekspor Antar Daerah juga tetap positif. Sementara itu, konsumsi pemerintah ikut menopang ekonomi seiring percepatan belanja bantuan sosial dari pemerintah pusat. Konsumsi rumah tangga pun terjaga, mencerminkan daya beli masyarakat yang stabil.
APBD dan Belanja Pemerintah: Antara Efisiensi dan Tekanan
Meski pertumbuhan ekonomi meningkat, kinerja keuangan pemerintah daerah justru menghadapi tantangan. Realisasi total belanja pemerintah (APBN dan APBD) pada triwulan II-2025 hanya mencapai Rp23,07 triliun, atau terkontraksi -11,37% (yoy). Angka itu lebih rendah dibandingkan periode sama 2024 yang justru tumbuh 13,88% (yoy).
Dari sisi persentase, realisasi belanja baru mencapai 35,53% dari total anggaran tahun berjalan, lebih rendah dibanding capaian 37,98% pada periode sama tahun sebelumnya. Belanja pegawai mendominasi, sejalan dengan penerimaan CPNS dan PPPK, sementara belanja barang, jasa, serta belanja modal melemah akibat kebijakan efisiensi melalui Instruksi Presiden (Inpres) No.1/2025.
Tak hanya belanja, pendapatan daerah juga tertekan. Realisasi pendapatan APBD provinsi dan kabupaten/kota di NTT terkontraksi -7,57% (yoy), jauh berbeda dari tahun lalu yang melesat 23,31% (yoy). Realisasi tersebut baru mencapai 37,01% dari pagu anggaran.
Inflasi Terkendali, Tapi Ada Risiko
Inflasi di NTT tercatat relatif rendah. Pada triwulan II-2025, inflasi berada di level 1,72% (yoy), lebih rendah dibandingkan 1,86% (yoy) pada triwulan sebelumnya, sekaligus di bawah rata-rata nasional 1,87% (yoy).
Pendorong inflasi utama adalah kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, terutama dari komoditas hortikultura akibat turunnya produksi, serta kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya, dengan emas perhiasan sebagai kontributor terbesar di tengah gejolak geopolitik global. Sebaliknya, kelompok Transportasi mengalami deflasi, ditopang diskon tarif angkutan udara pada liburan sekolah.
Ke depan, BI memperkirakan tekanan inflasi NTT meningkat pada triwulan III-2025. Hilangnya efek panen raya tanaman pangan dan penurunan produksi perikanan diprediksi mengerek harga ikan-ikanan. Namun, panen hortikultura berpotensi menjadi penahan inflasi, sementara meredanya konflik geopolitik menurunkan tekanan harga emas perhiasan.
Stabilitas Keuangan: LDR Tinggi, Kredit Tertekan
Di sisi keuangan, NTT masih menunjukkan stabilitas meski penyaluran kredit sempat melemah. Kredit tumbuh -0,16% (yoy) pada triwulan II-2025, menandakan sektor riil masih dalam fase pemulihan. Meski demikian, fungsi intermediasi perbankan tetap tinggi, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 128,13%.
Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 4,17% (yoy), terutama didorong kenaikan deposito yang melesat 14,03% (yoy). Dari sisi risiko, kualitas aset perbankan terjaga, dengan rasio kredit bermasalah (NPL gross) di level 3,71%, masih di bawah ambang batas 5%.
Sistem Pembayaran dan Uang Rupiah
Indikator sistem pembayaran nontunai pada periode laporan cenderung melemah. Transaksi BI-RTGS turun lebih dalam dibanding triwulan sebelumnya, sementara SKNBI juga kontraksi meski tidak sedalam triwulan I-2025.
Sebaliknya, dari sisi tunai, aliran uang (cashflow) menunjukkan perbaikan. Terdapat net inflow Rp0,05 triliun, berbalik arah dari periode sama 2024 yang mencatat net outflow Rp0,90 triliun. Perbaikan ini mencerminkan peningkatan aktivitas tunai masyarakat, dengan sisi inflow yang lebih tinggi dibanding outflow.
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Pasar tenaga kerja di NTT memperlihatkan perbaikan. Hingga Februari 2025, jumlah penduduk usia kerja naik 1,75% (yoy) menjadi 4,06 juta orang. Dari jumlah itu, 2,98 juta orang bekerja, meski Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sedikit naik ke 3,23%.
Di sisi kesejahteraan, tren positif berlanjut. Persentase penduduk miskin pada Maret 2025 turun ke 18,6%, dari 19,48% setahun sebelumnya. Gini Ratio menurun ke 0,315, menandakan ketimpangan berkurang. Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) membaik, sejalan dengan naiknya Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencerminkan daya beli petani semakin kuat.
Prospek: Pertumbuhan Masih Kuat
Melihat tren yang ada, prospek ekonomi NTT pada 2025 tetap menjanjikan. BI memperkirakan pertumbuhan berada di kisaran 4,20%–5,00% (yoy), ditopang konsumsi rumah tangga, perbaikan neraca perdagangan antar daerah, serta kontribusi positif dari lapangan usaha pertanian, perdagangan besar-eceran, industri pengolahan, hingga penyediaan akomodasi dan makan minum.
Dari sisi inflasi, NTT diproyeksikan tetap dalam sasaran nasional 2,5% ± 1%. Tekanan utama diperkirakan datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, terutama akibat penurunan produksi perikanan karena faktor cuaca, serta kelompok perawatan pribadi yang dipengaruhi harga emas global. Namun, kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) sebesar 6,5% diharapkan memberi stimulus konsumsi masyarakat sepanjang 2025.
Kisah ekonomi NTT pada tengah tahun 2025 adalah tentang pertumbuhan yang tangguh di tengah tekanan fiskal, inflasi yang terkendali meski penuh risiko, serta stabilitas keuangan yang terjaga dengan basis intermediasi kuat. Di sisi lain, tantangan masih ada: bagaimana menjaga momentum pertumbuhan kredit, mengoptimalkan belanja pemerintah, serta memastikan sektor riil mendapat ruang lebih luas untuk berkembang.
Dengan kombinasi potensi sektor pertanian, pariwisata, dan perdagangan, NTT tampak siap menjadi salah satu episentrum pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia. ***
--- Sandy Javia
Komentar