PERTAHANAN Pengamat Militer Valens Daki-Soo: Mari Jaga TNI Kita 30 May 2026 17:29
Karakter keprajuritan, tergambar jelas dalam Sapta Marga dan Sumpah Prajurit: membela kebenaran dan keadilan, melindungi rakyat dan lain-lain.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Tentara Nasional Indonesia (TNI) khususnya Angkatan Darat (AD) akhir-akhir ini menjadi bulan-bulanan hujatan dan makian. Hal ini terjadi akibat kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto yang menempatkan TNI di berbagai bidang yang bukan menjadi ranahnya militer, seperti pertanian, perikanan, peternakan, dan lain-lain. TNI disalahgunakan seperti yang pernah terjadi selama rezim Orde Baru.
Pengamat pertahanan dan keamanan Valens Daki-Soo, yang dimintai pendapatnya soal pelibatan TNI yang berlebihan di ranah sipil yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat belakangan ini mengatakan, pro kontra itu tentu perlu sebagai bagian dari dinamika dan dialektika.
Valens yang pernah menjadi staf Duta Besar Urusan Timor Timur FX Lopes da Cruz, staf khusus Waka Bais Mayjen TNI (Marinir) Rusdi, staf khusus Kepala BIN Letjen TNI Arie J Kumaat, staf khusus Wakil KSAD Letjen TNI Kiki Syahnakri, berpendapat, kita perlu terus membangun dan memperkuat profesionalisme militer kita. Profesionalisme militer itu terdiri dari kompetensi militer (military competence/skills) dan karakter keprajuritan (military character).
Kompetensi militer, kata Valens misalnya kemampuan menembak termasuk menembak runduk (sniper), bunuh senyap, bombing, rocketting, sabotase, demolisi di bawah air, perang hutan, perang kota, perang rawa-laut, dan sebagainya. Juga harus terus ditingkatkan apa yang disebuf sebagai Daya Gerak dan Daya Tembak TNI kita.
Karakter keprajuritan, jelas Valens, tergambar jelas dalam Sapta Marga dan Sumpah Prajurit: membela kebenaran dan keadilan, melindungi rakyat dan lain-lain. Profesionalisme militer juga ditandai kemampuan mengambil jarak bahkan sterilisasi dari politik praktis (politik demi kekuasaan).
"Itu yang kita mati-matian berjuang dan kawal sejak era reformasi disingkap. Jadi, janganlah lagi tentara ditarik-tarik ke ranah sipil. Janganlah politisi-politisi genit dan ambisius merayu-rayu TNI menceburkan diri lagi ke kolam politik praktis," kata pria yang pernah menjabat sebagai staf khusus Sesjen Wantannas Letjen TNI Doni Monardo dan staf khusus Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.
Ditambahkan Valens, terkait profesionalisme militer, yang seyogianya dibangun adalah kemampuan teknologi (termasuk teknologi robotik), modernisasi Alutsista (alat utama sistem kesenjataan), terutama tingkatkan secara serius Kuat Puan (kekuatan dan kemampuan) TNI AU dan TNI AL yang selama Orba tertinggal jauh.
"Sekarang kita boleh berharap dan optimis, karena modernisasi TNI AL dan AU sedang digenjot," ujar staf khusus tokoh Polri yang juga Pendiri Densus 88/Antiteror Polri Komjen Pol Gories Mere.
SoalĀ KetahananĀ Pangan
Menurut Valens, di seluruh dunia tidak ada militer yang dilibatkan dalam urusan ini. Tentara benar-benar hanya ditugaskan untuk siap-siaga berperang dan karena itu selalu berlatih dari hari ke hari.
Doktrin dasar militer universal adalah menegakkan kedaulatan negara, melindungi keselamatan rakyat dan menjaga keutuhan bangsa.
Pelibatan TNI dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP) pun diatur secara ketat. Misalnya dalam penanganan terorisme dan penanggulangan bencana alam.
"Jadi, jangan kita "mengarang bebas" dalam konteks ini. Belajar dan baca banyak buku tentang militer/pertahanan.
Tidak akan Anda temukan satu doktrin dan habitus militer seperti yang sekarang sedang kita lihat,"ungkap Valens.
"Saya mencintai TNI seperti saya begitu kuat mencintai republik ini. Jangan kita rusak TNI yang sudah bagus reformasi internalnya. Jangan kita nodai lagi reputasi TNI yang selama Orba dijadikan alat politik untuk memperkuat dominasi politik dan hegemoni di berbagai bidang,".
"Ya, saya dengar info A1 dari seorang jenderal senior di Jakarta bahwa pergerakan ini tidak lepas dari rencana ambisius demi politik ke depan. Sudah cukup TNI khususnya Angkatan Darat menjadi bulan-bulanan hujatan dan makian akibat disalahgunakan selama rezim Orde Baru," pungkas Valens.***
--- Simon Leya
Komentar