SASTRA Srikandi dari Timur Jawadwipa Menuju Kotaraja, Gugur di Palagan Kurusetra (?) 11 Aug 2016 06:35
Masa pemilihan sedang melahirkan gundah-gulana di hati Bhisma pun Srikandi. Bhisma menyadari hari-hari akhirnya. Srikandi menyadari kemuliaan yang kan didapatnya, tapi sekaligus akhir dari kiprahnya.
Oleh Hancel Goru Dolu
BHISMA Yang Agung tak terkalahkan di setiap pertempuran, mashyur sebagai ksatria pilih tanding. Tak terhitung raja dan pangeran yang takluk oleh kepandaian dan sabetan senjatanya. Ditambah fakta dalam dirinya mengalir darah Dewi Gangga. Seolah menghembuskan keyakinan bahwa langit pun turut menyangganya. Dia adalah manusia unggul, jauh sebelum Nietzsche dengan Übermensch-nya lahir. Karena itu, Bhisma dihormati para kawan dan disegani lawan-lawannya. Semesta memperhitungkan dirinya.
Sampai akhirnya tibalah pada suatu masa. Perhelatan akbar tuk memilih pemimpin di Kotaraja akan dimulai. Posisinya sebagai pegampu estafet kepemimpinan sementara, akan kembali diadu dengan ksatria lain dalam sayembara lima tahunan. Meski begitu, dengan segala bakat dan pengalamannya, dia menjadi tokoh yang paling diunggulkan. Untuk kembali memenangkan pertempuran, tentu saja.
“Bhisma dibantu sembilan dewa yang menunggangi naga,” bisik seorang kawula.
“Dalam pakem pewayangan, tak ada dewa yang menunggangi naga,” balas seorang lainnya, masih dengan bisik-bisik.
“Kini ada. Sebab Garuda tunggangan Batara Guru telah lama moksa dan berganti menjadi mitos,” pembisik pertama menimpali.
Desas-desus tak ilmiah itu telah menjadi santapan pelengkap Giras-Giras, sebutan untuk kedai di daerah Hujung Galuh, wilayah di timur Jawadwipa yang sedang dipimpin Srikandi. Bisik-bisik memang sering tak rasional. Kebenarannya pun akhirnya hanya seluas jangkauan pendengaran, dianggap angin lalu. Meski kadar isiannya tak berbeda jauh dengan kaum cerdik pandai yang sering mengingatkan adanya black market of power, pasar gelap kekuasaan.
Desas-desus itu makin kencang. Sebab telah lama berkembang tentang ramalan akan purnanya kedigdayaan seorang Bhisma di tangan seorang ksatria perempuan reinkarnasi Dewi Amba. Amba, perempuan jelita bermulut api yang pernah ditolak cintanya serta tanpa sengaja dibunuh Bhisma. Srikandi dengan segala perangai dan peran yang telah dimainkannya, sontak menggali memori kolektif publik tuk mengenang sumpah Amba.
“Aku akan datang menjemputmu di Kurusetra, kala Bharatayudha terjadi kelak,” bisik-bisik di Giras kembali dimulai, menirukan ucapan dewi yang dibunuh Bhisma itu.
“Apakah Amba dibunuh di hadapan Teuku Umar?” kembali seorang menimpali sekenanya.
“Teuku Umar di Serat berbeda,” seseorang protes.
“Arjuna telah lebih dahulu bergerak ke Kotaraja, menjadi pelaksana tugas memimpin padepokan milik Ibu Kunti,” pembisik pertama melanjutkan, tanpa menghiraukan rekan-rekannya.
Seisi Giras lalu menoleh, ingin turut mendengarkan. Mungkin memang begitu, yang tak ilmiah, seringkali lebih menarik. Seorang Filosof tak terkenal pernah dengan enteng berkata, “Tak ada yang ilmiah di hadapan kekuasaan, lalu untuk apa kalian menghabiskan hidup yang maha indah ini dengan hal-hal yang tak perlu diseriusi?”
Di lain pihak, Srikandi telah mengetahui takdir yang digariskan para dewa. Bhisma hanya bisa mangkat dengan dua cara. Pertama, kalau dia memang ingin mangkat; kedua, kala dia berhadapan dengan reinkarnasi Amba. Betapapun Bhisma sebenarnya didukung penuh oleh Prabu Drestarasta, sang penguasa negeri. Srikandi cuma perlu sokongan Ibu Kunti, didampingi Arjuna dan dalam pengawasan sang pandai api bernama Khrisna.
Duta dari berbagai padepokan telah mulai menambah statistik bisik-bisik di ruang-ruang diplomasi. Aneka konsolidasi mulai digalakkan. Rontal-rontal riuh-rendah meramaikan berita ke seluruh penjuru negeri. Kotaraja sekali lagi akan menyuguhkan pertarungan para petinggi negeri.
“Ini bukan pertarungan Bhisma dan Srikandi, juga bukan tentang Kunti melawan Drestarasta!” pembisik memulai lagi.
“Apakah Arjuna melawan Karna?” seorang dari pojokan antusias berseru.
“Bima menuntaskan dendam pada Duryudhana?” si pendengar awal, kembali tak ketinggalan.
Saat itu fajar telah mulai terbit di ufuk timur, penanda para pelanggan Giras dengan pelbagai latar belakang itu harus bergegas menjemput kenyataan. Sebelum meninggalkan Giras, si pembisik masih sempat berucap. Kali ini bisik-bisik seakan telah terakumulasi jadi sebuah perkataan, “Srikandi sedang menanti kehadiran Khrisna, yang sedang dirayu Arjuna. Bhisma kan berhasil dibunuh. Tapi Aswatama, putera sang Mahaguru Drona, akan datang membunuh Srikandi di gelapnya Kurusetra.”
Begitulah. Masa pemilihan sedang melahirkan gundah-gulana di hati Bhisma pun Srikandi. Bhisma menyadari hari-hari akhirnya. Srikandi menyadari kemuliaan yang kan didapatnya, tapi sekaligus akhir dari kiprahnya. Seperti Achiles di masa perang Troya, mendapat kemuliaan sekaligus kematian di medan perang.
Srikandi masih punya pilihan. Dia tak perlu pergi ke Kurusetra, cukup di Hujung Galuh saja. Hidup bahagia meski tak dikenang sebagai Srikandi yang abadi.
*) Mahasiswa, Penikmat Sastra, Kontributor IndonesiaSatu.co. Tinggal di kota Surabaya.
Komentar