REGIONAL Taman Doa Bukit Fatima, Destinasi Wisata Religius ‘Kota Reinha’ 04 Nov 2017 18:20
Taman Doa Bukit Fatima bukan hanya menjadi simbol bangunan fisik semata, melainkan harus menumbuhkan semangat religius melalui toleransi antar-umat beragama, solidaritas dan perdamaian serta kekeluargaan yang harmonis.
LARANTUKA, IndonesiaSatu.co-- Larantuka sebagai Ibukota kabupaten Flores Timur dikenal sebagai kota ‘Reinha Rosari.’ Sebutan itu identik dengan ritual keagamaan umat Katolik setempat, secara khusus penghormatan kepada Bunda Maria (Tuan Ma) yang dikenal dengan prosesi tahunan ‘Semana Santa’ setiap Jumat Agung menyambut Hari Raya Paskah bagi umat Katolik.
Kuatnya pengaruh tradisi Portugis di daerah tersebut berdampak pada pembangunan sejumlah tempat rohani termasuk berdirinya tarekat religius Susteran Puteri Reinha Rosari (PRR) yang didirikan oleh Uskup Pertama, Mgr. Gabriek Manek.
Di tengah wacana pembangunan infrastruktur di berbagai sektor oleh pemerintah daerah setempat, Masyarakat (umat) Flores Timur dengan penuh antusias menyambut seremoni peresmian Taman Doa Bukit Fatima San Dominggo sebagai aset destinasi religius.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Luhut Binsar Panjaitan dalam rangkaian kunjungan kerja ke Nusa Tenggara Timur (NTT), berkesempatan meresmikan Taman Doa Bukit Fatima San Dominggo tersebut. Acara peresmian ini dilakukan bertepatan dengan peringatan 100 tahun penampakan Bunda Maria Fatima.
“Taman Doa Bukit Fatima ini memang merupakan tempat yang sangat tenang bagi masyarakat atau umat setempat maupun pendatang untuk berdoa. Diharapkan Taman Doa ini menjadi destinasi wisata rohani bagi para wisatawan selain potensi wisata yang lain di daerah ini. Pemerintah Daerah perlu mendukung hal ini sebagai salah satu destinasi wisata religius,” kata Menteri Luhut lewat siaran pers yang disampaikan Biro Humas Pemprov NTT, Selasa (31/10).
Semangat Toleransi
Selain menjadi salah satu destinasi rohani, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya mengharapkan agar kehadiran Taman Doa Bukit Fatima menjadi simbol toleransi untuk menciptakan kerukunan, perdamaian dan kekluargaan sebagai suatu persekutuan di antar-umat beragama.
“Taman Doa Bukit Fatima bukan hanya menjadi simbol bangunan fisik semata, melainkan harus menumbuhkan semangat religius melalui toleransi antar-umat beragama, solidaritas dan perdamaian serta kekeluargaan yang harmonis. Terobosan ini mempunyai nilai strategis untuk menjaga dan menumbuhkembangkan kehidupan umat di Larantuka sebagai tempat yang damai bagi semua. Potensi di Flores Timur harus di tumbuhkembangkan, nilai Religius harus benar-benar dijaga sekaligus sebagai obyek wisata rohani di FloresTimur,” ungkap Lebu Raya.
Senada dengan Gubernur Lebu Raya, Bupati Flores Timur, Anton Gege Hajon pada kesempatan itu mengharapkan agar Taman Doa Bukit Fatima sungguh dimanfaatkan sebagai aset wisata religius, tidak hanya bagi umat setempat melalinkan bagi semua.
“Semoga kota Larantuka, Flores Timur tetap menjadi ikon kota ‘Reinha’ dengan tradisi religius yang kuat. Kita patut bersyukur bahwa semua tradisi rohani ini berkat sejarah panjang kurang lebih lima abad yang lalu. Sejak masuknya Portugis ke wilayah ini, masyarakat Flores Timur mulai menganut Agama Katolik hingga menyebar ke pulau Solor, Adonara dan Larantuka,” ujar Bupati.
Ia menandaskan bahwa semangat toleransi dan solidaritas antar-umat beragama dan lintas-suku sudah terbangun sejak dahulu hingga sekarang. Hal itu diharapkannya agar tetap dijunjung tinggi dan dirawat bersama di tengah berbagai latar belakang perbedaaan.
“Semangat toleransi harus tetap dijunjung tinggi meski kita berbeda keyakinan agama baik Protestan, Hindu, Budha, Islam maupu Katolik. Kita harus hidup berdampingan secara damai, toleran, saling menghargai, mencintai dan bersaudara,” harapnya.
Selain Menko Luhut, hadir pada acara tersebut Staf Khusus Presiden RI Goris Mere, Gubernur dan Pemprov NTT, Bupati dan Wakil Bupati Flores Timur, Uskup Agung Ende, Uskup Bogor, Uskup Bandung, Uskup Larantuka, Ketua MUI Flores Timur, Kapolda NTT, para biarawan-biarawati serta seluruh masyarakat Flores Timur.
--- Guche Montero
Komentar