Breaking News

REGIONAL Penari Manggarai Juarai Festival Tarian Daerah NTT 24 Oct 2017 10:45

Article image
Tarian Manggarai dengan gaya kolaborasi tarian Ngkiong dan Lodok. (Foto: Guche Montero)
Kelenturan dan liukan tubuh mereka menyerupai gerakan burung hutan Manggarai, Ngkiong (Pachychepala nudigula). Juga formasi membentuk sawah jaring laba-laba atau lodok dalam istilah Manggarai.

KUPANG, IndonsiaSatu.co -- Penari asal Manggarai berhasil menjuarai festival tarian daerah NTT yang digelar di Taman Nostalgia Kupang, Minggu (22/10/17) malam WITA.
Acara ini digelar dalam rangka menyongsong perayaan Dies Natalis ke-54 tahun berdirinya Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang pada Rabu (25/10/2017) mendatang.

Tampil dengan gaya kolaborasi tarian Ngkiong dan Lodok, para penari asal Manggarai yang beranggotakan Stefania Astini Ehok, Serafina Prara Seber, Mariana Delasastri Ragat, dan Maria Sulastri Jehunut berhasil mencuri perhatian para dewan juri sehingga berhak menjadi juara dari delapan kelompok tari yang tampil pada festival tersebut.

"Persiapan kami hanya empat hari dan kami sangat kesulitan. Namun kami tetap optimis dan berjuang menampilkan yang terbaik. Hasil ini merupakan suatu kebanggaan sekaligus motivasi untuk mencintai budaya daerah Manggarai pada khususnya dan NTT pada umumnya. Kami bangga dan puas," kata Stefania Ehok.
Keempat penari tersebut berhasil menampilkan kolaborasi tarian khas Manggarai, Ngkiong dan Lodok.

Kelenturan dan liukan tubuh mereka menyerupai gerakan burung hutan Manggarai, Ngkiong (Pachychepala nudigula). Juga formasi membentuk sawah jaring laba-laba atau lodok dalam istilah Manggarai.

Ada pun kedelapan kelompok tari yang ikut dalam festival tersebut yaitu Ngada, Ende yang membawakan tarian Wanda dan Gawi, Flores Timur dengan Tarian Sili, Nagakeo dengan tarian kolaborasi Bebi dan Dero, Manggarai dengan kolaborasi Tari Ngkiong dan Lodok, Sumba dengan tarian kreasi Kandingang, Kabokang, Panapang Baru dan Tenun, serta kelompok tari STIPAS Kupang yang membawakan tarian dari Belu.

Ketua dewan juri, Agus Beda Ama memberikan catatan kritis terhadap kedelapan kelompok penari yang tampil pada malam itu.

"Seorang penari harus bisa membedakan tari pergaulan menjadi tari pertunjukan. Kebiasaan kita masih menampilkan tari pergaulan, padahal jika pentas maka anda perlu memainkan konsep tari pertunjukan," kata Agus.

Sementara ketua panitia pelaksana, Ignatia Sakera kepada IndonesiaSatu.co mengatakan, pagelaran festival budaya NTT dalam rangka perayaan dies natalis ke-54 PMKRI cabang Kupang bertujuan untuk menumbuhkan spirit kaum muda NTT dalam melestarikan dan mencintai khazanah budaya NTT sebagai ciri khas dan jati diri budaya yang unik dan beragam di tengah arus globalisasi.

"Arus globalilasi telah menjerumuskan kaum muda pada khususnya dalam sebuah kondisi di mana generasi muda mulai melupakan budaya daerahnya. Diharapkan kegiatan bernuansa budaya ini menyadarkan kaum muda agar jangan melupakan budaya dari daerah asal," ungkap Ignatia.

Mahasiswi FKIP Undana yang juga aktivis PMKRI Cabang Kupang ini mengharapkan agar festival ini tidak semata pertunjukan seni untuk memperoleh juara, melainkan dapat menumbuhkan nilai cita rasa dan kecintaan pada budaya daerah.

"Diharapkan anak muda NTT tidak terpengaruh dengan budaya asing yang dapat merusak citra budaya daerah. NTT kaya akan nilai dan kearifan budaya lokal dari setiap kabupaten. Semoga festival ini menjadi wahana promosi tarian-tarian daerah agar lebih dikenal oleh seluruh kalangan masyarakat. Semoga kegiatan seperti ini terus diselenggarakan dengan didukung oleh stakeholders terkait baik pemerintah, LSM maupun pegiatan seni dan budaya," harapnya.

--- Guche Montero

Komentar