Breaking News

REFLEKSI Popularitas Sesaat Bukan Fondasi Sukses yang Kuat 16 Jun 2024 18:06

Article image
Ilustrasi. (Foto: Adobe)
Pribadi yang matang selalu sadar, tak pernah ada orang yang sukses sendirian. Kita hanya hanya bisa sukses dalam kebersamaan.

Oleh Valens Daki-Soo

Kokoh-rapuhnya sebuah bangunan ditentukan oleh seberapa kuat fondasi atau dasarnya. Jika Anda membangun rumah, niscaya Anda meminta para tukang memperkuat fondasinya, agar kediaman Anda kuat, aman, nyaman dan bertahan lama.

Soal fondasi sukses, bangunan rumah adalah analogi yang pas. Tak ada 'bangunan' sukses yang langgeng yang ditegakkan di atas alas yang rapuh. Itu sebabnya, kita sering saksikan -- atau mungkin mengalami sendiri -- betapa kerap para "bintang dadakan" cuma bersinar sesaat di langit tinggi, lalu redup, sirna, menghilang tanpa jejak prestasi.

Masih ingat kisah seorang anggota Brimob yang keluar dari korpsnya karena terpikat pada panggung hiburan? Dia sempat menggebyar di jagat maya, seolah bakal tampil sebagai magnet baru di blantika musik. Namun, setelah sempat laris manis di layar kaca yang gegap-gempita, bintang itu lalu redup amat cepat. Tentu kita perlu angkat topi pada keuletannya setelah 'jatuh', kembali ke dunia nyata. Seperti diberitakan media, bersama istrinya dia berjualan bubur Manado, melanjutkan kehidupan dalam keseharian yang apa adanya. Dia hebat. Mentalnya cukup tangguh dan lentur untuk cepat beradaptasi dengan keadaan.

Contoh tersebut diangkat dalam refleksi ini karena mungkin cocok direnungkan dan dipetik hikmahnya.

Bagi seorang politisi, popularitas itu bisa merupakan berkat yang menguntungkan. Senayan, tempat para wakil kita berkantor, dihiasi sejumlah figur artis yang bermodalkan popularitas, selain uang tentu saja. Atau, contoh terbaik tentang kekuatan popularitas dalam mengusung figur seseorang menjadi pemimpin adalah "fenomena Jokowi". Pendatang baru di jagat perpolitikan nasional itu bisa meroket ke puncak kepemimpinan nasional, antara lain karena popularitasnya yang menjulang tinggi.

Namun, populer saja tidak cukup, apalagi popularitas yang cuma sesaat, sebagai fondasi kesuksesan berjangka panjang dan langgeng. Popularitas itu mesti diperkuat dengan kombinasi atau campuran berbagai kualitas pribadi. Seperti pasir harus dicampur dengan semen agar bisa menjadi unsur fondasi bangunan yang kuat, demikian pula popularitas perlu diaduk, dicampur dengan kemantapan karakter, kemampuan inteligensi, kepekaan nurani, ketajaman visi, daya inovatif, dan keberanian bertindak atau mengeksekusi kebijakan yang tepat.

Kembali pada kehidupan pribadi, saya -- dan kiranya Anda juga -- perlu selalu mawas diri, tak mudah terbuai oleh bujukan untuk meraih popularitas sesaat. Belajar dari kisah sejumlah bintang muda yang amat cepat bersinar gemilang, namun terlampau cepat pula redup dan buram, kita perlu memperkuat fondasi kehidupan dengan memantapkan kualitas diri, termasuk mutu hidup rohani, memelihara kedalaman relasi dengan Yang Ilahi, sekaligus membangun dan merawat interrelasi yang positif dengan sesama.

Pribadi yang matang selalu sadar, tak pernah ada orang yang sukses sendirian. Kita hanya hanya bisa sukses dalam kebersamaan.

Lalu, apa yang kira-kira bikin para bintang muda redup dengan cepat? Biasanya karena mental mereka belum sepenuhnya siap; belum punya 'mental pemenang', mental juara. Akibatnya mereka gugup dan gagap menghadapi persaingan keras. Faktor lain, sang bintang atau calon bintang sudah siap mental, namun manajemennya tak pandai membuka dan melempangkan jalan untuk menuai kesuksesan. Salah satu kelemahan yang umum terjadi, manajemen sering lebih sibuk membangun citra sendiri di depan publik, ketimbang menempa sang artis. Padahal, manajer profesional justru akan 'bersembunyi' di balik kesuksesan anak asuhannya.

Ini juga berlaku untuk presiden dan para pejabat lainnya, yang kerap justru "kalah bersinar" ketimbang para 'orang dekat' di lingkar terdalamnya. Kerapkali mereka justru lebih 'tampil kemilau' ketimbang sang pemimpin.

Baiklah. Semoga kita tak mudah terpesona pada/oleh popularitas yang cuma sesaat dan kadang bisa menyesatkan. ***

Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar