Breaking News

INTERNASIONAL Sentimen Geopolitik: Negosiasi Nuklir Buntu, Wapres JD Vance Sebut Iran Tolak Syarat Washington 13 Apr 2026 09:47

Article image
Perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu (12/4/2026).
"Iran telah memilih untuk tidak menerima syarat kami. Saya pikir itu kabar buruk bagi mereka, jauh lebih buruk dibandingkan bagi Amerika Serikat," ujar Vance sebelum bertolak kembali ke Washington

ISLAMABAD, IndonesiaSatu.co – Harapan pasar global untuk melihat deeskalasi konflik di Timur Tengah kembali meredup setelah perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu (12/4/2026).

Pembicaraan maraton yang berlangsung selama lebih dari 21 jam tersebut merupakan kontak tingkat tinggi pertama sejak Revolusi Islam 1979 dan terjadi di tengah pecahnya perang enam minggu terakhir. Delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa Teheran menolak syarat-syarat krusial yang diajukan Washington.

"Iran telah memilih untuk tidak menerima syarat kami. Saya pikir itu kabar buruk bagi mereka, jauh lebih buruk dibandingkan bagi Amerika Serikat," ujar Vance sebelum bertolak kembali ke Washington, dikutip dari Time Magazine.

Titik Temu yang Sulit: Nuklir dan Selat Hormuz

Kegagalan negosiasi ini terutama dipicu oleh dua isu fundamental yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dunia:

  • Senjata Nuklir: AS menuntut komitmen tegas dari Iran untuk menghentikan total pengembangan senjata nuklir sebagai syarat mutlak perdamaian.

  • Blokade Selat Hormuz: Iran tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, jalur yang melintasi 20% pasokan minyak dunia. Sejak perang dimulai, blokade di wilayah ini telah memicu volatilitas harga energi global.

Di sisi lain, Teheran mengajukan proposal 10 poin yang mencakup pencabutan sanksi ekonomi, pembebasan aset yang dibekukan, serta hak pengayaan uranium untuk tujuan damai. Iran juga menuntut penghentian serangan Israel di Lebanon sebagai bagian dari paket kesepakatan.

Ketegangan Militer dan Posisi Keras Trump

Meski gencatan senjata dua pekan sempat disepakati untuk ruang diplomasi, situasi di lapangan tetap panas. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi pergerakan kapal perang untuk membuka jalur perdagangan, sementara pihak Iran mengklaim telah memukul mundur armada tersebut.

Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan tegas yang meremehkan hasil negosiasi tersebut. "Kami sedang membersihkan selat (Hormuz). Apakah kita mencapai kesepakatan atau tidak, itu tidak ada bedanya bagi saya," kata Trump.

Dampak bagi Pasar Komoditas

Buntunya perundingan ini diprediksi akan kembali menekan pasar komoditas, terutama minyak mentah. Blokade berkepanjangan di Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan pasokan ke pasar internasional. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa "pertempuran belum berakhir," mengisyaratkan bahwa tekanan militer terhadap kemampuan nuklir Iran akan terus berlanjut.

Hingga saat ini, dunia internasional masih menanti apakah ada ruang bagi negosiasi lanjutan sebelum masa gencatan senjata berakhir, mengingat tekanan global yang kian besar untuk mengakhiri konflik yang telah menelan ribuan korban jiwa ini. ***

--- Sandy Javia

Komentar