Breaking News

INTERNASIONAL Presiden Trump Tegaskan Tidak Menggunakan Senjata Nuklir di Iran 24 Apr 2026 15:58

Article image
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (Foto: getty images)
Perang di Iran telah memicu krisis energi global setelah otoritas Teheran menutup total Selat Hormuz dan menyebabkan kapal-kapal tanker yang mengangkut minyak dan gas tidak dapat melintas.

WASHINGTON DC, IndonesiaSatu.co -- Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengeluarkan pernyataan mengenai potensi penggunaan senjata nuklir untuk menyerang Iran.

Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Kamis (23/4/2026, Trump menolak kemungkinan penggunaan senjata nuklir AS dalam konflik tersebut.

"Mengapa saya harus menggunakan senjata nuklir ketika kita telah menghancurkan Iran sepenuhnya tanpa itu?" ungkap Trump kepada awak media seperti disitir dari Reuters, Jumat (24/4/2026).

Ia menambahkan, senjata nuklir seharusnya tidak pernah diizinkan untuk digunakan oleh negara mana pun.

Ia juga mengatakan Iran mungkin telah mengisi ulang persenjataannya "sedikit" selama gencatan senjata dua minggu, tetapi ia menegaskan bahwa AS dapat menghancurkannya dengan cepat.

"Angkatan laut mereka telah hancur. Angkatan udara mereka telah hancur, pertahanan anti-pesawat mereka telah hancur. Mungkin mereka sedikit menambah persenjataan selama jeda dua minggu, tetapi kita akan menghancurkannya dalam waktu sekitar satu hari jika mereka melakukannya," imbuh Trump.

Ia menekankan bahwa AS memiliki komitmen kuat untuk menciptakan "kesepakatan terbaik dan abadi”.

Pada 7 April lalu Trump mengancam akan menghancurkan Iran hingga "seluruh peradaban akan mati dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali”.

Pernyataan tersebut dianggap sebagai ancaman penggunaan senjata nuklir terhadap Iran. Akan tetapi, Trump kemudian menyetujui gencatan senjata yang telah diperpanjang hingga saat ini.

Pekan lalu Trump ditengarai mencoba mengakses kode nuklir dalam sebuah pertemuan darurat di Gedung Putih. Namun upaya Trump dihentikan oleh seorang pejabat militer senior AS dan sempat memicu pertengkaran di ruang rapat.

Sementara itu, perang di Iran yang berlarut-larut hingga saat ini telah memicu krisis energi global setelah Teheran menutup total Selat Hormuz dan menyebabkan kapal-kapal tanker yang mengangkut minyak dan gas tidak dapat melintas.

Konfllik tersebut memicu kenaikan harga minyak secara signifikan yang berdampak pada perekonomian dunia.

Terkini, Trump berupaya menekan Iran untuk melakukan negosiasi dan menyetujui syarat yang diberikan AS, namun Teheran tetap menolak dan mengajukan tuntutan mereka sendiri yang wajib dipenuhi oleh AS.

 --- Aprilio G.