Breaking News

HANKAM Pengamat Militer Valens Daki-Soo: Dalam Era Perang Modern, Kita Mesti Terus Modernisasi TNI AL dan AU 06 Mar 2026 10:15

Article image
Valens Daki-Soo. (foto: ist)

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Memasuki era perang modern yang bercirikan "multi-domain operation" (darat, laut, udara, siber, dan ruang angkasa) serta penggunaan teknologi super canggih, Indonesia mesti terus melakukan modernisasi TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara. 

Hal itu disampaikan pengamat pertahanan dan keamanan Valens Daki-Soo kepada media, Jumat (6/3/2026). 

"Langkah modernisasi pertahanan laut dan udara kita sangatlah krusial. Negara kita sebagai negara kepulauan terbesar harus mampu mengamankan wilayah laut dan udara dari ancaman global. Apalagi, berkaca pada perang Iran versus AS dan Israel saat ini, kita harus makin fokus dan serius membangun kekuatan TNI AL dan TNI AU," ujar Valens, seorang pengusaha yang bekerja di lingkungan TNI dan Polri sejak 1994.

Menurutnya, selama puluhan tahun kekuatan pertahanan laut dan udara kita tidak maksimal dibangun, karena pemerintahan Orde Baru lebih menekankan pembangunan kekuatan darat.

"Selama era Soeharto,TNI AL dan TNI AU seperti dianaktirikan. Soeharto lebih mengandalkan TNI AD yang dia politisasi demi kepentingan kekuasaan," lanjut Valens, staf khusus Wakil KSAD era Letjen TNI Kiki Syahnakri.

Penguatan TNI AL dan TNI AU 

Valens mengatakan, dalam memasuki era perang modern, matra laut dan matra udara harus diperkuat dan dimodernisasi secara optimal berdasarkan kajian atau analisis terhadap lingkungan strategis (Lingstra) yang amat dinamis dan diwarnai loncatan-loncatan teknologis.

Menurut Valens, salah satu prioritas di matra laut adalah penambahan armada kapal perang canggih dengan alutsista mutakhir dan Combat Management System (CMS) yang terintegrasi baik.

"Untuk penguatan TNI AL kita fokus pada peningkatan kemampuan fregat dan kapal selam. Setidaknya ada enam fregat terbaru yang sudah dan sedang dibangun baik oleh galangan kapal domestik maupun luar negeri. Begitu pula kapal selam, kita menanti dua Scorpene yang telah dibangun bekerja sama dengan Prancis," jelas Valens.

Di sisi lain, Valens yang juga staf khusus Kepala BIN era Letjen TNI Arie J Kumaat mengatakan, teknologi intelijen canggih harus kita adopsi untuk mengatasi kompleksitas ancaman termasuk di laut.

Sementara itu, Korps Marinir harus diperkuat dengan kemampuan pertahanan udara (Arhanud) yang lebih mumpuni, termasuk rudal pertahanan udara. Kendaraan amfibi perlu ditingkatkan dalam jumlah maupun bobot kecanggihannya.

Serentak dengan penguatan matra laut,TNI AU pun mesti diperkuat dari segala segi.

"Saya senang membaca berita bahwa KSAU Marsekal TNI Tonny Harjono menegaskan lima prioritas transformasi untuk menghadapi perang modern, termasuk modernisasi Alutsista untuk mewujudkan TNI AU yang ampuh," tutur Valens.

Misalnya, kekuatan udara Indonesia ditingkatkan dengan kedatangan jet tempur Dassault Rafale, di mana pengiriman tambahan dijadwalkan pada pertengahan 2026 setelah gelombang pertama peengiriman tiga jet tempur berat Rafale beberapa waktu lalu. Indonesia membeli 42 unit Rafale.

ModernisasTNI AU juga mencakup pengadaan pesawat angkut berat Airbus A400M. Ini vital untuk mobilitas cepat atau daya gerak pasukan dan segala perlengkapan militer.

TNI AU harus dan mampu bersiap menghadapi perang generasi kelima yang membutuhkan dan menuntut kecanggihan teknologi, kata Valens.

"Menghadapi perang modern, dituntut orkestrasi kekuatan multidomain, di mana koordinasi antar matra, khususnya laut dan udara, menjadi kunci.

Selain itu, para perwira TNI diwajibkan mendalami perang elektronik dan siber di era digital," pungkas Valens Daki-Soo.***

--- Sandy Javia

Komentar