Breaking News

INTERNASIONAL Pasca Ratifikasi IE-CEPA, Kedubes RI di Swiss Akan Buka Kesempatan Magang 21 Mar 2021 14:17

Article image
Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein Prof Muliaman Hadad. (Foto: Rakyat Merdeka)
Diinformasikan, anggota EFTA, yakni Swiss, Lichstenstein, Norwegia, dan Islandia merupakan empat negara Eropa yang memiliki pendapatan per kapita paling tinggi.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein Prof Muliaman Hadad  mengatakan, tahun pertama setelah Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif atau Comprehensive Economic Partnership Agreement antara Indonesia-EFTA (IE-CEPA) diratifikasi, pihaknya akan membuka kesempatan 100 orang untuk magang di Swiss bagi generasi muda.

EFTA adalah singkatan dari European Free Trade Association yang beranggotakan Swiss, Lichstenstein, Norwegia, dan Islandia.

“Alumni Alsemat bisa memanfaatkan peluang ini, sehingga bisa magang di Swiss dan kembali lagi bekerja di Indonesia. Atau kalau jodoh, bisa ketemu perusahaan yang cocok di sini (Swiss),” kata Muliaman dalam diskusi virtual dengan sejumlah anggota Alumni Seminari Mataloko (Alsemat), Flores, Sabtu (20/3/2021) petang waktu Indonesia.

Diskusi virtual tersebut digagas oleh RD Stefanus Wolo Itu, imam praja asal Keuskupan Agung Ende, Flores, yang saat ini menjadi misionaris di Swiss.

Dijelaskan Muliaman, perjanjian tersebut ditandatangani pada akhir tahun 2018 di Jakarta. Mereka sepakat menyelesaikannya dalam koridor hukum di masing-masing negara menuju ratifikasi. Saat ini baru dua negara yang sudah meratifikasi perjanjian, yakni Norwegia dan Islandia. Swiss segera meratifikasi perjanjian pasca referendum 7 Maret 2021.

“Dan Indonesia, kemarin saya dengar Komisi VI DPR RI akan segara rapat untuk segera meratifikasi dan  membawanya ke Sidang Paripurna. Mudah-mudahan dalam masa sidang tahun ini juga  diharapkan Indonesia juga meratifikasi. Dengan demikian, kalau semua sudah diratifikasi, perjanjian ini sudah bisa berlaku,” ujar Muliaman.

Karena bersifat komprehensif, maka perjanjian tidak hanya mengatur masalah tarif yang bebas, tarif yang rendah, tapi juga mengatur terbukanya peluang untuk investasi, perlindungan intellectual property (hak cipta), pengembangan capacity building masing-masing lembaga, dan kesempatan untuk magang.

Menurut Muliaman, negosiasi perjanjian ini sudah berlangsung selama sembilan tahun. “Ketika saya datang memang masih gantung beberapa persoalan yang sepertinya sulit untuk diselesaikan tapi dengan dukungan semua pihak akhirnya tahap akhir dari perjanjian ini bisa diselesaikan secara tuntas. Dan tentu saja kita berharap akan ada manfaat. Kenapa kita setujui perjanjian ini, karena ada manfaat bagi kedua negara,” imbuhnya.

Muliaman mengatakan, menjadi pekerjaan besar kita karena perjanjian ini baru merupakan awal, perjanjian ini bukan tujuan. Tujuannya adalah kita ingin menyejahterakan masyarakat, agar ekonomi kita bisa bergerak.

“Jadi perjanjian ini kita syukuri karena bisa menjadi pintu pembuka ataupun memungkinkan kita memulai pekerjaan-pekerjaan rumah yang menurut saya perlu kita selesaikan,” tambah Muliaman.

Diinformasikan, anggota EFTA, yakni Swiss, Lichstenstein, Norwegia, dan Islandia merupakan empat negara Eropa yang memiliki pendapatan per kapita paling tinggi. Swiss misalnya, dengan jumlah penduduknya hanya 8 juta jiwa, pendapatan per kapita mencapai 100.000 dolar AS. Dan kemajuan dan inovasinya luar biasa. Swiss adalah negara yang selalu menduduki ranking pertama dalam Global Innovation Index.

“Ini yang perlu kita belajar dari negara ini,” tegas Muliaman.

Keunggulan Swiss

Swiss, ungkap Muliaman, memiliki keunggulan yang sudah proven. Yang pertama terkait dengan pendidikan dan keterampilan. Swiss terkenal dengan pendidikan vokasi. Semua negara melihat Swiss sebagai sumber pendidikan vokasi itu berlangsung. Jadi negara-negara berbahasa Jerman (Jerman, Austria, Swiss) adalah negara yang terkenal dengan pendidikan vokasi. Swiss banyak menjadi acuan di dunia karena memiliki kekhususan tertentu dalam bidang pendidikan vokasi.

Kedua, terkait dengan turisme, kontribusi wisata Swiss cukup signifikan, banyak sekali orang datang ke Swiss untuk tujuan wisata. Pengetahuan dan keterampilan mengelola wisata di Swiss sudah proven.

“Tadi saya dengar Romo Stef cerita banyak sekolah-sekolah perhotelan yang bagus, ini merupakan bagian dari sistem pariwisata yang sudah berkembang di Swiss,” ujar Dubes Muliaman.

Aspek ketiga yang sudah terbukti dalam sistem pembangunan di Swiss adalah aspek berkelanjutan (sustainability). “Di Swiss, segala sesuatu sustainable, transportasi yang sustainable, dan lain-lain. Mereka selalu mengedepankan aspek-aspek ini,” ungkapnya.

Ia menegaskan, sektor-sektor  tersebut yang sudah terbukti dan mesti menjadi perhatian kita agar kita bisa pelajari dan kita manfaatkan secara optimal.

--- Simon Leya

Komentar