Breaking News

REGIONAL Sikka Krisis Air Bersih, Senator AWK Salurkan Bantuan untuk Warga Desa Wolomotong 10 Oct 2026 23:17

Article image
Warga Kabupaten Sikka, NTT sedang dilanda krisis air oleh karena kemarau panjang dan dampak bencana gempa. (Foto: Dok. Tim AWK)
"Kita berharap ada penanganan yang berkelanjutan, terutama terhadap sumber air dan infrastruktur penampungan yang mengalami kerusakan. Masyarakat membutuhkan kepastian akses terhadap air bersih, bukan hanya ketika ada bantuan,” ujar Mario.

MAUMERE, IndonesiaSatu.co-- Warga Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) sedang dilanda krisis air, sehingga sangat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti minum, memasak, mandi, hingga mencuci.

Krisis air yang diperparah oleh kemarau panjang dan dampak gempa Flores pada pertengahan Agustus 2026 itu membuat warga harus mencari air hingga ke kali dan menunggu berjam-jam untuk mendapatkan beberapa jerigen.

Merespon situasi tersebut, Anggota DPD RI, Angelius Wake Kako (AWK) langsung menyalurkan bantuan air bersih untuk warga di Desa Wolomotong, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka.

Perwakilan Anggota DPD RI, AWK, Mario WP Sina, mengatakan bantuan air bersih tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap warga yang sedang menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

“Air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Ketika warga mengalami kesulitan mendapatkan air, apalagi sampai berbulan-bulan, kondisi ini tentu membutuhkan perhatian dan kepedulian bersama. Bantuan ini diharapkan dapat sedikit meringankan beban warga Desa Wolomotong,” kata Mario, Sabtu (10/10/2026)

Menurut Mario, persoalan air bersih yang dialami warga tidak boleh dipandang sebagai masalah biasa. Ketersediaan air sangat menentukan keberlangsungan aktivitas rumah tangga, terlebih ketika sumber air semakin terbatas.

Ia berharap bantuan tersebut dapat membantu warga melewati masa sulit. Dirinya juga mendorong adanya penanganan yang lebih berkelanjutan terhadap sumber air dan infrastruktur penampungan yang mengalami kerusakan.

“Kita berharap ada penanganan yang berkelanjutan, terutama terhadap sumber air dan infrastruktur penampungan yang mengalami kerusakan. Masyarakat membutuhkan kepastian akses terhadap air bersih, bukan hanya ketika ada bantuan,” ujarnya.

720 KK Terdampak Krisis Air

Kepala Desa Wolomotong, Sergius Sareng, mengatakan kondisi krisis air bersih yang paling parah telah berlangsung sekitar tiga bulan dan berdampak terhadap lebih dari 720 Kepala Keluarga (KK), dengan jumlah penduduk lebih dari 2.000 jiwa.

“Kalau kondisi yang paling parah ini sudah sekitar tiga bulan, sementara jalan bulan keempat. Ini terjadi di satu dusun, Desa Wolomotong secara keseluruhan berdampak air bersih,” kata Sergius.

Ia menjelaskan, pemerintah desa sebelumnya telah menyurati Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka untuk meminta bantuan. Namun, hingga bantuan dari perwakilan Senator AWK tiba, pemerintah desa belum menerima balasan atas surat tersebut.

“Sementara kami buat surat ke BPBD tetapi belum ada balasan. Yang bantuan ini baru dari Palang Merah Indonesia. Dan hari ini dari anggota DPD RI, Angelius Wake Kako. Kami berterima kasih karena sudah memperhatikan masyarakat di Desa Wolomotong dengan memberikan bantuan air,” ujarnya. 

Menurut Sergius, pasokan air tersebut sangat berarti bagi warga yang selama ini harus bersusah payah mencari air untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Warga Harus Berjalan Kaki Sejak Pukul 04.00

Kesulitan mendapatkan air bersih juga dirasakan Maria Etrovia Nona Erni, warga RT 10 Desa Wolomotong. Ia mengaku harus bangun dan pergi mencari air sejak sekitar pukul 04.00 pagi agar bisa mendapatkan persediaan untuk kebutuhan rumah tangga.

Dalam sekali mengambil air, Maria bersama warga lainnya dapat menghabiskan waktu sekitar dua jam. Mereka berjalan kaki sambil membawa sejumlah jerigen berukuran lima liter.

“Jam empat sudah ramai. Satu orang dengan lima, enam jerigen itu lumayan,” tutur Maria saat menceritakan kondisi warga yang setiap hari harus mencari air.

Menurutnya, kegiatan mencari air tersebut sudah berlangsung sejak Juli 2026. Warga harus mengatur waktu agar kebutuhan air di rumah tetap terpenuhi, meskipun mereka juga memiliki pekerjaan dan aktivitas lain.

Ia menuturkan, persoalan tidak berhenti pada kebutuhan air minum dan memasak. Untuk mandi dan mencuci, warga terpaksa memanfaatkan kubangan-kubangan air yang masih tersisa di kali.

"Kami harus membagi waktu dan tenaga untuk memperoleh air. Bahkan, anak-anak turut menemani orang tua mencari air sejak pagi, sebelum menjalani aktivitas sekolah," pungkas Maria.

--- Guche Montero

Komentar