PERTAHANAN Valens Daki-Soo: Perkuat TNI AL dengan Teknologi Robotik dan Perbanyak Drone 14 Apr 2026 20:15
Menurut Valens, dalam konteks strategi perang mutakhir, pemanfaatan pesawat nirawak dan juga kapal selam tanpa awak jauh lebih efisien dan hemat biaya operasional, ketimbang terus-menerus mengandalkan kapal besar berawak.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Pengamat militer Valens Daki-Soo mengatakan, Indonesia harus memperkuat pertahanan, terutama pertahanan maritim, dengan meningkatkan teknologi robotik dan memperbanyak penggunaan pesawat/kapal nirawak (drone).
Hal itu diutarakan Valens kepada media, Selasa (14/4/2026).
"Berkaca pada perang Rusia melawan Ukraina dan terutama Amerika Serikat bersama Israel melawan Iran, kita petik pelajaran bahwa kemampuan berperang secara konvensional tidak lagi memadai. Benar bahwa kekuatan darat tetap diperlukan, namun fakta aktual dari perang di Iran menunjukkan serangan udara dan laut sudah mampu meluluh-lantakkan lawan," ujar Valens.
Menurut Valens, sudah saatnya TNI Angkatan Laut (TNI AL) lebih memfokuskan strategi pengamanan laut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan menggunakan teknologi robot canggih. Penggunaan pesawat dan kapal tanpa awak atau "drone" akan lebih efisien dan efektif dalam menjaga wilayah perairan Indonesia yang sangat luas.
Sebelum dikenal sebagai pengamat militer, Valens Daki-Soo lama berkiprah di lingkungan TNI dan Polri. Ia pernah berturut-turut ataupun meerangkap sebagai staf khusus Wakil Kepala Bais TNI Mayjen TNI (Marinir) Rusdi, staf khusus Kepala BIN Letjen TNI Arie J Kumaat, Wakil KSAD Letjen TNI Kiki Syahnakri, dan juga staf khusus Komjen Pol Gories Mere (tokoh intelijen dan keamanan, pendiri Densus 88/Antiteror Polri).
Valens juga dikenal dekat dan secara konseptual membantu Panglima TNI era JenderaI Gatot Nurmantyo, Letjen TNI Doni Monardo dan kalangan militer lainnya.
Idealnya 300 Kapal Perang
Merujuk pada pernyataan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali, Valens mengatakan secara ideal TNI AL perlu memiliki setidaknya 300 kapal perang, mengingat luasnya wilayah perairan Indonesia.
"Tidak semua kapal perang harus berukuran besar dan mahal seperti fregat dan destroyer. Fokus kita hari ini dan ke depan perlu dialihkan pada pengadaan kapal-kapal patroli kecil yang lincah untuk menjaga selat-selat sempit dan kawasan pesisir, serta diperkuat oleh sistem robotik yang bisa bekerja secara otomatis tanpa perlu banyak personel di lapangan," kata Valens.
Menurutnya, dalam konteks strategi perang mutakhir, pemanfaatan pesawat nirawak dan juga kapal selam tanpa awak jauh lebih efisien dan hemat biaya operasional, ketimbang terus-menerus mengandalkan kapal besar berawak.
Ia melanjutkan, ada tiga jenis "robot laut" yang akan menjadi tulang punggung pengawasan maritim masa depan. Pertama, robot permukaan air untuk patroli rutin (USV), drone udara untuk memantau situasi dari langit (UAV), serta robot bawah laut yang bertugas mendeteksi ancaman tersembunyi seperti kapal selam asing atau ranjau (UUV).
Kombinasi Strategis
Valens melanjutkan, nantinya akan terjadi kombinasi strategis antara kelincahan kapal patroli kecil dan kecanggihan drone untuk menjangkau perairan dangkal yang sulit diakses oleh kapal perang berukuran besar seperti korvet, fregat dan apalagi destroyer.
Kehadiran armada robotik ini tidak akan menggantikan, melainkan menjadi "asisten pintar" yang melengkapi kekuatan kapal tempur utama yang sudah ada, seperti KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, juga empat unit Fregat Merah Putih yang sedang dibangun.
"Dengan demikian, pertahanan termasuk fungsi pengawasan maritim kita akan menjadi lebih ketat, modern, dan tidak memakan biaya yang terlalu besar namun tetap efektif dalam menghalau setiap ancaman yang masuk ke wilayah kedaulatan NKRI," pungkas Valens.
--- Guche Montero
Komentar