TRANSPORTASI Senator AWK dan Tokoh Diaspora NTT Sebut Pembangunan Bandara Mbay jadi Simpul Strategis Penanganan Bencana Flores 11 Sep 2026 15:29
Menurut AWK, keberadaan Bandara Mbay tidak hanya penting dalam konteks mitigasi dan penanganan bencana, tetapi juga memiliki nilai strategis bagi pertumbuhan ekonomi Flores.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Anggota DPD RI Angelius Wake Kako (AWK) dan sejumlah tokoh NTT Diaspora menyebut pembangunan Bandar Udara (Bandara) Mbay di Kabupaten Nagekeo, menjadi salah satu simpul strategis dalam penanganan bencana Gempa Flores maupun erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur (Floti).
Hal itu mengemuka dalam sesi Diskusi dan Dialog Interaktif yang digagas sejumlah tokoh NTT Diaspora di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Dalam sesi Diskusi, sejumlah tokoh NTT menilai konektivitas antar-wilayah menjadi salah satu kebutuhan urgent di tengah bencana gempa Flores maupun bencana erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.
Menurut mereka, ketika akses jalan terputus dan penerbangan terganggu, distribusi bantuan serta logistik kepada masyarakat terdampak ikut terhambat. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya memiliki jaringan transportasi yang mampu menjadi jalur alternatif dalam situasi darurat.
Nagekeo menjadi salah satu daerah di Flores yang hingga kini belum memiliki Bandara. Bencana gempa tektonik yang berpusat di Nagekeo pada 15 Agustus 2026 lalu membuat akses distribusi logistik dan mobilitas masyarakat hanya bergantung pada jalur darat dan jalur laut yang juga rentan akibat longsor maupun kerusakan infrastruktur.
Konektivitas Flores
Angelo Wake menegaskan bahwa Bandara Mbay tidak semestinya hanya dilihat sebagai kebutuhan Kabupaten Nagekeo, melainkan bagian dari sistem konektivitas Flores secara keseluruhan.
“Kita bicara tentang bandara untuk Flores, bukan hanya untuk kepentingan masing-masing kabupaten saja, tetapi bagi Flores sebagai satu kesatuan. Itu berarti kita butuhkan bandara yang besar,” ungkap Senator AWK.
Senator asal Ende itu mengatakan bahwa Flores membutuhkan simpul transportasi udara yang dapat menjadi alternatif ketika bandara lain mengalami gangguan akibat bencana.
“Masuk dari Labuan Bajo, keluar dari Maumere, misalnya. Namun, sudah dua tahun ini erupsi Gunung Lewotobi berdampak pada jalur penerbangan ke Bandara Frans Seda, Maumere. Alternatifnya adalah bandara baru di Mbay,” ujarnya.
Menurut AWK, keberadaan Bandara Mbay tidak hanya penting dalam konteks mitigasi dan penanganan bencana, tetapi juga memiliki nilai strategis bagi pertumbuhan ekonomi Flores.
Bandara tersebut dinilai dapat memperkuat konektivitas antar-wilayah, memperlancar mobilitas masyarakat, membuka akses investasi, serta mendukung distribusi barang dan jasa.
"Gempa bumi dan erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali sistem transportasi udara Flores yang berada di kawasan cincin api atau ting of fire," imbuhnya.
Dalam diskusi tersebut, Justino Djogo yang berkecimpung dalam industri dirgantara Habibie Aerospace juga menekankan pentingnya evaluasi terhadap rencana pembangunan Bandara Mbay.
“Gempa dan erupsi Gunung Lewotobi membuat kita harus berpikir ulang atau mereview khusus soal transportasi udara Flores di wilayah Ring of Fire. Tentu saya pun harapkan agar Pemda Nagekeo menyikapi serius, karena soal lahan bandara selama ini masih menemukan kendala karena beririsan dengan lokasi pembangunan Brigif. Apakah kita perlu memikirkan lokasi baru, tentu sangat realistis,” kata Justinian.
Persoalan lahan menjadi salah satu tantangan utama dalam rencana pembangunan Bandara Mbay.
Ketua Ikatan Keluarga Besar Nagekeo (IKBN), Marsel Ado Wawo, mengingatkan agar pembangunan bandara tidak sampai mengorbankan lahan pertanian produktif milik masyarakat.
“Pemda Nagekeo diharapkan mencari lokasi yang mumpuni dan tidak mengorbankan lahan sawah produktif masyarakat petani. Bisa area Anakoli, Munde, dan lainnya,” ungkap Marsel.
Sementara itu, Justino menilai evaluasi lokasi perlu dilakukan secara menyeluruh. Selain mempertimbangkan luas dan kelayakan lahan, pembangunan bandara harus disinkronkan dengan infrastruktur pendukung lainnya.
“Kita akan melakukan review terkait pembangunan bandara untuk Flores di Mbay agar selain lokasi baru yang lebih luas namun juga sinkronisasi dengan infrastruktur lain,” ungkapnya.
Pelajaran dari Bencana
Wacana pembangunan Bandara Mbay bukan merupakan gagasan baru. Aspirasi mengenai pembangunan bandara tersebut sebelumnya juga sempat disampaikan masyarakat ketika Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke Mbay.
Namun, rangkaian bencana yang terjadi di Flores kembali memberikan alasan kuat untuk meninjau secara serius kebutuhan tersebut.
Bandara Mbay dinilai tidak semata-mata menjadi proyek transportasi bagi Kabupaten Nagekeo, tetapi dapat ditempatkan sebagai bagian dari strategi membangun sistem konektivitas Flores yang lebih tangguh menghadapi bencana sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Bagi Flores, Bandara Mbay bukan sekadar proyek transportasi. Ia adalah pilihan untuk mempercepat bantuan saat bencana dan mempercepat pertumbuhan ekonomi saat keadaan normal,” ujar Marsel.
Diskusi tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh diaspora NTT, di antaranya Abraham Runga Mali, Yustin Djuang, Gusti Tetiro, dan Konrad Wawo.
--- Guche Montero
Komentar