OPINI OPTIMISME, PESIMISME DAN HARAPAN 03 Feb 2025 10:01
Hiduplah secara otentik, meskipun dunia selalu menawarkan kemilau hal-hal artifisial!
Oleh: Agustinus Tetiro*
Jika kita mau gampang, judul tulisan sederhana di atas tidak perlu diuraikan dengan sebuah esai singkat seperti ini.
Kita bisa langsung meminta kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memberikan penjelasan, kesamaan dan perbedaan antara optimisme, pesimisme dan harapan, maka semuanya akan terjawab dengan sangat cepat.
AI pasti akan memberikan definisi, memperlihatan perbandingan antara ketiga hal itu, disertai contoh, lalu ditutup dengan kesimpulan singkat, padat dan jelas.
Akan tetapi, penulis melihat hal lain. Penulis tetap memilih untuk melihat hubungan ketiganya dalam bentuk esai ini sebagai “obrolan atau percakapan antar-teman dan sesama manusia” (Montaigne) dan sebagai “adorasi terhadap kegembiraan hidup” (Ignas Kleden).
Esai ini, tentu saja, adalah suatu letupan kreativitas penulis—kalau boleh dikatakan demikian— setelah sebulan terakhir ini berkomitmen untuk rutin menulis tentang harapan.
Konsultasi dengan sejumlah bacaan dan konfrontasi dengan pengalaman, tentu saja menjadi hal yang hampir wajib dalam upaya ini. Mari kita memulai ‘obrolan’.
Moderasi Optimisme dan Pesimisme
Dalam pembicaraan dan pemahaman sehari-hari, kita bisa saja menyamakan optimisme dengan harapan, harapan dengan angan-angan, pesimisme dengan kehendak lemah, pesimisme dengan keputusasaan, dan lain-lain.
Optimisme, pesimisme dan harapan tentu saja bisa dikaitkan satu sama lain, serentak juga dibedakan dengan jelas untuk keperluan pemahaman kita yang lebih benar, baik dan produktif.
Optimisme berbeda dengan harapan. Optimisme adalah suatu keyakinan atau sikap yakin yang didasari pada hitung-hitungan angka manusia. Kalkulasi pasti dalam optimisme membuat orang lebih percaya diri menghadapi hari-hari hidupnya.
Jika rajin berlatih dan hasil periksa kesehatan (medical check-up) menyatakan tekanan darah kita normal, tidak ada masalah dengan gula darah, kolesterol dan asam urat, kita optimis bisa menyelesaikan fun run atau marathon pekan depan.
Pesimisme adalah lawan dari optimisme. Pesimisme melihat masa kini dan masa depan (agak) suram berdasarkan hitung-hitungan manusia.
Jika penjualan online kian marak dan ada kecenderungan orang malas datang ke toko atau mal, pemilik toko dan penyewa lapak di pusat perbelanjaan menjadi pesimistis bisa meraup laba yang cukup.
Optimisme dan pesimisme bergantung pada data-data yang mendukung. Optimisme dan pesimisme mendasari diri pada kalkulasi, grafik data dan stastistik. Oleh karena itu, optimisme dan pesimisme melihat masa depan sebagai sesuatu yang pasti.
Hal berbeda kita katakan tentang harapan. Harapan berada dalam ketidakpastian, namun tetap pada ruang kemungkinan. Itulah yang membedakan harapan dan angan-angan.
Seorang pemuda berharap cinta yang diungkapkannya diterima oleh sang gadis pujaan. Itulah harapan. Seorang gadis berangan-angan mendapatkan pria sempurna yang membuat hidupnya berjalan tanpa tantangan dan hambatan lagi. Itu angan-angan.
Kita kembali kepada harapan. Harapan pada dasarnya tidak bergantung pada optimisme dan pesimisme. Harapan dan optimisme bisa menjadi rekan dalam perjalanan, namun tidak selalu juga begitu.
Sesuatu yang terlalu pasti dalam optimisme bisa bikin kita pasif. Harapan, karena berada pada ruang ketidakpastian, menuntut dari kita suatu sikap aktif.
Harapan menghadirkan tanggung jawab dan kerendahan hati. Orang yang optimistik bisa saja menjadi arogan.
Sementara itu, pesimisme juga memiliki kaitan dengan harapan. Orang bisa saja pesimis serentak berpengharapan.
Contoh paling nyata pada kasus-kasus pemeriksaan kesehatan. Hasil diagnosa dokter mungkin saja telah memvonis seseorang tidak lama lagi hidup. Tidak ada ruang untuk optimisme di sini.
Pesimisme menjadi hal yang lebih bisa diterima, namun orang juga masih bisa berharap semoga ada jalan lain yang membuat sang pasien bisa bertahan.
Dalam banyak pengalaman, sejumlah operasi berhasil, vonis dokter kemudian direvisi ke arah hasil yang lebih baik, dan lain-lain. Itulah kekuatan harapan. Pesimisme tidak bisa menutup seluruh dirinya terhadap harapan.
Sampai di sini, kita bisa memberi catatan mengenai pesimisme dan optimisme. Karena berdasarkan pada hitung-hitungan manusia, pesimisme dan optimisme sebaiknya tidak boleh menjadi suatu pilihan sikap yang absolut. Semua jenis overview, outlook, prediksi, data, kalkulasi, perkiraan, statistik manusia selalu terbatas. Harapan membuka batasan-batasan tersebut.
Maka, yang perlu dilakukan adalah memoderasi optimisme dan pesimisme kita. Jangan jatuh dalam optimisme dan pesimisme absolut! Benar, bahwa manusia selalu membutuhkan pegangan yang bisa diukur dan ditaksir, tetapi untuk mengatakan manusia dan hidupnya juga terbuka pada peluang-peluang tak terduga dan misteri juga benar.
Identitas, Tindakan dan Harapan
Harapan terhubung dengan identitas, sesuatu yang melekat secara hakiki pada kita.
Kita sebagai orang tua pasti berharap anak-anak bertumbuh menjadi pribadi yang sehat, sukses dan bahagia.
Kalau kita pendukung timnas PSSI, kita berharap timnas selalu menang melawan tim dari manapun.
Kalau kita orang beragama Katolik, kita berharap semua orang melakukan kebaikan dan menjaga Kasih Persaudaraan.
Harapan adalah konsekuensi dari identitas. Serentak juga, identitas mewajibkan kita untuk berharap. Adalah aneh kalau ada orang tua tidak mengharapkan anaknya menjadi bahagia. Adalah aneh kalau ada pendukung timnas yang tidak mengharapkan kemenangan kesebelasannya. Tidak bisa diterima kalau orang mengaku Kristen-Katolik jika tidak melakukan kasih.
Karena harapan itu tidak pasif dan karena harapan berkaitan dengan kemungkinan, harapan tentu saja perlu diperlihatkan dalam tindakan moral, actus humanus.
Tindakan moral dalam rangka harapan ini adalah satu proses sosialisasi atau bisa dipelajari yang pada gilirannya menjadi kebiasaan. Latihan tindakan berpengharapan paling baik adalah ketika kita menghadapi cobaan, saat pikiran dan perasaan kita bertemu dengan realitas kehidupan.
Dalam lintasan panjang sejarah umat manusia, harapan memang tidak selalu dimaknai secara positif. Ada sejumlah filsuf dan sastrawan, intelektual dan praktisi kebudayaan, dan lain-lain dari sejumlah kalangan telah mencoba meyakinkan bahwa harapan bisa membuat manusia tidak berkembang. Atau, manusia tidak terlalu membutuhkan harapan untuk kehidupan praktisnya.
Akan tetapi, ‘obrolan’ singkat kita di atas telah memberikan sedikit optimisme menyibak ke permukaan bahwa harapan adalah sesuatu yang wajib dimiliki oleh manusia. Harapan mungkin selalu tidak membawa kita pada kesuksesan atau pada apa yang kita mau. Harapan mungkin tidak selalu berbuah manis dalam pandangan dan cerapan indera manusia. Namun, harapan telah membuat kita kuat menghadapi realitas tantangan hidup.
Orang bisa membelenggu fisik kita, menyerang kita secara verbal, menekan secara psikologis, menghambat hak sosial dan politik. Harapan membuat kita tetap memiliki kebebasan eksistensial.
Harapan itu untuk (si) apa? Harapan yang datang dari dan menginspirasi tindakan akan membawa manusia pada hidup yang lebih otentik. Otentisitas hidup membahagiakan kita.
Data-data eksternal membuat kita optimis ataupun pesimis. Tugas kita adalah membuka harapan, dengan tindakan: inisiatif dan gerakan! Hiduplah secara otentik, meskipun dunia selalu menawarkan kemilau hal-hal artifisial!
* Penulis adalah Anggota Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA).
Komentar