EKONOMI Tiga Pilar Utama Ekonomi Syariah Harus Didukung oleh SDM Kompeten 06 Mar 2026 13:21
Saat ini, sekitar 60 persen tenaga kerja di industri syariah justru berasal dari latar belakang ekonomi umum.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya optimal karena tantangan utama masih terletak pada kualitas sumber daya manusia (SDM).
Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University sekaligus Wakil Ketua Umum IAEI, Prof Irfan Syauqi Beik, menegaskan bahwa ekonomi syariah mencakup tiga pilar utama yaitu sektor riil (industri halal), sektor keuangan, dan sektor sosial (ziswaf).
”Ketiga sektor ini membutuhkan dukungan SDM yang kompeten dan berdaya saing agar dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujarnya.
Sebagai penggerak utama, sektor rill masih menghadapi gap yang signifikan antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga ahli.
Padahal, sektor industri halal seperti makanan, pariwisata, dan fesyen membutuhkan SDM dalam jumlah besar.
Di sektor keuangan syariah, tantangan daya saing masih membayangi lulusan murni ekonomi syariah. Saat ini, sekitar 60 persen tenaga kerja di industri syariah justru berasal dari latar belakang ekonomi umum.
Prof Irfan juga menyoroti bahwa meskipun Indonesia memiliki hampir 1.000 program studi ekonomi syariah, namun kuantitas tersebut harus diimbangi dengan penguatan kualitas dan pola pikir etis.
“Jumlah program studi ekonomi syariah sudah hampir 1.000, tertinggi di dunia, tapi harus diimbangi kualitas,” ujarnya.
Tanpa pembentukan pola pikir yang benar, akan muncul celah lebar antara teori akademis dan praktik di lapangan.
Optimalisasi sektor sosial, khususnya zakat dan wakaf, juga menjadi sorotan karena pengelolaannya belum maksimal.
Prof Irfan memaparkan bahwa aset wakaf produktif baru sekitar 9 persen. Padahal, jika dikelola dengan baik bisa menjadi sumber pendanaan yang luar biasa.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, ia mengusulkan kolaborasi triple helix antara kampus, industri, dan pemerintah. Kampus diharapkan bertransformasi menjadi produsen inovasi, pusat literasi publik, serta penggerak riset yang berdampak pada kebijakan nasional.
“Kampus harus menjadi produsen inovasi dan pusat literasi publik yang berdampak,” ujarnya.
Indonesia telah menjadi rujukan global dalam inovasi berbasis riset, seperti melalui model blended finance dalam cash waqf linked sukuk.
Prof Irfan meyakini bahwa dengan regulasi yang mendukung dan sinergi lintas kementerian, Indonesia mampu mendominasi pasar halal global yang saat ini masih dikuasai negara nonmuslim.
“Kita perlu konsolidasi dan sinergi untuk mengoptimalkan potensi pasar halal global. Dengan penguatan SDM yang kompeten dan tahan banting terhadap guncangan ekonomi, Indonesia tidak hanya akan menjadi pemain domestik, tetapi benar-benar menjadi episentrum perekonomian syariah dunia,” pungkasnya.*
--- F. Hardiman
Komentar