TAJUK Pancasila: Konsensus Bersama 31 May 2017 08:53
31 Mei 1945, ada cerita indah tentang perbedaan pendapat yang tidak berujung kebencian. Berbeda bukan berarti menolak kehadiran orang lain.
SEBELUM kita rayakan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni, baiklah kita ingat hari ini: 31 Mei.
31 Mei 1945, Prof Soepomo sebagai salah satu dari tiga pengusul ahli diberikan kesempatan berpendapat tentang dasar-dasar Negara Indonesia dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Maka, dari Soepomo keluarlah lima dasar: Persatuan, Kekeluargaan, Keseimbangan lahir dan batin, Musyawarah dan Keadilan sosial. Gagasan negara yang ditawarkan Soepomo adalah gagasan negara integralistik. Artinya, negara harus mengutamakan kesatuan antara pemimpin dan rakyatnya. Dalam negara, semua keragaman harus lebur atas nama kesatuan Indonesia.
Kalau ditelaah, gagasan integralistik Soepomo merujuk pada gagasan pemikir besar abad 18 dan 19, yakni Spinoza, Adam Muller dan Hegel. Soepomo bahkan secara terang-terangan menyebut tiga nama itu di depan sidang BPUPKI.
Dalam negara integralistik, setiap warga negara dapat menyerahkan kedirian ataupun identitas kelompoknya bagi Negara. Perbedaan ditinggalkan, persatuan diutamakan. Rupanya Soepomo berusaha menentang invividualisme barat yang cenderung menekankan individu. Indonesia mengutamakan kesatuan dari pada martabat individu.
Walaupun gagasan Soepomo dikritik, baik oleh Soekarno dan anggota BPUPKI, Soepomo tetap diikutsertakan dalam keanggotaan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Ia bahkan terlibat dalam perancangan dan penyusunan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 secara lengkap.
Di situlah kita temukan bahwa Pancasila muncul sebagai konsensus bangsa. Para leluhur bangsa berbeda pendapat, tetapi bersepakat, lalu setia pada konsensus final yang melahirkan Pancasila.
31 Mei 1945, ada cerita indah tentang perbedaan pendapat yang tidak berujung kebencian. Berbeda bukan berarti menolak kehadiran orang lain. Berbeda menjadi titik awal menuju konsensus kebangsaan. Ini hanya muncul dari kedewasaan menghadapi pelbagai perbedaan yang ada.
Dengan demikian, dewasa dalam perbedaan biologis-sosiologis menjadi situasi kunci yang melahirkan Pancasila, dasar dan falsafah NKRI.
Mari kita junjung sikap dewasa dalam perbedaan.
Salam Redaksi IndonesiaSatu.co
Komentar